Mag-log in
Happy readings~Suasana masih hening. Tidak ada yang memulai percakapan antara aku dan Andra. Jemariku mengetuk-ngetuk meja, kepalaku tertunduk. Aku sedang menyusun kalimat yang tepat.Andra masih menatapku. Suasana caffe yang ramai tak mampu memecahkan keheningan diantara kami.Hingga seorang waitress mengantarkan pesanan kami. Vanilla late, karena aku tidak menyukai kopi yang pahit. Biarlah orang bilang aku itu gak gentle, gak bisa menikmati pahitnya kopi.Please, hidupku sudah cukup pahit. Jadi, aku harus imbangi dong sama yang manis-manis. Mmm ... kaya muka aku misalnya.Andra mulai menyeruput espresso pesanannya. Sedangkan aku? Masih mencoba menyusun kalimat sembari melingkarkan jari telunjuk pada bibir cangkir.Lima menit kemudian, mungkin Andra sudah tidak tahan dengan kesunyian kita."Ada yang ingin kamu sampaikan?" ucapnya dingin
Nama gue Chatrine Salsabila, orang-orang suka manggil gue Chaca. Menurut akta kelahiran, gue hadir sejak 19 tahun yang lalu. Gue anak tunggal.Bokap gue, Alexander Abraham. Pengusaha sukses yang cukup terkenal di Malang. Entah bisnis apa aja yang dirambah, gue gak tahu. Dan gak mau tahu juga. Dia sering melakukan perjalanan dinas ke luar kota bahkan luar negeri.Nyokap gue, bukan ibu-ibu sosialita yang hanya bisa menghamburkan uang bokap gue. Kenapa? Karena eh karena, nyokap gue punya usaha sendiri. Keren kan?Beliau berhasil mendirikan pabrik dodol atau jenang di kota gue. Nyokap gue dulunya anak seorang petani apel di desa. Berkat ketekunan dan kerja kerasnya beliau mampu membuat usaha kecil-kecilan.Menurutnya, sayang kalau apel hasil panen hanya dijual mentahan saja. Jadi, beliau bereksperimen untuk mengolahnya menjadi makanan ringan, seperti keripik apel, dodol atau jenang apel.Pemasarannya ju
~Happy Readings~Diih ... enggak sopan banget nelepon cuma marah-marah langsung dimatiin aja.Eh, Andra minta ke rumah mertua? Marah-marah pula. Ada apa ya? Apa Ayu sudah mengatakan akan bercerai?"Om! kenapa?" Kucing liarku menepuk bahu membuyarkan lamunanku."Semoga lain kali kita bisa ketemu lagi ya kucing liar," ucapku mengusap puncak kepalanya."Ingat, aku gak mau pertemuan selanjutnya pakaian kamu masih kurang bahan kayak gitu. Jangan ke club lagi. Jangan keliaran tengah malem kayak kemarin," sambungku."Bahaya tau gak? Coba kalau bukan aku yang nemuin kamu, udah habis kamu. Jaketku pakai aja, tutupin tubuh indahmu itu jangan sampai diterkam kucing garong," tuturku panjang lebar sembari bersiap untuk pergi.Chatrine atau yang katanya kerap dipanggil Chaca itu terpaku. Mungkin selama ini belum pernah ada yang memperhatikannya.Aku be
Happy Readings~Buset nih cewek suaranya sampai 8 oktaff kali ya. Telingaku sampai berdenging. Aku menghela napas panjang."Oi, kamu masih perawan! Gak usah teriak-teriak gitu. Entar digrebek dikawinin kita," lontarku sekenanya.Gadis itu membuka selimutnya, lalu mendudukkan dirinya bersandar pada headbord kasur. Tatapannya serius bahkan sampai tidak berkedip."Apa aku setampan itu?" sambungku menyentuh wajahku dengan gaya sok cool. Dia melempar bantal tepat di mukaku."Jangan kepedean Om!" jawabnya sinis."Haha ... habisnya kamu liatin aku segitunya sampai gak kedip," jawabku cuek.Eh tunggu tunggu. Apa tadi dia bilang, Om? What? Apa aku setua itu. Raffi Mamad artis top aja lewat. Kelewatan gantengnya sampai aku gak kebagian."Lo beneran gak ituin gue kan Om?" tanyanya menarik kembali selimut yang melorot."Bi
Ditunggu reviewnya ya, Happy readings~***"Tidak bisakah kita mulai dari nol Ay? Pepatah bilang, kalau tak kenal maka tak sayang. 'Katresnan jalaran soko kulino' Ay ...," ucapku pelan setelah merenung sejenak."Ini bukan pepatah Mas! Ini real life! Aku hanya mencintai pacarku. Lagipula kamu cuma seorang Manager Hotel. Apa kamu mampu mencukupi semua kebutuhanku?" sinis Ayu menatapku remeh."Pacarku seorang Direktur di sebuah perusahaan besar. Kami saling mencintai, hanya tinggal menunggu restu dari orang tuaku saja. Tapi kamu tiba-tiba hadir dan menghancurkan semuanya. Aku yakin, dia lebih mampu membahagiakanku dari pada kamu," tutur Ayu penuh penekanan membuat darahku mendidih.Hah! Aku salah menilai Ayu. Aku pikir dia gadis lugu. Tapi ternyata? Aku yang terlalu bodoh mudah percaya mata polos itu.Tapi tidak seperti ini juga caramu mempermainkan perasaanku! Bahkan aku kamu rendahkan sampai ke dasar-dasa
Happy readings~Malam kian larut, hanya terdengar suara jangkrik memenuhi gendang telinga yang seperti mengejekku. Jangkrik sialan!Kumatikan lampu kamar, mungkin saja karena terlalu terang aku kesulitan tidur. Tapi percuma, tetap saja aku merasa gelisah gundah gulana. Aku menggulingkan tubuh ke kanan dan ke kiri. Ayu tidak merasa terganggu. Dia masih nyenyak dalam tidurnya."Ahhh ... shit!" umpatku kesal lalu bangun dari tidurku.Aku berjalan mendekati jendela. Kubuka jendela itu, menikmati sepoi angin malam yang menerpa wajahku. Daun-daun bergesekan dengan batang saling bergelayutan di depanku.Kemudian aku menyulut rokok, ku apit diantara jari telunjuk dan tengah, lalu menghisapnya perlahan. Campuran nikotin dan tembakau membuatku sedikit lebih tenang. Hanya sedikit. Bahkan hingga kepulan asap terakhir, aku masih merasa gelisah.Kemudian, aku kembali ke ra