Freya termenung di meja kerjanya. Hari-hari ini ia dipusingkan dengan masalah percintaan yang rumit. Sudah lama sekali, Freya tak percaya lagi ucapan laki-laki. Baginya, semua laki-laki sama saja. Mereka hanya akan menghargai gadis yang mereka sukai. Sementara Freya? Memori empat tahun yang lalu terus berputar di kepala Freya. Ia selalu ingat bagaimana Arga memperlakukannya. Freya tersenyum kecut. Ia pernah begitu bodoh hanya karena menyukai seseorang. Ia pernah hampir kehilangan dirinya demi mendapat penerimaan. Trauma itu belum bisa hilang. Bahkan, peristiwa empat tahun lalu seakan mengubah kehidupan Freya. “Frey.” Suara Dita membuyarkan lamunan Freya. Ia tersenyum kepada gadis itu. Satu-satunya sahabat yang Freya punya.
Last Updated : 2020-09-24 Read more