Mag-log in
Maura menghentikan langkahnya dan memasang pendengaran baik-baik. Ya, benar, para mahasiswa menyebutkan nama David Peters. Apa yang membuat David Peters datang lagi ke kampus? Maura bertanya pada diri sendiri. Ingin rasanya ia menanyai mahasiswa yang berseliweran, tapi diurungkannya. Maura tidak mau ia menjadi bahan ejekan lagi karena keingintahuannya tentang keberadaan David Peters di kampus.Maura mempercepat langkahnya menuju perpustakaan. Sesampainya di persimpangan koridor arah perpustakaan dan ruang kelas, Maura melihat David Peters melintas. Sontak ia memekik melihat apa yang baru saja ditangkap matanya. Seorang laki-laki dengan kaos polo, jins, dan topi baseball yang tidak asing. Maura melihat laki-laki itu di kelas tadi pagi. Ya, David Peters ternyata ada di kelasnya dan menyimak kuliahnya. Kemudian di belakang David, t
Dave yang tengah menekuni tumpukan berkas di depannya tidak sadar jika Matt sudah muncul di hadapannya.“Boss…” Sapa Matt dengan suara pelan. Dave mengalihkan pandangannya dari tumpukan berkas. Tampak kekesalan menghiasi wajahnya.“Kau tidak mengetuk pintu!” ujar Dave tegas. Matt membela diri, mengatakan bahwa ia telah beberapa kali mengetuk pintu tapi tidak ada jawaban. Dave pun mengangguk pertanda memaafkan Matt.“Besok pagi Maura akan menggantikan dekan mengisi kuliah tentang Indonesia.” Matt memilih informasi itu untuk dismpaikan pertama kali pada Dave. Bagi Matt, itu adalah informasi besar. Matt memnag tidak mengenal gadis itu, tapi mengingat semua cerita
Dave geram luar biasa dengan sikap Maura. Gadis itu dianggapnya tidak sopan dan sok jual mahal. Dave pun memikirkan sebuah rencana untuk memberi pelajaran pada Maura. Dave men-dial nomor Matt dan sejurus kemudian laki-laki itu sudah muncul di hadapannya.“Aku mau kamu mengawasi Maura.”“Siapa dia, Boss?” Matt mengerutkan kening. Nama yang terdengar asing di telinganya.“Mahasiswa yang kemarin menghentikanku setelah kuliah umum. Entah, ada hubungan apa dia dengan dekan sehingga dia bisa leluasa meminta janji bertemu denganku.” Mata Dave menatap salah satu sudut kantornya. Ingatannya kembali saat dia selesai memberi kuliah umum kemudian dihentikan oleh seorang gadis berpenampilan biasa, Maura.Matt me
Aku menghentikan langkahku di depan sebuah bangunan kantor dengan tulisan “Peters Corp.”. kemudian pandanganku beralih ke selembar kertas kecil yang kubawa. Benar, ini. Batinku. Aku pun melangkah masuk ke dalam gedung itu dan langsung menuju resepsionis.“Selamat pagi.” Sapa petugas resepsionis dengan keramahan yang khas.“Pagi.” Kubalas sapanya dan tak lupa kuhadirkan seulas senyum.“Bisakah saya bertemu Tua David Peters?” Lanjutku.“Anda dari mana dan sudah membuat janji?” resepsionis itu menanyaiku lagi.“Saya Maura. Kemarin setelah mengisi kuliah umum di kampus saya, Tuan David meminta saya ber
Sejak pagi, kesibukan yang luar biasa tampak di kampus Maura. Semua orang seolah-olah punya tugas yang berkaitan dengan kuliah umum David Peters. Di salah satu sudut koridor menuju auditorium, berjejer gadis-gadis cantik nan populer yang sibuk mematut diri. Sesekali mereka berbisik gaduh menyebut nama David Peters.Pemandangan yang sangat asing bagi Maura. Selama hampir dua tahun belajar di kampus ini, belum pernah Maura melihat kehebohan yang terkesan berlebihan. Semua orang menyebut-nyebut nama David Peters. Sebagian mahasiswa mengelu-elukannya sebagai sosok milyarder dan berpengaruh. Sedangkan mahasiswi, hanya satu bahasan yang sangat menarik mereka, ketampanan David Pe
“Pos…!”Aku bergegas keluar kamar untuk menemui petugas pos.“Maura Raditya.”