Petrichor
Afnan membenci malam itu, malam dimana ia trakhir kali melihat sahabatnya dan berbicara lewat ponsel dengan perempuan yang sangat disayanginya. Malam yang berhasil merenggut semuanya, membuat hilang orang-orang yang berarti buatnya, membuat dunia seakan memunggunginya, dan membuatnya jatuh ke dalam jurang kesepian yang teramat dalam. Membuatnya selalu merasa bersalah di setiap detik dalam hidupnya.
Demi menemukan keberadaan sahabat dan perempuan yang begitu disayanginya Afnan berusaha bertahan dengan hidupnya yang telah berbeda. Dia merubah sikapnya, merubah kebiasaanya, merubah hobinya bahkan merubah mimpinya yang dia sadari mimpi itu turut hilang saat menyadari semuanya.
Namun, dari semua luka dan dunia yang memunggunya ada sebuah presensi yang tidak pernah meninggalkannya. Sebuah aroma yang menenangkan meski riaknya tak pernah bisa lagi ia dengar. Sebuah aroma yang membuat pusingnya hilang walau rintiknya selalu dikatakan ribut oleh orang-orang.
Seberapa pun jauh Afnan bertahan dengan keadaanya, Afnan tidak bisa. Dia selalu berakhir merutuki kesalahannya sendiri. Sampai seorang perempuan membuatnya mulai berubah kembali menjadi dirinya yang dulu. Siapa sangka, perempuan itu pula yang menariknya kembali bertemu sahabatnya di masa lalu, dan beretemu dengan perempuan itu lagi.