Beranda / Semua / Petrichor / 1. Prolog

Share

Petrichor
Petrichor
Penulis: Diruna_

1. Prolog

Penulis: Diruna_
last update Tanggal publikasi: 2020-09-14 21:26:19

Suasana semakin mencekam saat langit biru berubah kelabu, dengan gumpalan awan hitam  yang menggantung menakutkan. Nafas Afnan terengah, matanya menatap nyalang dengan pikiran yang terus berkecamuk. Sementara Lutfi tetap melawan musuhnya dengan terus mengerahkan seluruh tenaga meski luka lebam sudah memenuh wajah tampannya.

Afnan tidak menyangka permusuhanya dengan sekolah sebelah bisa menjadi besar seperti ini, padahal dulu dirinya dan Lutfi hanya tidak sengaja menyerempet  salah satu anak dari sekolah tersebut. Tapi dendam mereka berlanjut sampai sore ini, Sore dimana semua anak kelas tiga libur karena telah menyelesaikan Ujian Nasional. Afnan membiarkan Lutfi melawan musuh dan Afnan .

Dua lawan delapan bukan perkara mudah, segala luka lebam sudah mengiasi keduanya. Bahkan lutfi sudah mulai limbung dan beberapa kali kepalanya merasa berputar di akibatkan oleh pukulan yang terus di terimanya. Afnan merasakan kepalanya pening, namun tetap berusaha bertahan untuk melawan mereka semua. Karena seseorang sedang menunggu Afnan sekarang. Mia, perempuan yang beberapa hari ini membuatn  waktunya bersama Lutfi sedikit tersita. Seseorang yang membuatnya mengenal hal baru, seseorang yang membuatnya lebih memikirkan bagaimana pendidikan mereka setelah ini, seseorang yang membuat Afnan berani mengungkapkan isi hatinya malam tadi. Mungkin saat ini perempuan itu sedang menunggu untuk memberi jawaban, sedangkan Afnan semakin cemas karena takut kehilangan jawaban yang dinantinya dari semalam.

Kalau saja bukan Lutfi yang diserang, Afnan tidak akan mungkin berada di sini dan membantunya. Karena bagaimanapun Lutfi adalah sahabat terbaik Afnan.

“Fi awas!” Afnan berteriak saat melihat salah satu lawannya mengarahkan tongkat baseball ke kepala Lutfi. Afnan segera menarik Lutfi namun sialnya tongkat Baseball itu mengenai kepalanya, membuat Afnan seketika terhunyung dan ambruk.

“Afnan!!” Lutfi yang kaget meliat kejadian itu segera menghampiri Afnan. Namun Afnan menggelengkan kepalanya, memberi isyarat bahwa dirinya baik-baik saja.

Lutfi menatap nyalang lawan, dengan tenaga yang tersisa dia berdiri kembali menghajar mereka penuh kemarahan.Ttampaknya luka Afnan menjadi amunisi buat Lutfi untuk menghajar lawannya kembali. Sesekali pandangan Lufti teralih pada Afnan yang tergeletak tidak bergerak.

“Sialan, kalian beraninya keroyokan” ucap Lutfi dengan terengah, tenaganya mulai terkuras kembali. Dua dari delapan orang itu berhasil menahan Lutfi dan memegang tangannya membuat Lutfi terkunci tidak bisa bergerak, satu orang lainya menghajar lutfi habis-habisan sampai Lutfi benar-benar berantakan dan tidak sadarkan diri.

Afnan memejamkan matanya memegangi bagian samping kepalanya yang mengeluarkan darah, dia mengerang  saat menerima tendangan terakhir dari musuhnya sebelum meninggalkan Afnan dan Lutfi yang sudah kehilangan kesadarannya.

Afnan merangkak mendekati Lutfi yang tidak sadarkan diri, “Fi sadar fi!”

Dengan tangan  gemetar Afnan mengambil ponsel miliknya di dalam saku jaketnya, Afnan segera menghubungi ambulan untuk menyelamatkan sahabatnya.

_p-e-t-r-i-c-h-o-r_

Setelah Afnan melihat Lutfi di bawa kedalam mobil ambulan, Afnan berjalan sempoyongan  menuju motor sportnya. Dia menolak segala pertolongan yang petugas kesehatan tawarkan. Yang lebih penting sekarang adalah Lutfi sudah diberi penanganan. Dan perasaanya yang tidak karuan karena membuat Mia menunggu.

Afnan menyalakan motornya, melesat meninggalkan tempat kejadian dengan kecepatan rata-rata. Tidak peduli dengan darah yang terus mengalir dari kepalanya, tidak peduli dengan rasa pening yang semakin parah dirasakanya. Yang Afnan pedulikan sekarang adalah nasib perasaanya, jawaban dari perasaanya dari Mia.

Motor sportnya terus melaju kencang membelah jalanan, memecah kesunyian sore . tanpa lembayung jingga yang biasanya ada saat senja tiba. Lampu-lampu jalanan sudah mulai menyala, awan semakin kelabu menampilkan langit yang menghitam. Tepat dari arah yang berlawanan sebuah mobil melaju kencang, membuat mata Afnan menyipit menyeimbangkan.  Namun sebelum Afnan tersadar mobil itu dengan cepat menabraknya, dengan secepat kilat Afnan terbang terpental dan terkapar di jalanan.

Semua badannya terasa nyilu, kepalanya berdenyut hebat suara klakson dari mobil-mobil yang lalu-lalang dan riuh teriakan orang-orang membuat telinganya pengang berdenging. Pandanganya mengabur, namun kesadaranya masih terjaga, dia masih dapat melihat orang-orang berdiri mengerumuninya tanpa menolongnya. Namun anehnya saat denging di telinganya hilang Afnan merasakan keheningan, keheningan yang belum pernah dirasakan sebelumnya. Sampai kemudian satu rintk hujan menyentuh  tubuhnya, Afnan merasakan ada seseorng yang berusaha melepaskan helm yang dikenakannya. Hujan turun dengan cukup deras tapi Afnan tidak bisa mendengar riakannya, hanya aroma menyejukan dari hujan yang jatuh mengenai aspal dan tumbuhan sekitarnya.

Seketika sekelibat kenangan bersama lutfi muncul di pikirannya, dimana Afnan selalu datang terlambat karena harus menunggu Lutfi yang susah bangun dari tidurnya. Afnan dan lutfi yang selalu dihukum karena mengganggu teman perempuannya. Lutfi yang membantu membujuk orang tua Afnan untuk membelikan motor untuknya. Dan sekelebat  tentang perempuan yang seminggu lalu mengisi hatinya.

Bagaimana sekarang, apa dia masih menunggu Afnan datang?

Memikirnkan semua itu membuat hatinya nyilu, dia ingin sadar tapi tubuhnya seakan beku. Seakan dari ujung rambut sampai ujung kakinya merasakan sakit yang luar biasa.

Afnan menutup matanya, tapi dia masih bisa merasakan seseorang mengangkatnya ke atas tandu. Tapi Afnan tidak dapat mendengar derik apa pun selain dari aroma hujan yang berangsur hilang dengan rintik yang semakin membasahinya.

Dengan segala hal yang berkecamuk dipikirannya, Afnan kehilangan kesdarannya.

_p-e-t-r-i-c-h-o-r_

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Petrichor   1. Prolog

    Suasana semakin mencekam saat langit biru berubah kelabu, dengan gumpalan awan hitam yang menggantung menakutkan. Nafas Afnan terengah, matanya menatap nyalang dengan pikiran yang terus berkecamuk. Sementara Lutfi tetap melawan musuhnya dengan terus mengerahkan seluruh tenaga meski luka lebam sudah memenuh wajah tampannya. Afnan tidak menyangka permusuhanya dengan sekolah sebelah bisa menjadi besar seperti ini, padahal dulu dirinya dan Lutfi hanya tidak sengaja menyerempet salah satu anak dari sekolah tersebut. Tapi dendam mereka berlanjut sampai sore ini, Sore dimana semua anak kelas tiga

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status