LOGINApa yang kamu rasakan, saat pria yang menikahimu hanya ingin balas dendam?Kisah ini, tentang Annastasia yang harus rela menikahi Luxander, agar bisa terbebas dari hukuman penjara. Tapi, dia tak pernah menyangka, kehidupan rumah tangganya dengan Luke, justru lebih menyesakkan dari pada jeruji besi, dan lebih menyakitkan dari pada kematian. Setiap hari, Luke memperlakukannya sebagai budak dan menyiksanya tak berperikemanusiaan. Bahkan, dengan teganya, Luke menyewa seorang wanita pelacuran dan mengajaknya tinggal bersama. "Apa ini?" tanya Anna begitu Luke melemparkan map tepat ke wajahnya. "Poin-poin penting dalam pernikahan kita," jawab Luke santai.Anna membuka map itu, dan membulatkan matanya tak percaya. "Kau menjadikan aku pembantu? tanya Anna tak percaya. "Ini tidak adil!" lanjutnya membuat penolakan. Luke tertawa miring, dengan lantangnya dia pun menjawab, "Jika kau tidak setuju dengan syarat-syaratku, maka ... bersiaplah untuk membusuk di penjara!"Bagaimana kisah rumah tangga mereka selanjutnya? Mampukah Anna bertahan? Atau mungkin memilih pergi, setelah rentetan penyiksaan lahir dan batin yang membuatnya lelah bertahan, dan penantian cinta yang tak kunjung terbalas? Sedangkan, di dalam rahimnya tumbuh bayi yang tak berdosa tanpa diketahui oleh suami berengseknya. "Siapkan hatimu. Karena kau tidak akan pernah ingin dilahirkan jika kau jadi aku." _Annastasia Thomas_
View More“Apa ini?” tanya Anna tak mengerti, begitu Luxander. Pria yang resmi menjadi suaminya beberapa jam yang lalu, tiba-tiba melemparkan sebuah map berisi lembaran kertas ke wajahnya.
“Poin-poin penting dalam pernikahan kita,” jawab Luke seadanya. “itu adalah tugas dan posisi mu dalam rumah ini” tegas Luke. “kamu tau sendiri, apa akibat yang akan kamu dapat, jika kamu berani menentangnya!” lanjut Luke dengan gaya angkuh seperti biasa.
Anna membuka surat perjanjian yang mau tidak mau harus dia pahami isinya. Pernikahan ini terjadi karena sebuah kesepakatan. Kesepakatan tetaplah kesepakatan. Anna tidak mau Luke melemparnya ke dalam penjara, jika sampai tak mematuhi peraturan pria gila itu.
“Kamu menjadikan aku pembantu?” tanya Anna tak percaya begitu membaca poin pertama dalam surat perjanjian itu. Luke memang benar-benar gila. Masak iya, dia harus membersihkan dan mengurus rumah sebesar itu sendirian?
“Tentu saja. Apa gunanya dirimu berada di sini jika bukan untuk menjadi pembantuku. Sayang, jika aku harus membayar jasa pembantu, sedangkan ada dirimu yang cukup aku kasihani dengan makan, minum dan tempat tinggal.
“dan jangan lupa. Kita hanyalah orang asing yang tinggal bersama. Ikatan ini tak ada artinya bagiku. Jadi, aku berhak melakukan apa pun yang aku mau dan kamu tidak berhak ikut campur. Sedangkan, aku berhak ikut campur untuk semua urusanmu. Apa yang boleh dan tidak boleh kau lakukan di rumah ini. Mengerti?!”
“Ini tidak adil!” tegas Anna tak terima.
Luke tertawa pelan. “Jika begitu, bersiaplah untuk membusuk di penjara.”
Dasar suami brengsek! Rutuk Anna dalam hati. Kenapa dirinya harus terjerat bersama pria gila yang merangkap menjadi suami se brengsek ini?
***
“Kamu siapa?” tanya Anna begitu melihat wanita berpakaian sexi berada dalam rumahnya.
Wanita dengan rambut pirang itu tersenyum angkuh. “Aku Selena. Mulai sekarang, aku akan tinggal di rumah ini.”
Anna mengerutkan keningnya. Masih belum mengerti dengan maksud wanita blonde di depannya saat ini. “Tinggal di sini? Untuk apa?”
“Tentu saja, untuk memuaskan suamimu. Memberikan suamimu sesuatu yang tidak bisa di dapatkan dari mu. Apa lagi?”
Jawaban wanita itu, membuat Anna hanya bisa diam sambil menundukkan wajahnya. Tidak perlu orang lain yang mengatakannya. Dia pun sadar diri. Luke tak akan pernah sudi untuk menyentuhnya.
***
“Anna, katakan. Aku mengkhawatirkanmu. Apa selama ini, Luke memang seperti itu? Iya? Tidak bersikap baik padamu? Tidak memperlakukanmu layaknya seorang istri? Benar begitu? ”
Anna menggeleng pelan. “Tentu saja. Dia suami terbaik yang pernah ada, Jasmine.”
“Jangan mencoba menipuku. Meskipun aku buta. Aku tau, saat ini kau rapuh dan terluka. Anna, jujurlah padaku. Lagi pula, aku sudah mendengar bagaimana kasarnya Luke padamu. ”
Anna menatap Jasmine dengan pandangan berkaca-kaca. Kebutaan yang di alami Jasmine, adalah keberhasilan besarnya saat menjelma menjadi iblis wanita ter keji. Dan sekarang, justru Jasmine lah yang tetap setia menjadi sahabatnya.
“Hiks, hiks. Jasmine, dia .... “ isakan Anna menggantung. Rasanya, dia sudah tidak sanggup lagi untuk mengatakan sesuatu tentang Luke dan semua sifat kasarnya. Sungguh, dadanya terasa sangat sesak sekarang.
“Apa Luke selalu menyakitimu?” tanya Jasmine lagi. Dia turut prihatin saat mengetahui bagaimana kebencian Luke terhadap Anna. Tidak bisa Jasmine bayangkan, jika dirinya berada di posisi Anna sekarang. Hidup bersama suami yang membencinya, tidak pernah menghargainya, dan selalu menyiksa dengan kata-kata kasar.
***
“Kamu sakit,” ucap Anna saat melihat suaminya, pulang dengan wajah pucat. “duduklah. Aku akan mengompresmu.”
Luke menoleh kilas. “Tidak perlu. Selena akan merawatku.”
Anna menarik nafasnya pelan. Dia sudah berjanji, untuk menghadapi Luke dengan kepala dingin dan meruntuhkan hatinya dengan kesabaran. “Tidak bisa.”
“Kenapa tidak?!” sergah Luke dengan suara meninggi.
“Karena dia, kau bayar untuk memuaskan mu bukan untuk merawatmu.”
***
“Bibi, mengandung ya?” pertanyaan polos Dave, membuat Anna belingsatan. Tolong, jangan buat siapa pun mengetahui kehamilannya terutama Luke. Tidak. Anna tidak mau. Luke pasti akan melenyapkan bayi yang di kandungnya jika tau.
“Tidak Dave. Bibi hanya masuk angin,” bohong Anna.
Dave memegang tangan Anna yang berkeringat. “Aku mungkin masih kecil. Tapi, Bibi lupa darah siapa yang mengalir dalam tubuhku. Aku tau, bibi sedang mengandung, seperti Mommy. “
“Dave, berjanjilah. Kau tidak akan memberitahu siapa pun. Siapa pun itu.”
“Tapi kenapa?” Davio putra pertama Peter dan Jasmine, memang selalu teliti dalam segala hal.
“Dia akan berada dalam bahaya Dave. Jadi, berjanjilah. Kau akan melindunginya dengan tidak memberitahukan pada siapa pun tentang kehamilan Bibi. Ya?”
Davio mungkin menyanggupi permintaan Anna. Tapi seseorang yang berada di balik tembok, menyeringai penuh kelicikan begitu mendengarnya.
Orang itu, akan membunuh bayi itu dengan tangan terbuka.
***
Luke yang refleks, entah kenapa justru membantu Selena lebih dulu di bandingkan Anna. Dan lihat akibat ulahnya sekarang. Anna pergi dengan raut wajah kecewa, dan sungguh, dia menyesal.“Tuan?”“Jangan sentuh aku!” tegas Luke, saat Selena beraninya memegang tangannya. “jangan mengharap lebih. Aku menolongmu karena sisi kemanusiaan dan aku menyesal!” ucapnya dengan tegas kemudian menyusul Anna yang lari entah ke mana.Luke pergi dari sana dengan wajah gusar. Anna pasti akan semakin murung setelah melihatnya menolong wanita lain di bandingkan Anna. Tentu saja Anna akan cemburu, karena Anna mencintainya.“Anna, berhenti!” teriak Luke begitu melihat punggung Anna yang berlarian di depan sana. “Please, dengarkan aku dulu Anna!” teriaknya lagi walaupun tak Anna hiraukan.Luke berlari se kencang mungkin. Anna tidak mungkin menghindarinya seperti ini, jika wanita itu tidak menangis.“Anna! Please!” ujarnya, begitu berhasil men
Anna pergi tanpa menunggui pembicaraan itu selesai. Hatinya sudah terlanjur sakit. Kenyataan jika Luke tak mau bayi dari dirinya, membuatnya benar-benar terluka. Begitu hinanya kah dirinya, sampai-sampai Luke menganggap bayi yang dia kandung merugikan? Lalu, bagaimana dengan jalang bernama Selena? Apa Luke lebih menginginkan Selena lah yang mengandung keturunannya? Sialan! Kenapa Luke harus se berengsek ini? Jadi, selama ini, Luke membohonginya, dan dia dengan mudahnya percaya. Lantas, apa yang bisa dia lakukan sekarang? Dia tidak mungkin pergi. Bayi dalam kandungannya, pasti membutuhkan ayahnya. Dia tidak akan egois dan memikirkan dirinya sendiri. Ada bayinya yang harus dia pikirkan masa depannya. Dan dia akan melakukan apa pun agar bayinya lahir dengan selamat dan bisa merasakan kasih sayang ayahnya.Di ruang tengahPeter menyipitkan matanya. Dia perlu meluruskan pikiran Luke yang mulai gila. “Apa kau se kejam itu sampai ingin me
Ruangan itu riuh rendah terdengar obrolan hangat dan beberapa gelak tawa. Acara makan malam sudah dimulai sejak tadi, dan mungkin akan selesai sebentar lagi.“Jasmine, kamu masih belum kenyang?” tanya Luke dengan spontan saat melihat Jasmine yang disuapi Peter masih sangat lahap makannya. Tak heran juga karena Jasmine sedang hamil, dan mungkin kerakusannya karena keinginan bayinya. Tapi, jika Jasmine tidak berhenti makan seperti itu, Luke khawatir, Jasmine akan sakit perut dan mengalami sesuatu yang tidak baik nantinya.Jasmine tersenyum manis dengan pipi menggembung. “Sate buatan Binar, enak. Aku nggak bisa berhenti makan.” Jawaban Jasmine, membuat semua yang berada di sana mengangguk pertanda setuju.“Iya. Binar pintar sekali memasak. Masakannya sangat enak. Kenapa tidak mencoba mengembangkan bisnis kuliner saja?” tanya Luke.Binar dan Rigel, terlihat bertatapan sejenak. Tatapan Binar yang sendu, Rigel balas dengan tatap tajam—
“Anna? Ini serius rumah kalian?” pertanyaan polos Binar saat tiba di depan mansion keluarga besarnya, membuat Anna nyengir kuda.“Hehehe ... Iya, Bi.”Saat ini, Anna dan Binar sudah berada di mansion Daddy Alex. Sengaja, Anna membawa Binar pergi dari restoran lebih dulu, karena ke dua pria itu masih akan mengurus pekerjaan mereka.“Luas ya? Nggak nyangka, kamu se kaya ini loh, Ann?”Celetukan Binar, Anna tertawa pelan. “Mau dengar beberapa kisah gak?”Binar mengangguk dengan penuh semangatnya. “Mau, mau!”“Kalau begitu, mari sapa keluarga besarku dulu.”Anna beberapa kali terkikik geli, melihat bagaimana keterkejutan Binar saat masuk ke dalam mansion.“Pelayan di sini ternyata sangat banyak. Tapi, suasana mansion justru tenang dan damai.”Anna kembali tertawa tipis. “Mereka di buatkan paviliun khusus di belakang mansion. Saat sudah selesai bekerja, beberapa dari mereka akan kembali ke paviliun.”Bina