LOGINBelum ada seminggu putus dari pacarnya, Keyla tiba-tiba saja dijodohkan dengan seorang pria misterius pemilik kastil. Stevan Antonius. Dan mau tak mau, gadis itu menyetujui pernikahannya agar tak disebut anak durhaka. Pria misterius dan dangerous itu, akankah bisa membahagiakannya? Ikuti cerita Keyla dan Stevan Antonius. Like, berlangganan dan komen. Pastikan Vote?
View MoreHari masih gelap ketika Keyla membuka matanya dan tersusup rasa kecewa ketika sadar bahwa semalaman Stevan tak kembali ke kamar itu.Sebegituingin kah pria itu menghindariku? Batin Keyla gemas.Dengan malas Keyla menyibakkan selimut dan berjalan keluar kamar. Ia penasaran di mana pria itu. Di dapur tidak ada. Saat membuka ruang kerja Stevan, dia juga tidak ada di sana. Ruangan itu tak menampakkan tanda-tanda tunangannya ada di sana. Dengan langkah cepat, Keyla menuju tempat gym namun dia juga tidak ada. Saking kesalnya, Keyla mencoba membuka pintu di samping tempat gym karena lampunya menyala. Ruang musik.Dilihatnya Stevan tengah terbaring di sofa warna hitam dengan dada bidang yang terpampang tanpa penutup. Ketika ia mendekat, sayup-sayup Keyla mendengar suara dengkuran Stevan. Wajahnya begitu tenang, bibirnya yang tipis nampak berkilauan, manis dan menggoda.Gadis itu akhirnya memutuskan untuk membungkuk, memanda
Keyla membuka jendela kamar dan memutuskan berbaring di sofa. Dingin sekaligus segar karena udara malam yang masuk ke kamar akan menjadi saksi bagaimana malam pertamanya dengan Stevan Antonius. Pria yang sebentar lagi akan menjadi suaminya namun Keyla sama sekali tidak tahu siapa lelaki itu sesungguhnya. Keyla tak tahu apa pekerjaan pria itu karena sejak pertama kali datang, Stevan hanya di rumah saja dan sibuk dengan laptop miliknya."Tutuplah jendelanya. Nanti masuk kau angin," perintah Stevan ketika baru memasuki kamar. Tapi sayangnya Keyla tidak mau menurutinya. Enak saja main perintah-perintah. Dia saja kalau ditanya tidak pernah menjawab. Pikir Keyla jengkel dan masih memposisikan tubuhnya dengan nyaman di atas sofa dengan mata yang terpejam."Key?"Keyla tak menyahut kemudian berpaling dan memposisikan tubuhnya menghadap punggung sofa. Gadis itu menganggap suara Stevan barusan seperti angin lalu."Kenap
"Hmmmphh! Dasar pria tidak tahu malu!" geram Keyla yang menaruh kedua tangannya di pinggang. Matanya melotot ke arah Stevan saking kesalnya."Sebentar lagi kita akan menikah.""YA TUHAN!!!" erang Keyla sambil menggerakkan giginya. Kini, ia tidak peduli lagi dengan Stevan dan buru-buru mengganti rok dengan celana kulot. Terserah kalau memang pria itu ingin melihat dirinya ganti baju!Keyla langsung keluar dari kamar mandi begitu selai mengganti pakaian. Suara ponselnya terdengar jelas dan cepat-cepat ia mengangkatnya."Halo? Sampai mana, Bim?""Di depan, Beib. Bener ini, kan, rumhanya? Bukan penjara?""Hahaha! Tunggu di sana, ya. Biar aku jemput.""Oke."Keyla melempar ponselnya ke atas tempat tidur kemudian berlari menuju pintu namun langkahnya terhenti oleh panggilan Stevan. "Tunggu!""What?""Akan aku
Keyla membanting tubuhnya ke atas tempat tidur dengan bersungut-sungut. Ia masih bisa merasakan napas Stevan yang memburu di telinganya. Dan aroma itu ... aroma maskulin yang membuat Keyla marah sekaligus mendamba. Sulitkah memperlakukan dirinya dengan cara yang lebih halus dan manusiawi? Seharusnya pria itu tahu semua gadis ingin diperlakukan dengan lembutKeyla memiringkan tubuhnya ke kanan dan memandang ke luar jendela. Dihirupnya lekat-lekat udara yang masuk ke dalam kamar. Segar dan aroma mawar menyapa hidungnya.SOS ... SOS ... SOS ....Suara ponsel Keyla berbunyi dan dengan sigap, ia bangkit dari tempat tidur dan mengambil ponselnya yang ada di sofa."Halo ...," jawab Keyla dengan malas. Bukan karena tahu siapa yang menghubunginya. Tapi, karena dia memang sedang malas untuk bicara. Stevan merusak suasana hati dan pikirannya."Hai, Beb. Lagi di mana? Aku datang ke rumah, Om bilang