Chapter: Part 10Di pagi hari yang cerah ini Letta sedang sibuk berkutat di dapur, membantu Ibunya membuat cookies. Letta tersenyum senang saat cookies buatannya dan Ibunya sudah siap untuk dimakan, ia segera mengambil toples dan memasukkan cookies itu ke dalamnya.Hari ini, Letta belum masuk sekolah karena ia bangun terlambat tadi pagi dan waktunya tidak akan cukup walau ia bersiap secepat kilat. Dan Ayahnya pun hari ini memilih untuk bekerja di rumah.Letta melepas celemek yang dikenakannya setelah selesai dengan cookies yang dibuatnya bersama sang Ibu. Ia melangkah ke kamarnya, hendak berganti baju. Letta ingin keluar sebentar, sekedar berjalan-jalan untuk melepas kebosanannya. Ia memang merasa lebih berani untuk keluar rumah sendirian setelah hari itu berjalan-jalan bersama Rasya dan mendapat banyak nasehat darinya.***Letta mengernyit bingung ketika netranya menangkap dua orang yang terlihat t
Last Updated: 2020-11-17
Chapter: Part 9Letta mengerjapkan matanya, menyesuaikan cahaya yang masuk melalui celah di kamar yang ia tempati saat ini. Pandangannya pun tertuju pada nakas di samping tempat tidurnya yang terdapat makanan dan minuman di sana. Semalam ia dirundung kebosanan hingga tertidur dengan keadaan terlentang. Letta beranjak dari tempat tidurnya dan memilih untuk membersihkan badannya yang terasa lengket akibat keringat, tidak ada pendingin ruangan di kamar ini membuat hawanya terasa panas.Letta berjalan menuju jendela di kamarnya yang masih tertutup dan membukanya, dari tempatnya berada terlihat beberapa tamu yang baru pulang dan ada yang masih mengobrol dengan anggota keluarganya dan tamu lain. Pandangan Letta pun teralihkan pada taman bunga yang terletak beberapa meter dari rumah utama keluarganya.Omong-omong tentang taman bunga, ia jadi teringat hari libur saat ia pergi bersama dengan Rasya. Letta menggelengkan kepalanya pelan, kenapa pikirannya terus ter
Last Updated: 2020-11-16
Chapter: Part 8Letta memandangi jalanan di kotanya melalui jendela mobilnya, ia menghela napas. Sebenarnya, Letta paling tidak suka saat dirinya harus ke rumah Neneknya dan bertemu para kerabat-kerabatnya yang menyebalkan. Ia ikut hanya untuk menyenangkan orang tuanya saja dan tentu Letta akan merasa tidak enak jika memutuskan untuk tidak ikut karena alasan yang tidak jelas.Letta memejamkan matanya, menikmati alunan musik ballad yang diputar oleh Ayahnya. Ia memang cenderung menyukai musik bergenre ballad, itu membuat pikiran serta hatinya menjadi tenang dan terkadang Letta memutarnya kala ia tidak bisa tidur.Mobil yang berisikan keluarga kecil Letta dengan seorang supir itu membelah jalanan malam kota Jakarta. Meski melewati beberapa jalanan yang minim pencahayaan, namun itu sama sekali tak menakutkan bagi mereka.***Letta tersenyum tipis kala beberapa kerabatnya mendekatinya dan menyapa. Saud
Last Updated: 2020-11-15
Chapter: Part 7Letta memandangi kelompok perempuan yang sedang berlatih basket. Letta ingin seperti mereka yang memiliki kaki panjang dengan tubuh yang bagus, ia ingin dikagumi juga seperti para perempuan itu. Ia menghela napas dan tersenyum tipis kala melihat betapa bahagianya mereka yang berhasil memasukkan bola ke keranjang.Hari ini Letta tidak masuk sekolah, ia izin karena akan menyiapkan berbagai keperluannya untuk menginap di rumah Neneknya besok. Sebenarnya, ia sedang ingin mengobrol banyak dengan Rasya sebelum hari esok tiba. Tapi ia tidak mau egois hanya karena itu, Rasya harus belajar hari ini karena kemarin sudah membolos.Letta kembali memandangi kelompok para perempuan itu, ia jadi teringat masa kecilnya. Dulu, ada seseorang yang memberikannya bola basket dan mengajaknya bermain. Fara–ia seumuran dengan Letta. Dulu Letta memperkenalkan dirinya sebagai Nia dan anak itu memperkenalkan dirinya sebagai Fara, Letta sungguh
Last Updated: 2020-11-15
Chapter: Part 6Kendati ia tahu bahwa perbuatan yang sering dilakukannya itu salah, Rasya tidak peduli dan terus berlari ke dalam gang yang sempit untuk bersembunyi di sana. Hari ini Rasya membolos lagi dan sialnya, ia hampir berpapasan dengan Ayahnya yang sedang bersama rekan kerjanya.Rasya menetralkan napasnya yang memburu karena berlari, untung saja ia tidak menabrak siapapun. Rasya merogoh saku celananya dan mengeluarkan bungkus permen karet dari sana. Ia mengunyah permen karet itu dan mengecap rasa melonnya."Habis manis, sepah dibuang"Entah mengapa julukan itu cocok untuknya. Dulu saat Rasya selalu mendapatkan banyak prestasi di sekolahnya, Ayahnya dan keluarganya selalu membanggakannya dan memerlakukannya seperti dirinya adalah berlian. Namun setelah ia kehilangan segalanya, Ayahnya dan keluarganya selalu mengabaikannya dan tidak pernah peduli padanya. Ia memang selalu nemikirkan alasan dibalik berubahnya sifat sang
Last Updated: 2020-11-13
Chapter: Part 5"Rasya apa kamu senang? Sebentar lagi adik kamu lahir ke dunia ini, kamu nggak akan kesepian dan sendirian lagi" seorang wanita dengan kandungan yang berumur sekitar tujuh bulan itu tersenyum dan membelai rambut putranya dengan kasih sayang.Rasya menatap Ibunya yang terlihat bahagia dan membalas senyumnya. Ia mengelus perutnya seraya berkata. "Rasya nggak sabar pengen main sama adik"Sang Ayah yang sedang mengangkat beberapa koper ke bagasi mobil pun tersenyum kala melihat interaksi antara Ibu dan putranya itu. Tuhan telah memberikan banyak kebahagiaan untuknya. Ia hanya berharap anaknya yang segera lahir itu dapat membahagiakannya juga kelak.Rasya–kendati dirinya masih belum dewasa, namun ia sudah mendapatkan berbagai macam prestasi. Kemarin, ia baru saja memenangkan sebuah perlombaan basket bersama timnya yang membuat bangga semua orang.Kebahagiaan yang membuat senyum mereka te
Last Updated: 2020-11-12
Chapter: Part 18Sudah beberapa tahun Arsel muncul dalam kehidupan Arkhan. Arsel berhasil membuat Arkhan selalu tertawa karena tingkahnya, ia mengubah kehidupan Arkhan yang monoton menjadi berwarna. Arsel–ia yang menyembuhkan Arkhan dari keterpurukan akibat meninggalnya sang Kakak.Dan kini, Arkhan harus berusaha untuk bisa merelakan Arsel yang sebentar lagi akan tinggal bersama Ica. Pada kenyataannya, Arsel memang bukanlah milik Arkhan. Arkhan–dia hanya sebatas Omnya dan seseorang yang telah merawatnya dari kecil, dirinya tak memiliki hak untuk Arsel.Sedih? Tentu saja, itu lah yang dirasakan Arkhan. Namun jika dirinya tidak bisa merelakan Arsel, mungkin akan ada banyak pihak yang tersakiti. Ica yang tidak bisa bersama putri kandungnya, Arsel yang tidak bisa bersama Ibu kandungnya. Arkhan tidak mau menjadi seseorang yang egois karena tidak bisa merelakan Arsel.***Elvi memerhatik
Last Updated: 2020-11-11
Chapter: Part 17"Aku, udah beritahu Yordan tentang Arsel" Elvi dan Gia menoleh, terkejut dengan ucapan Ica. Omong-omong, mereka sedang berada di apartemen Ica saat ini."Terus gimana tanggapannya? Apa dia marah dan nggak akan nerima Arsel?" tanya Elvi. Ia khawatir jika Yordan tidak menerima Arsel dan marah pada fakta itu, pertunangannya dengan Ica akan dibatalkan dan mereka tidak jadi menikah. Dan jika Ibu Ica mengetahui alasan jika Yordan membatalkan pertunangan mereka adalah Arsel, maka bisa saja Ibunya berbuat nekat.Ica menunduk ketika mendengar pertanyaan Elvi membuat kedua gadis itu–Elvi dan Gia langsung memikirian hal-hal buruk.***"Yordan" Ica memanggil Yordan yang sedang sibuk dengan tumpukkan berkas di mejanya. Ia kemudian duduk di sofa ruang kerjanya."Ya?" sahut Yordan singkat. Pandangannya masih tertuju pada komputer di hadapannya.
Last Updated: 2020-11-07
Chapter: Part 16"Loh Elvi?" Gia menghampiri Elvi dengan raut wajah bingung. Kenapa semua barang Elvi dikeluarkan dari rumahnya?"Gia, nanti kumpul di Cafe yang biasa dan ajak Ica, akan aku jelasin" Elvi menepuk pundak Gia dan masuk ke dalam mobil bersama Arkhan.Gia terdiam di posisinya, netranya masih terfokus pada mobil Elvi yang menjauh. Ia lalu berbalik dan memerhatikan rumah Elvi yang kini sudah kosong. Mengingat perkataan Elvi tadi, Gia segera mengambil ponselnya dan menghubungi Ica.***'Kami sudah di Cafe'Begitulah isi pesan yang baru saja Gia kirimkan pada Elvi. Di sampingnya, Arkhan terus memerhatikan Elvi yang tetap diam saat membaca pesan itu."Pergilah dan beritahu mereka tentang kebenaran keluarga mu" Elvi terkesiap saat mendengar suara Arkhan. Seingatnya, Arkhan tadi masih berada di lantai bawah."Aku duluan"
Last Updated: 2020-11-06
Chapter: Part 15'Ada seseorang yang akan datang ke kantor, tolong berpakaian lebih bagus dan rapi dari biasanya'Begitu lah isi pesan dari Arkhan yang dikirimkannya pagi ini.Elvi menguap. Rasanya, hari ini ia malas sekali untuk beraktivitas. Hari ini, Elvi hanya ingin bermalas-malasan saja di tempat tidurnya dengan membaca novel yang belum sempat ia selesaikan. Namun rasa malasnya segera hilang saat dirinya membaca pesan terbaru dari Arkhan.'Hari ini jangan sampai terlambat, saya akan cari sekretaris baru yang lebih kompeten jika kamu terlambat lagi hari ini'Elvi segera beranjak dari tempatnya dan berjalan cepat menuju kamar mandi. Ia tentu tidak mau jika harus kehilangan pekerjaannya, bisa-bisa dirinya jadi gembel di jalanan karena tak punya uang.***Elvi mematut dirinya di depan cermin riasnya. Ia sudah memakai baju kantor terbaiknya, sepatu yang nyaman, dan menyanggul rambu
Last Updated: 2020-11-04
Chapter: Part 14"Kemarin, kenapa tidak berangkat?" tanya Arkhan penuh selidik. Ia sengaja berangkat lebih awal agar bisa berbicara dengan Elvi."Saya kemarin sakit" Elvi memalingkan wajahnya ketika Arkhan menatapnya tajam. Saat ini Arkhan sedang bersandar di meja Elvi dengan tangan dilipat depan dada, sedangkan Elvi berdiri di depannya dengan jarak beberapa langkah."Sakit?" tanya Arkhan memastikan. Tangannya terangkat untuk memeriksa suhu tubuh Elvi melalui dahinya."Iyaa, tapi sekarang sudah sembuh" jawab Elvi. Ia mulai berani berkontak mata dengan Arkhan.Arkhan hanya mengangguk ketika mendengar jawaban Elvi, ia langsung melangkah pergi untuk masuk ke ruangannya. Dan setelah Arkhan pergi, Elvi menghela napasnya lega.***"Ehh udah dengar belum? Katanya ada anggota keluarga Nareswari yang meninggal" keadaan kantin yang tadinya sepi karena para
Last Updated: 2020-11-03
Chapter: Part 13Elvi mengerjapkan matanya beberapa kali, menyesuaikan cahaya yang masuk melalui jendela kamarnya. Ia memegangi kepalanya yang terasa pusing dan badannya terasa panas. Kemarin Arsel sakit, sekarang dirinya? Oh ayolah, apa semua orang yang dimarahi oleh Arkhan besoknya akan mengalami demam? Elvi tak habis pikir, bagaimana Arsel dan dirinya bisa mengalami nasib yang sama?Elvi kemudian beranjak dari tempat tidurnya dan duduk di kursi riasnya. Ia memerhatikan kantong matanya yang menghitam. Dan Elvi terkejut kala melihat jam di ponselnya yang menunjukkan angka 09.20Menghela napasnya seraya berpikir keras, antara dimarahi oleh Arkhan sekarang atau dimarahi oleh Arkhan besok. Jika ia berangkat sekarang maka Arkhan akan memarahinya lagi dan jika hari ini Elvi bolos kerja maka Arkhan akan memarahinya besok. Namun karena ia merasa badannya demam, maka Elvi memutuskan untuk membolos hari ini.Setelah berpikir tentang keputu
Last Updated: 2020-10-31