FAZER LOGINDi pagi hari yang cerah ini Letta sedang sibuk berkutat di dapur, membantu Ibunya membuat cookies. Letta tersenyum senang saat cookies buatannya dan Ibunya sudah siap untuk dimakan, ia segera mengambil toples dan memasukkan cookies itu ke dalamnya.Hari ini, Letta belum masuk sekolah karena ia bangun terlambat tadi pagi dan waktunya tidak akan cukup walau ia bersiap secepat kilat. Dan Ayahnya pun hari ini memilih untuk bekerja di rumah.Letta melepas celemek yang dikenakannya setelah selesai dengan cookies yang dibuatnya bersama sang Ibu. Ia melangkah ke kamarnya, hendak berganti baju. Letta ingin keluar sebentar, sekedar berjalan-jalan untuk melepas kebosanannya. Ia memang merasa lebih berani untuk keluar rumah sendirian setelah hari itu berjalan-jalan bersama Rasya dan mendapat banyak nasehat darinya.***Letta mengernyit bingung ketika netranya menangkap dua orang yang terlihat t
Letta mengerjapkan matanya, menyesuaikan cahaya yang masuk melalui celah di kamar yang ia tempati saat ini. Pandangannya pun tertuju pada nakas di samping tempat tidurnya yang terdapat makanan dan minuman di sana. Semalam ia dirundung kebosanan hingga tertidur dengan keadaan terlentang. Letta beranjak dari tempat tidurnya dan memilih untuk membersihkan badannya yang terasa lengket akibat keringat, tidak ada pendingin ruangan di kamar ini membuat hawanya terasa panas.Letta berjalan menuju jendela di kamarnya yang masih tertutup dan membukanya, dari tempatnya berada terlihat beberapa tamu yang baru pulang dan ada yang masih mengobrol dengan anggota keluarganya dan tamu lain. Pandangan Letta pun teralihkan pada taman bunga yang terletak beberapa meter dari rumah utama keluarganya.Omong-omong tentang taman bunga, ia jadi teringat hari libur saat ia pergi bersama dengan Rasya. Letta menggelengkan kepalanya pelan, kenapa pikirannya terus ter
Letta memandangi jalanan di kotanya melalui jendela mobilnya, ia menghela napas. Sebenarnya, Letta paling tidak suka saat dirinya harus ke rumah Neneknya dan bertemu para kerabat-kerabatnya yang menyebalkan. Ia ikut hanya untuk menyenangkan orang tuanya saja dan tentu Letta akan merasa tidak enak jika memutuskan untuk tidak ikut karena alasan yang tidak jelas.Letta memejamkan matanya, menikmati alunan musik ballad yang diputar oleh Ayahnya. Ia memang cenderung menyukai musik bergenre ballad, itu membuat pikiran serta hatinya menjadi tenang dan terkadang Letta memutarnya kala ia tidak bisa tidur.Mobil yang berisikan keluarga kecil Letta dengan seorang supir itu membelah jalanan malam kota Jakarta. Meski melewati beberapa jalanan yang minim pencahayaan, namun itu sama sekali tak menakutkan bagi mereka.***Letta tersenyum tipis kala beberapa kerabatnya mendekatinya dan menyapa. Saud
Letta memandangi kelompok perempuan yang sedang berlatih basket. Letta ingin seperti mereka yang memiliki kaki panjang dengan tubuh yang bagus, ia ingin dikagumi juga seperti para perempuan itu. Ia menghela napas dan tersenyum tipis kala melihat betapa bahagianya mereka yang berhasil memasukkan bola ke keranjang.Hari ini Letta tidak masuk sekolah, ia izin karena akan menyiapkan berbagai keperluannya untuk menginap di rumah Neneknya besok. Sebenarnya, ia sedang ingin mengobrol banyak dengan Rasya sebelum hari esok tiba. Tapi ia tidak mau egois hanya karena itu, Rasya harus belajar hari ini karena kemarin sudah membolos.Letta kembali memandangi kelompok para perempuan itu, ia jadi teringat masa kecilnya. Dulu, ada seseorang yang memberikannya bola basket dan mengajaknya bermain. Fara–ia seumuran dengan Letta. Dulu Letta memperkenalkan dirinya sebagai Nia dan anak itu memperkenalkan dirinya sebagai Fara, Letta sungguh
Kendati ia tahu bahwa perbuatan yang sering dilakukannya itu salah, Rasya tidak peduli dan terus berlari ke dalam gang yang sempit untuk bersembunyi di sana. Hari ini Rasya membolos lagi dan sialnya, ia hampir berpapasan dengan Ayahnya yang sedang bersama rekan kerjanya.Rasya menetralkan napasnya yang memburu karena berlari, untung saja ia tidak menabrak siapapun. Rasya merogoh saku celananya dan mengeluarkan bungkus permen karet dari sana. Ia mengunyah permen karet itu dan mengecap rasa melonnya."Habis manis, sepah dibuang"Entah mengapa julukan itu cocok untuknya. Dulu saat Rasya selalu mendapatkan banyak prestasi di sekolahnya, Ayahnya dan keluarganya selalu membanggakannya dan memerlakukannya seperti dirinya adalah berlian. Namun setelah ia kehilangan segalanya, Ayahnya dan keluarganya selalu mengabaikannya dan tidak pernah peduli padanya. Ia memang selalu nemikirkan alasan dibalik berubahnya sifat sang
"Rasya apa kamu senang? Sebentar lagi adik kamu lahir ke dunia ini, kamu nggak akan kesepian dan sendirian lagi" seorang wanita dengan kandungan yang berumur sekitar tujuh bulan itu tersenyum dan membelai rambut putranya dengan kasih sayang.Rasya menatap Ibunya yang terlihat bahagia dan membalas senyumnya. Ia mengelus perutnya seraya berkata. "Rasya nggak sabar pengen main sama adik"Sang Ayah yang sedang mengangkat beberapa koper ke bagasi mobil pun tersenyum kala melihat interaksi antara Ibu dan putranya itu. Tuhan telah memberikan banyak kebahagiaan untuknya. Ia hanya berharap anaknya yang segera lahir itu dapat membahagiakannya juga kelak.Rasya–kendati dirinya masih belum dewasa, namun ia sudah mendapatkan berbagai macam prestasi. Kemarin, ia baru saja memenangkan sebuah perlombaan basket bersama timnya yang membuat bangga semua orang.Kebahagiaan yang membuat senyum mereka te