Fare Finta
Namaku Alinea, seorang illustrator yang terkadang merangkap sebagai pacar sewaan. Iya, pacar sewaan yang berpura-pura menjadi kekasih seseorang dan menemaninya ke manapun sesuai perjanjian yang telah disepakati.
Melalui pekerjaan ini, aku bertemu dengan Aksara, seorang CEO muda asal Jakarta. Namun, pertemuan pertamaku yang seharusnya juga menjadi yang terakhir ternyata justru membawaku pada pertemuan-pertemuan selanjutnya. Aku kembali bekerja sebagai pacar sewaannya sampai batas waktu yang tak ditentukan.
Dapatkah aku bertahan dalam pekerjaan ini? Terlebih dengan pesona pria itu yang perlahan meluluhkan hatiku. Dan di saat aku terbiasa akan kehadirannya, wanita dari masa lalunya muncul dan ingin kembali bersanding dengannya.
Read
Chapter: Kontrak Baru "Membuat cover buku, ya?"Aku mengamati kumpulan notes yang kutempel di papan dekat meja kerja. Notes beraneka warna itu berisi daftar pekerjaan yang harus kuselesaikan. Biasanya, aku menyortirnya per minggu. Seluruh deadline pekerjaan di minggu yang sama akan kujadikan satu. Kemudian, aku mengurutkannya lagi berdasarkan hari deadline. Yang tercepat, tentu, perlu didahulukan.Di minggu ini, pekerjaan terbanyak yang kuperoleh adalah membuat ilustrasi sampul buku. Jumlahnya ada lima. Itu berarti dalam sehari aku harus mengerjakan dua ilustrasi karena pekerjaanku tak hanya itu saja. Ada tawaran mendesain website yang meski deadline-nya minggu depan, aku harus mulai mengerjakannya dari sekarang. Ada pula pekerjaan menggambar ilustrasi wajah klien yang ingin dibuat versi anime. Sepertinya, minggu ini menjadi hari-hari yang lumayan sibuk untukku.Sebelum bekerja, terlebih dulu aku mengecek situs t
Last Updated: 2020-11-01
Chapter: Pertemuan Aksara Bumi Hermawan.Itu adalah nama pria yang menjadi pasanganku hari ini. Dengan kata lain, ia merupakan penyewa jasaku. Atau yang lebih gampang dimengerti, aku adalah pacar sewaannya selama beberapa jam ke depan. Kami belum pernah bertemu. Pun dengan bertatap muka. Aku hanya melihat rupa dirinya dari foto yang dikirimkan Diva padaku. Tujuannya agar aku mendapat gambaran seperti apa kekasih satu hariku itu.Semalam, aku menelepon Aksara untuk memastikan peran yang akan kumainkan. Seperti yang Diva bilang, ia memintaku menemaninya datang ke pesta pernikahan salah satu temannya. Aku cuma perlu berada terus di sampingnya. Dan tentu saja, berpura-pura menjadi kekasihnya di depan semua orang, terutama bila harus bertemu orang-orang yang dikenalnya.Ia tak menuntutku dalam hal berpakaian. Tidak ada dress code atau couple dress yang mungkin sudah ia rencanakan. Biasanya, dua orang yang berpasangan akan memakai pakaian berwarna senada ke acara
Last Updated: 2020-10-29
Chapter: AlineaHal yang paling tidak menyenangkan dari menjadi pekerja lepas adalah ketika orang-orang mempertanyakan pekerjaan ini. Pekerjaan apa yang dilakukan? Enak sekali bisa bekerja di rumah? Kok di rumah terus? Gaji berapa? … dan lain sebagainya yang bisa membuat pusing kepala saat mendengarnya. Jenis pekerjaan ini memang tergolong baru sehingga banyak orang yang belum mengerti jika bekerja tak harus selalu dilakukan di luar rumah. Aku bahkan bisa mengerti bila mereka memandang sebelah mata pekerjaan ini karena selalu berada di rumah identik dengan pengangguran.Tentu saja, aku bukan pengangguran. Aku seorang pekerja lepas yang memang memilih melakukannya. Sebagai orang yang menyukai suasana tenang, pekerjaan ini sangat cocok untukku karena aku dapat menciptakan sendiri ketenangan itu dan bekerja di waktu yang kuinginkan. Inilah keistimewaan yang tidak diperoleh dari mereka yang bekerja di kantor. Tak ada perasaan selalu diawasi. Tak perlu ada pula drama-drama y
Last Updated: 2020-10-26
Chapter: PembukaKetika aku melihat ke dalam cermin, kutatap dua sisi diriku di sana; aku yang asli dan satu lagi yang penuh kepalsuan. Saat memutuskan untuk menjadi yang asli, aku menjadi diriku apa adanya yang begitu mencintai kesederhaan. Namun kala sisi palsuku harus muncul, kukenakan topeng dan berpura-pura jadi orang lain sesuai keinginan mereka. Bak koin, dua bagian dari diriku itu tak bisa bersatu.Tetapi, ketika nikmat kepalsuan nyata terasa dan keinginan untuk hidup di balik bayang-bayangnya muncul, apa yang harus kulakukan? Haruskah kulupakan keinginan itu? Atau haruskah kubuang identitasku yang sebenarnya? Sanggupkah aku melakukannya?Atau mungkin pilihan ini yang sebaiknya kuambil. Aku harus jujur. Tentang semuanya. Tentang dua sisi diriku. Aku harus jujur hingga batas di antara keduanya menjadi jelas. Dan setelahnya, keputusan ada di tangan mereka.
Last Updated: 2020-10-26
From Us
Bagi Iris, mata abu-abu milik Dilan berhasil membiusnya, mengisi seluruh pikiran sadarnya, dan memunculkan satu keinginan aneh. Ingin selalu ada di dekat pria itu.
Bagi Dilan, mata kecokelatan milik Iris membawa ketenangan di hatinya, membuatnya nyaman, dan menghadirkan keinginan untuk menjadikan wanita itu satu-satunya pemilik hatinya.
Hubungan satu malam Dilan dan Iris tidak hanya berakhir di malam itu. Ada Abi, yang datang secara tak terduga, mempertemukan kembali mereka untuk melanjutkan kisah yang pernah dijeda oleh waktu.
Kini, bukan hanya tentang Dilan dan Iris. Ini kisah Dilan, Abi, dan Iris.
Read
Chapter: Tiga Tahun LaluIris menyesap kopinya yang mulai dingin. Dia bukanlah pecinta rasa pahit sehingga jelas tak pernah terpikirkan olehnya memesan espresso, meskipun itu hanya gelas terkecilnya. Namun, dia juga bukan penyuka manis dan hampir tak pernah memasukkan lebih dari satu sendok teh pemanis ke dalam gelas kopinya. Lidahnya masih ingin mencecap sedikit pahit di minuman kopinya. Sungguh membingungkan, bukan?Tetapi, mungkin, pilihannya sekarang--secangkir americano hangat--menjadi yang paling pas bagi lidahnya. Rasa pahit kopinya masih terasa dan tetap bisa dia nikmati. Dan sejujurnya, dia tak pernah benar-benar menjadi penggemar sejati minuman pahit itu.Tatapan mata Iris menyapu seluruh penjuru lounge minim pengunjung ini. Suasana temaram ditambah alunan musik jazz mereka pilih untuk menemani malam para tamunya. Sebagai orang yang tak terlalu menyenangi jenis musik tersebut, harus dia akui pilihan mereka tepat sebab dia merasakan kenyamanan
Last Updated: 2020-10-14
Chapter: Mata Abu-Abu"Jangan lari-lari, Abi."Iris mengingatkan Abi begitu dilihatnya bocah itu mulai mempercepat langkahnya. Sebagai balita yang dalam proses tumbuh kembang, aktifnya Abi, tentu, menjadi sebuah tanda yang bagus. Dia justru senang melihatnya, meski rasa lelah itu muncul usai mengikuti eksplorasi kecil sang bocah. Namun, sekarang bukan waktu yang tepat untuk melakukannya. Mereka tidak sedang berada di arena bermain. Wajar, jika Iris mengingatkan perilaku Abi. Ini semua demi keamanan putranya."Nggak bisa dibuka, kan?" ujarnya sambil tersenyum kecil ketika melihat Abi berusaha membuka pintu kaca di hadapannya. Abi jelas tak dapat menjangkau gagangnya yang berada jauh di atas kepalanya. Abi juga tak bisa mendorongnya karena beban tubuhnya ternyata tak mampu membuat pintu itu terbuka."Tunggu sampai Abi besar dulu baru bisa membuka pintunya." Rashi yang sejak tadi mengekor di belakang duo ibu-anak itu mendorong pintu kaca di depan Abi hingga membuatnya terbuka. Dia membi
Last Updated: 2020-10-13
Chapter: Pulang Iris berjalan keluar dari area kedatangan bandara Soekarno-Harta sembari menyeret sebuah koper besar di tangan kanannya. Sebuah tas jinjing berukuran sedang sengaja dia letakkan di atas koper untuk memudahkannya bergerak. Sedangkan tangan kirinya dia gunakan untuk mengelus pelan kepala bocah kecil dalam gendongannya.Bocah laki-laki itu tengah tertidur lelap. Kepalanya bersandar di dada ibunya. Pastilah dia menemukan kenyamanan di sana hingga buaian mimpi berhasil menggodanya. Wajah itu begitu damai seolah-olah tak ada yang bisa mengusik tidurnya. Sungguh kontras dengan kondisi sekitarnya yang ramai akan aktivitas manusia.Dia berhenti sejenak. Sekali lagi memastikan tidur putranya tak terganggu. Iris membenarkan posisi topi rajut di kepala sang bocah yang selama perjalanan panjang mereka tadi berfungsi melindunginya dari terpaan hawa dingin AC di dalam pesawat. Hampir dua puluh jam mereka berada di pesawat. Itu sudah termasuk waktu transit karena tak ada p
Last Updated: 2020-10-12
Chapter: Prolog Tarik nafas, keluarkan.Tarik nafas lagi, keluarkan.Sekali lagi tarik nafas, lalu keluarkan.Iris berulang kali mengulangi kegiatan itu demi menjaga ketenangan jiwanya. Tak dapat dipungkiri, batinnya berkecamuk. Amat parah. Sama parahnya dengan isi otaknya yang teraduk -aduk tak jelas. Ingin sekali dia meneriakkan semua kegelisahannya. Namun, kewarasannya diuji. Dia jelas tak butuh perhatian mereka yang justru dapat menjadikan semua usahanya sia-sia.Iris hamil.Sudah dua kali dia mengecek menggunakan testpack. Dua kali pula dia mendapat hasil serupa. Positif. Seakan belum puas dan terselip sedikit harapan bahwa testpack itu menunjukkan hasil tak akurat, Iris memberanikan diri berkunjung ke dokter kandungan. Dan hasilnya tetap sama.Iris hamil. Sudah enam minggu.Otaknya tak dapat lagi berpikir semenjak keluar dari ruang pemeriksaan. Tidak. Dia bahkan sudah tak mampu mencerna dengan baik perkataan
Last Updated: 2020-10-09