Chapter: Rindu"Adakah hal yang lebih membuatmu nyaman selain berada di peluk kekasihmu?”Tefan langsung dipindahkan ke salah satu rumah sakit umum di Bandung, keadaannya tidak begitu parah begitupun dengan Reno. Reno mendapatkan tulang betisnya sedikit bergeser tapi menurut dokter tidak begitu serius dan bisa diatasi dengan penanganan yang cepat. Tefan mengalami luka di bagian kepala, terbentur namun tidak ada luka dalam yang serius. Aku belum bisa menjenguk Tefan di rumah sakit. Waktunya belum pas, orang tuanya kerap menunggui Tefan 24 jam. Nina sering mengajak pergi bersama, tapi aku menolak dengan halus. Meski aku tahu dia pasti bertanya - tanya mengapa aku belum menemui Tefan padahal Tefan adalah sahabat baikku.Mau bagaimana lagi, aku tidak bisa berbuat banyak. Aku harus menunggu sampai Tefan tidak dijaga ketat oleh orang tuanya. Mungkin besok atau lusa baru aku bisa menemuinya, sebab menurut info dari Nina orang tua Tefan akan kedatangan kolega bisnis dari
Last Updated: 2020-11-03
Chapter: Bukan Aku“Andai perasaan seperti angin, akan dengan mudah terbang begitu saja. Tanpa harus membekas atau meninggalkan jejak sakit.”“Gimana interview-nya?” Tanya Nina saat kita berdua sedang makan malam bersama di rumah.“Berjalan dengan baik. Tapi aku memutuskan untuk tidak bekerja di sana.”“Loh kenapa?”“Yah biasalah, mengenai salary.” Jawabku berbohong.“Bukannya itu bukan jadi salah satu pertimbangan kamu kerja ya?”“Dulu emang enggak, tapi sekarang iya.” Jawabku sekenanya.“Apa jangan-jangan kamu sudah bangkrut? Haha...” Tanyanya berseloroh.“Bukan. Ini gara - gara koleksi fashion di toko kamu lagi banyak yang aku incar makanya kudu punya budget yang memadai. Hehe...”“Huuu dasar... alasa
Last Updated: 2020-11-03
Chapter: Menyimpan CintaLupakan soal wawancara kerja, aku kira ini sudah direncanakan oleh Papa Tefan sejak awal. Cukup mengejutkan bahwa Papa Tefan kini sukses dengan usaha periklanannya, namun disayangkan bahwa dia tidak pernah lupa pada kebenciannya terhadap Papa dan keluargaku. Saat keluar dari kantor tersebut, tak sengaja aku bersirobok dengan Tefan yang hendak masuk ke dalam kantor. Aku tak sengaja menabraknya karena sejak keluar dari ruangan papa Tefan, aku masih menundukkan kepala. Menyembunyikan sesuatu yang sudah meluncur bebas dari mataku sejak keluar dari ruangan Papa Tefan. Tefan kaget melihatku berada di kantor papanya, aku sendiri sangat terkejut melihat kehadirannya yang begitu tiba-tiba.“Riana ...” serunya kaget.“Tefan ...” Jawabku berusaha menghapus titik-titik air yang masih tersisa. Agar tidak menimbulkan kecurigaan Tefan yang pasti akan memancing amarahnya.“Kok bisa kamu ada di sini?” Tanyanya“
Last Updated: 2020-11-02
Chapter: Papa Tefan “Jalani seperti air mengalir, kadang kala ada benturan tapi air itu akan terus mengalir menuju muara seharusnya.”Hari kedua menikmati jadi pengangguran. Pagi-pagi sudah ditelpon mama, menanyakan apakah pekerjaanku lancar atau tidak. Dengan berbohong lantas kujawab iya saja, biar buntutnya tidak panjang ke mana-mana. Mama juga mengingatkan aku soal Tefan, mengingatkan untuk kesekian kalinya kalau Tefan sudah menjadi milik Karenina.“Iyah Mama, aku tahu.”“Riana sayang, Mama tidak mau kamu sampai mengorbankan banyak hal hanya karena Tefan. Kamu harus sadar posisi kamu. Orang tuanya membenci keluarga kita sayang.”“Iyah Ma.” Jawabku lemah.Dan aku mulai jengah kalau harus mendengar ini berulang kali, meski maksud mama itu baik tapi tidak juga harus dijelaskan seribu kali.“Ma, sudah dulu ya, aku mau mandi mau berangkat kerja.” Jawabku berkilah, m
Last Updated: 2020-11-02
Chapter: Hanya Perlu MencintainyaSudah seharusnya aku bersyukur atas semua waktu yang aku dan Tefan lewati. Berjalan-jalan, menghabiskan waktu bersama. Melupakan status diantara kami dan hanya ada hati yang dipernuhi rasa cinta. Definisi cinta bagi kami selalulah sederhana, seperti moment nonton atau makan ice cream mengenang masa kecil dulu. Waktu-waktu seperti itu sangatlah berharga buat aku dan Tefan.Baru saja mau masuk ke dalam kamar, Nina muncul dengan wajahnya yang membuat aku hampir kena serangan jantung karena kaget. Suasananya remang-remang, sebagian besar lampu sudah dimatikan lalu tiba-tiba muncul sosok hitam dengan wajah putih rambut panjang seperti anaknya kuntil. Eh kunitilanak. Aku merasa saat itu juga aku akan pingsan, untung saja sosok hitam berwajah putih itu lekas ketawa yang khas sekali kukenal sebagai ketawanya Nina. Nina nyengir ke arahku memperlihatkan gigi-giginya yang putih dan teratur. Puas karena tidak sengaja mengerjaiku dengan wajahnya.“Oh My God Kare
Last Updated: 2020-11-02
Chapter: Cemburu“Permainan ini, bagaimanapun menyakitkannya, bagaimanapun aku pedih terbakar olehnya, aku hanya perlu mengingat satu hal cinta ini tidak boleh kalah."Suasana pagi di kota Bandung begitu dingin, membuat siapa saja mengurungkan niat untuk menanggalkan selimut, termasuk aku. Rasanya tak ada yang lebih nikmat daripada berselimut memeluk guling dan bermimpi di pulau kapuk. Hanya saja kenikmatan itu segera lenyap begitu Nina masuk ke kamar dan merebut paksa selimut yang menutupi hampir ke seluruhan tubuhku.“Rian bangun...!!! Sudah siang, kamu tidak kerja ya?” Ucapnya setengah berteriak. Nina memang memanggilku dengan nama pendek “Rian” seperti laki-laki, tapi sungguh aku seorang perempuan. Hehe.“Kar... Kare!!! Kamu ganggu tahu, sini balikin selimutnya.” Seruku dengan mata masih mengatup.“Gak ada selimut, kamu pokoknya harus bangun.”&nb
Last Updated: 2020-11-02
Chapter: Pertemuan PertamaSudah menjadi kebiasaan bagi Johan yang selalu datang pagi bahkan belum ada karyawan satu pun yang datang. Dia sering kali ditegur satpam, karena kebiasannya itu. Sejak bekerja di sana dari dua tahun lalu, Johan belum pernah sekalipun terlambat masuk kantor. Beberapa karyawan malah memberinnya julukan sebagai karyawan paling pagi. Dia menanggapi julukan itu hanya dengan sunggingan senyum. Dia memang ramah kepada siapapun, walau tak banyak bicara dan lebih banyak senyum."Selamat pagi, Pak." Johan menyapa pak satpam yang sudah berdiri lebih dulu di depan pintu masuk kantor.
Last Updated: 2020-10-07
Chapter: Mengagumi Dalam Diam"Bila pandangan pertama itu disebut cinta karena adanya getaran yang terhantar sampai ke hati, maka bolehkah kukatakan aku jatuh cinta?"---Seluruh karyawan telah dikumpulkan dalam satu aula pertemuan besar yang merupakan milik salah satu perusahaan yang bergerak di bidang properti, jasa, retail dan anak-anak perusahaan lainnya di bawah naungan Inutama Grup.Semua karyawan dari seluruh divisi berkumpul menjadi satu hingga ribuan karyawan tumpah ruah di sana. Tak terkecuali Johan, dia juga hadir dalam aula tersebut yang nantinya akan diumumkan sebuah berita besar tentang penerus yang akan mengambil alih seluruh kepemimpinan Inutama Grup.Aula yang mulanya ramai dengan suara semua karyawan, mendadak hening setelah langkah kaki seseorang yang begitu tegas, berenergi, menyerap seluruh suara itu hingga semua tatapan hanya terjurus pada pria berusia 65 tahun itu. Siapa lagi j
Last Updated: 2020-10-02