author-banner
Rara panda
Rara panda
Author

Novels by Rara panda

LYANA (Indonesia)

LYANA (Indonesia)

10
Namaku Lyana Andrea. Aku seorang gadis yang sebatang kara, bekerja untuk menghidupi sehari - hari. Tidak punya teman karena semua orang menganggap aku adalah anak pembawa sial. Selalu disalahkan untuk kesalahan yang tidak aku lakuin. Seiring berjalannya waktu, ada seseorang cowok yang hadir membawa kebahagian, luka, tangisan. Akankah hidupnya berjalan manis seperti namanya itu? Atau sebaliknya.
Read
Chapter: 6. Siapa Dia
Apa yang pernah kalian fikirkan semasa hidup kalian. Apa semuanya terbalas atau malah sebaliknya. Yah... tapi semua itu sudah terencanakan dengan yang di Atas. Semua yang menurut kalian baik belum tentu baik. Buktinya allah memberikan jalan yang benar yang ternyata bukan yang kalian pikirkan selama ini. Betul kan? Persis seperti hidupku. Yang awalnya aku pikir semuanya tak adil untukku tapi malah semua itu menjadi jalan hidupku menuju sebuah kedewasaan. Sekarang aku sudah tidak terlalu sakit lagi apa yang dicerca banyak orang. Karena menurutku percuma dibalas dan dimasukan ke hati. Semuanya masih sama kok, tidak ada yang peduli. Jadi percuma saja.*****Pagi menjelang, semua aktifitas kembali dilakukan. Terutama aku. Sejak jam 6 tadi, aku sudah berada di dalam sekolah. Waoww, pagi - pagi sekali. Aku hari ini ada jadwal piket jadi berangkatlah pagi. Dibanding teman - teman yang lain selalu berangkat siang walau ada jadwal piket ataupun tidak.**********Se
Last Updated: 2020-11-11
Chapter: 5. Kabar bahagia kah?
"Udah kok Mbak tadi sebelum berangkat kerja. Kalau Mbak sendiri bagaimana?""Bener, tumben. Apa ada sesuatu yang Mbak tidak ketahui? Sudah kok Dek." Mbak Thata memicingkan ke dua bola matanya heran. Tetap berusaha mencari kebohongan yang terselip dalam mataku itu. Aku tahu sekali maksud Mbak Thata itu apa. Biasanya aku tidak sempat sarapan karena pulang sekolah langsung ke sini. Jadi.... kalau misalkan aku sudah sarapan. Berarti ada yang tidak beres."Jujuro Dek, Mbak ingin tahu. Maaf kalau Mbak seakan tidak menghargai privasi kamu. Tapi, Mbak hanya ingin tahu itu aja. Kalau tidak mau ya udah tidak apa - apa."Aku menunduk seketika, apa iya aku harus jujur. Langkah apa yang harus aku lakukan? Aku menautkan jari jemariku, menandakan bahwa aku sedang gelisah. Kebiasaan yang sering aku lakukan jika sedang gelisah."-mamamaaf Mbak, aku tidak bisa cerita." Balasku kemudian. Aku lebih memilih begini daripada menceritakan semua yang terjadi. Karena aku belum s
Last Updated: 2020-10-03
Chapter: 4. Skors pertama
Oh ... ternyata, langkah kaki ku ini membawaku ke sebuah danau yang sangat indah. Aku terpaku sebentar melihat keindahannya. Aku baru kali ini melihat danau yang seindah ini. Pohon - pohon berdaun lebat di sisi kanan, kiri. Ada angsa putih di atas danau, langit berwarna jingga, burung - burung bertebangan di atas langit membentuk suatu formasi yang sangat indah. Aku berjalan pelan dan duduk di pinggi danau lalu menyemplungkan ke dua kaki di air danau. Tenang, airnya jernih kok. Sesaat aku merasa tenang. Nyanyian burung dan hembusan angin membuat perasaan ku menjadi lebih baik. Air mata yang keluar sudah berhenti, dan kering di pelupuk mata."Seandainya, aku bisa menjadi burung terbang bebas dan tidak terikat apa pun rasanya menyenangkan sekali." Ujarku sedikit menghayal jika aku menjadi seekor burung.****Malam menjelang, aku tetap pada posisi awal. Tidak beranjak sama sekali. Soal pekerjaan, aku sudah meminta izin untuk tidak bekerja satu hari. Aku sih sebenarnya
Last Updated: 2020-09-29
Chapter: 3. Karena kotak merah
Pagi pun menjelang, semua manusia siap menjalani hari seperti biasa. Beda halnya dengan aku. Aku sudah siap sejak pukul setengah enam pagi tadi. Aku tidak mau sampai terlambat lagi. Cukup kemarin saja. Hari ini aku sarapan nasi goreng. Mumpung masih banyak beras, dan bahan lainnya. Setelah selesai, aku membereskannya lalu mencangklongkan tas biru navyku di pundak dan mengunci pintu lalu berangkat deh ke halte.Di halte, suasananya masih sepi. Aku duduk di bangku yang tersedia dan membuka buku novel bersamaan dengan mendengarkan lagu lewat earphone yang tersambung di handphone. Hingga akhirnya, bus yang ditunggu - tunggu datang juga. Aku memasukkan buku ke tas lalu masuk ke dalam bus dan mengambil duduk di bangku paling belakang. Kenapa? Karena menurutku di belakang adalah tempat yang paling nyaman dan kalau turun biar cepat.Selama perjalanan menuju sekolah, aku hanya diam dan sesekali menatap sekeliling. Banyak anak sekolah, ibu - ibu, bahkan ada juga guru tapi entah se
Last Updated: 2020-09-24
Chapter: 2. Dipecat kah ?
Sebelum kejadian tidak terduga itu, semuanya masih baik - baik saja. Aku melayani para pelanggan dengan baik dan tidak ada kesalahan apa pun. Namun, ketika ada pelanggan baru masuk barulah kejadian itu terjadi. Aku sungguh tidak sengaja, semua orang sudah lihat yang sebenarnya. Tapi... jika semua orang benar - benar tidak peduli berarti tamat sudah riwayatku kehilangan pekerjaan yang berharga ini."Ihhhhhh .... lo itu kalau jalan tuh hati - hati dong! Lihat nih pakaianku yang bemerek jutaan kotor! Lo mungkin tidak bisa ganti kan! Iya kan! Dasar miskin! Belagu lagi!" Cerca mbak - mbak yang tidak sengaja aku tabrak. Masih ingat kan kejadian tidak terduga itu? Iya Dia orangnya. Aku paham kok posisiku ini tidak ada artinya di mata orang - orang tapi.. aku punya hati. Bisa kan tidak usah disangkut pautkan sama posisi? Emang dasarnya mbak - mbak nya aja yang sombong. Lihat saja pakaianya dipakai. Dres hitam yang terlihat glamor, nih orang niatnya mau pamer atau emang ada hal yang pe
Last Updated: 2020-09-23
Chapter: 1. Hari yang sial
Kring !Kring !Kring !Jam weker berbunyi sangat nyaring di seluruh sudut kamar yang berdominasi berwarna biru putih tidak mengindahkan seorang gadis yang masih bergelung di dalam selimut hangatnya itu. Matahari juga sudah terbit menerangi seluruh penjuru bumi. Orang - orang sudah pada melakukan kembali aktifitas sehari - hari."Uhmmmm.... Jam berapa ini?" Gumamku serak dan perlahan - lahan membuka ke dua kelopak mata yang sangat susah sekali dibuka terasa lengket seperti ditetesi lem perekat. Pelan - pelan berusaha menyesuaikan cahaya yang masuk dan setelah kembali normal, aku bangun dari ranjang tempat tidur lalu merengangkan ke dua tangan. Ke dua bola mata nya yang indah seperti meraungi lautan biru menyusuri sudut kamar sederhananya dan berhenti tepat di jam weker birunya."Astaugfirullah, sudah jam 6. Aku harus cepat - cepat. Bisa jadi aku tidak kebagian bus." Panikku saat melihat jam sudah menunjukkan pukul 6 pagi. Dengan k
Last Updated: 2020-09-21
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status