LOGINWarning 21+ Tuntutan mertua mengharuskan Siska untuk mempunyai anak secepatnya, namun penyakit yang dideritanya tidak bisa memberikan anak kepada suaminya, sehingga ia terpikir untuk menikahkan suaminya dengan wanita lain, wanita pilihannya sendiri. Namanya Fransiska Damayanti (33 tahun) suaminya Arya Praptama (35 tahun) 10 tahun menjalani rumah tangga tapi belum dikaruniai momongan adalah hal yang tidak mudah bagi Siska dan Arya. Siskapun mendapatkan seorang gadis belia berusia 17 tahun yang mau dikontrak hingga memiliki anak, namanya Dinda Kinara, seorang gadis desa yang tinggal bersama neneknya yang sudah renta dan adik laki-lakinya yang berusia 15 tahun.
View MoreDalam perjalanan menuju rumah Dinda, Siska melihat jalanan saat pertama kali ia bertemu dengan Dinda, waktu itu Dinda masih berumur 16 tahun sedang berjualan kue di pinggir jalan.???Flashback 2 tahun yang lalu."Pak..pak.. coba kita balik lagi!"perintah Siska kepada sopirnya karena melihat seorang gadis kecil yang cantik dipinggir jalan"Baik nyonya" sahut pak joko langsung berbelok memutar balik mobil.Perlahan Siska turun dari mobilnya lalu menghampiri gadis remaja nan cantik yang sedang duduk dipinggir jalan menjajakan kuenya."Mari bu dibeli kuenya" sapa gadis itu menatap Siska."Berapa dek kuenya?" tanya Siska kepada gadis itu."Seribu aja bu perbijinya""Oh, sisa berapa semua dek?""Sisa 25 biji bu""Saya ambil semua yah kuenya"Mendengar permintaan siska, se
Semenjak Arya pulang dari luar kota, selepas pulang kantor ia lebih suka bersama Ardika dan sering membawa Ardika ke kamar Dinda walau hanya sekedar bermain-main sambil mengingat kenangannya bersama Dinda.Setiap hari Siska sering melihat semuanya, membuat Siska semakin tak tega menyakiti batin suaminya bersama Ardika yang harus terpisah dari orang terpenting dalam hidup mereka yaitu Dinda."Maafin aku mas, gara-gara kontrak itu kamu dan Ardika harus tersiksa jauh dari Dinda" batin Siska merasa sedih.***Malam hari saat Siska sedang duduk memeluk Ardika, ia merasakan tubuhnya mulai lemah, ia tak mampu lagi menggendong Ardika lebih lama, setiap malam ia selalu bermimpi kedatangan orang-orang yang tidak ia kenal, mengajaknya untuk pergi, entah itu filling yang mungkin waktunya semakin dekat membuat Siska semakin memasrahkan dirinya kepada sang pencipta , bila akhirnya ia harus pergi meninggalkan orang-orang yang ia sayangi, set
Malam hari saat Arya dan Dinda akan istirahat, mereka masih mengobrol tentang Ardika, tentang Siska, sebenarnya dalam hati Dinda sangat merindukan Ardika, tapi ia tak mau menyakiti hati Siska, orang yang sudah baik menolongnya selama ini."Dinda""Iya Tuan""Malam ini adalah malam terakhirku disini, aku ingin menanyakan sesuatu padamu Dinda?""Iya, Tuan mau tanya apa?""Sebenarnya aku ingin membawamu kembali ke Jakarta , apa kamu mau ikut bersamaku Dinda?"Sejenak Dinda terdiam, tidak menjawab pertanyaan Arya, ia langsung membalikkan badannya tak berani menatap Arya."Maafkan aku Tuan, aku tidak bisa," ucap Dinda mulai menitihkan air matanya,"Kenapa Dinda?" tanya Arya mulai mendekati Dinda dari belakang."Aku tak ingin menyakiti hati nyonya lagi, biarkan aku disini saja Tuan,"Mendengar ucapan Dinda membuat A
Selesai makan malam Arya dan Dinda kembali ke kamar untuk istirahat, didalam kamar mereka mengobrol sambil bermesraan dan berpelukan melepaskan kerinduan yang selama ini mereka pendam, namun ditengah asyiknya mengobrol tiba-tiba suara ponsel Dinda berbunyi,Triing triing triing"Ada yang telfon sayang""Hmm coba Tuan ambilkan ponselku""Baiklah" sahut Arya sambil menggapai ponsel Dinda yang berada diatas meja, sejenak Arya menatap layar ponsel Dinda lalu membaca nama kontak yang menelepon Dinda. Seketika mata Arya langsung terbuka lebar saat tahu Ricko yang menelepon Dinda."Kenapa Ricko meneleponmu Dinda?"Mendengar pertanyaan Arya membuat Dinda ketakutan, matanya langsung terbuka lebar,"Hmm anu Tuan maaf,""Apa kamu mulai berhubungan dengan Ricko, Dinda?""Tidak Tuan, aku tidak berhubungan dengan mas Ricko, kalau Tuan tidak percaya Tuan bicara saja dengan mas Ricko"Sejenak Arya menarik napasnya lalu menghembuskan