MasukHermand keheranan melihat betapa cekatannya Arya memotong sayuran dan menyiapkan bumbu-bumbu. Untuk sesaat ia berdiri terpesona di pintu dapur dan tidak dapat berkata apa-apa."Kenapa kau berdiri saja di pintu? Ayo bantu aku. Petik leunca dan taruh di mangkok. Kakek suka makan sambal dengan lalapannya," kata Arya sambil menunjuk tumpukan sayuran mentah di sebelah kirinya."Astaga... kau sungguh-sungguh," cetus Hermand.Arya memutar matanya mendengar kata-kata sahabatnya itu. "Memangnya aku pernah berbohong? Dasar.""Maksudku.. astaga, demi Tuhan, Arya, kau itu cucu bupati. Tapi kau bisa memasak! Aku saja yang Belanda tidak pernah menyentuh sayuran mentah," tukas Hermand."Memang apa hubungannya dengan kau Belanda?" tanya Arya. "Memasak itu keahlian untuk bertahan hidup, tahu! Kalau kau tiba-tiba menjadi miskin dan tidak sanggup menggaji juru masak, siapa yang kau harapkan memasak untukmu?"Hermand buru-buru menepis kepala Arya dan mengomel.
"Kau sedang memikirkan apa?" tanya Hermand. Ia dan Maria kali ini menemani Arya ke Ciwidey, ke rumah kakek. Hermand sedang bosan di rumah dan ingin menjelajah ke tempat lain.Ia ingat bahwa seperti biasa Arya akan pergi ke Ciwidey selama akhir pekan dan bersih-bersih di rumah kakeknya, dan kali ini ia memutuskan untuk ikut dengan mereka. Dengan penuh semangat ia membawa baju ganti, beberapa buku, dan bola untuk bermain.Saat Arya istirahat atau sudah menyelesaikan tugasnya, ia dapat bermain bersama Herman dan menjelajahi daerah pegunungan di sekitar rumah kakek yang luas.Mereka naik kereta api menuju Ciwidey dan duduk di lantai gerbong sambil membaca atau mengobrol. Tepatnya hanya Hermand yang mengobrol bersama Arya. Maria tidak pernah melepaskan pandangannya dari buku yang ia bawa.Namun, setelah setengah jam Hermand memperhatikan bahwa Arya sepertinya sedang banyak pikiran. Beberapa kali pertanyaannya menggantung di udara dan tidak dijawab oleh sahabat
Arya tak kuasa menahan air mata yang pelan-pelan menetesi pipinya. Sekarang ia mengerti mengapa ibunya sangat sakit hati.Selama dua tahun terakhir ini ibunya telah menahan diri dan puncaknya ketika Ayah memilih mengorbankan diri untuk menyelamatkan Maria, seorang anak orang asing, dengan meninggalkan istri dan anaknya sendiri...Ibu merasa sangat terpukul dan terluka.Di sisi lain, ia bisa mengerti situasi dan kesedihan ayahnya yang terpaksa harus meninggalkan perempuan yang ia cintai dan anak mereka, demi berbakti kepada orang tuanya...Ia sangat membenci tradisi kolot masyarakatnya yang masih melakukan perjodohan seperti itu... Sungguh, sudah ada begitu banyak hati tersakiti dan menderita hanya karena keegoisan orang tua.Tiba-tiba kepalanya terasa sakit karena memikirkan sebentar lagi Maria juga akan kembali dijodohkan. Dan kini setelah ia mengetahui alasan kebencian Ibu terhadap Maria, Arya menyadari Ibu tidak akan pernah ada di pihaknya.***
Sejak memenuhi undangan ibu Hermand waktu itu, baik Arya maupun Maria teratur menjadi tamu di istana Residen. Nyonya Residen sangat menyukai keduanya dan sering mengundang mereka datang ke rumahnya untuk sekadar bercakap-cakap.Kadang ia akan membawa Maria menemaninya berbelanja pakaian gaun bagus-bagus. Hermand tentu saja senang melihat perkembangan ini. Pelan-pelan Maria pun terlihat mulai membuka diri kepada keluarganya.Melihat Maria disukai oleh istri residen, Ibu tak kuasa memperlakukannya dengan buruk. Ia tak berani menyinggung istri residen bila Maria mengadu kepadanya."Arya... kamu jangan sering-sering membawa Maria ke Ciwidey atau membiarkan Maria berkunjung ke rumah residen terlalu sering," kata Ibu pada suatu hari. "Ibu mengerti kau ingin menjauhkan Maria dari Ibu karena kau takut Ibu akan memperlakukannya dengan buruk."Arya tertegun mendengar Ibu bicara tanpa tedeng aling-aling seperti itu. Ah, ibunya sangat mengenalnya."Uhm... aku
Demi Maria, Hermand dan Arya bersikap baik di depan satu sama lain. Sepulang sekolah Hermand mengajak mereka ke Gedung Sate dan mempersilakan keduanya memilih buku-buku yang ingin dibaca.Hermand bukan kutu buku seperti keduanya, tetapi ia senang melihat wajah kagum Arya saat melihat koleksi di perpustakaan tersebut dan pandangan Maria yang berseri-seri saat membuka lembar demi lembar buku ilmu pengetahuan yang ada di rak khusus.Karena Maria sering sibuk dengan dunianya sendiri, apalagi saat ia tengah khusyuk membaca, mau tak mau Hermand hanya bisa mengobrol dengan Arya. Ia mula-mula menanyakan kabar mereka setelah ditinggalkan ayahnya dan situasi di rumah. Ia tak dapat membayangkan bila ayahnya sendiri meninggal dan ia harus menjadi kepala keluarga di usia demikian muda.Kalaupun itu terjadi, Hermand masih mempunyai dua orang kakak, sehingga bagaimanapun ia tetap akan memiliki pengayom bila orang tuanya tiada."Hmm... tidak terlalu baik. Ibuku menyalahk
Suasana di rumah Adinata tidak pernah sama lagi sejak Ayah meninggal. Maria mengurung diri selama berhari-hari dan Ibu tampak sangat terpukul. Yang paling membuat Arya sedih adalah kenyataan bahwa pelan-pelan Ibu menyalahkan Maria atas kematian Ayah."Kalau Maria waktu itu tidak menghilang, Ayah pasti masih hidup..." kata Ibu berulang kali saat air matanya kembali mengalir mengingat kepergian suaminya."Sshhh... Ibu, jangan berkata begitu. Nanti Maria dengar..." bisik Arya sambil geleng-geleng kepala, "Maria sudah cukup menyalahkan dirinya sendiri, dan dia sama kehilangannya dengan kita. Kenapa Ibu harus menambah luka yang sudah ada? Menyalahkan seseorang tidak akan membawa ayah kembali....""Tapi itu benar!" tukas Ibu dengan mata merah dan bengkak, "Seandainya ia tidak pernah masuk ke rumah ini, keluarga kita tidak akan ditimpa kemalangan.""Astaga...! Ibu, aku tahu ibu sedang sangat sedih... Tapi tolong jangan pernah berkata begitu lagi... Maria itu ana