LOGINIris menyesap kopinya yang mulai dingin. Dia bukanlah pecinta rasa pahit sehingga jelas tak pernah terpikirkan olehnya memesan espresso, meskipun itu hanya gelas terkecilnya. Namun, dia juga bukan penyuka manis dan hampir tak pernah memasukkan lebih dari satu sendok teh pemanis ke dalam gelas kopinya. Lidahnya masih ingin mencecap sedikit pahit di minuman kopinya. Sungguh membingungkan, bukan?Tetapi, mungkin, pilihannya sekarang--secangkir americano hangat--menjadi yang paling pas bagi lidahnya. Rasa pahit kopinya masih terasa dan tetap bisa dia nikmati. Dan sejujurnya, dia tak pernah benar-benar menjadi penggemar sejati minuman pahit itu.Tatapan mata Iris menyapu seluruh penjuru lounge minim pengunjung ini. Suasana temaram ditambah alunan musik jazz mereka pilih untuk menemani malam para tamunya. Sebagai orang yang tak terlalu menyenangi jenis musik tersebut, harus dia akui pilihan mereka tepat sebab dia merasakan kenyamanan
"Jangan lari-lari, Abi."Iris mengingatkan Abi begitu dilihatnya bocah itu mulai mempercepat langkahnya. Sebagai balita yang dalam proses tumbuh kembang, aktifnya Abi, tentu, menjadi sebuah tanda yang bagus. Dia justru senang melihatnya, meski rasa lelah itu muncul usai mengikuti eksplorasi kecil sang bocah. Namun, sekarang bukan waktu yang tepat untuk melakukannya. Mereka tidak sedang berada di arena bermain. Wajar, jika Iris mengingatkan perilaku Abi. Ini semua demi keamanan putranya."Nggak bisa dibuka, kan?" ujarnya sambil tersenyum kecil ketika melihat Abi berusaha membuka pintu kaca di hadapannya. Abi jelas tak dapat menjangkau gagangnya yang berada jauh di atas kepalanya. Abi juga tak bisa mendorongnya karena beban tubuhnya ternyata tak mampu membuat pintu itu terbuka."Tunggu sampai Abi besar dulu baru bisa membuka pintunya." Rashi yang sejak tadi mengekor di belakang duo ibu-anak itu mendorong pintu kaca di depan Abi hingga membuatnya terbuka. Dia membi
Iris berjalan keluar dari area kedatangan bandara Soekarno-Harta sembari menyeret sebuah koper besar di tangan kanannya. Sebuah tas jinjing berukuran sedang sengaja dia letakkan di atas koper untuk memudahkannya bergerak. Sedangkan tangan kirinya dia gunakan untuk mengelus pelan kepala bocah kecil dalam gendongannya.Bocah laki-laki itu tengah tertidur lelap. Kepalanya bersandar di dada ibunya. Pastilah dia menemukan kenyamanan di sana hingga buaian mimpi berhasil menggodanya. Wajah itu begitu damai seolah-olah tak ada yang bisa mengusik tidurnya. Sungguh kontras dengan kondisi sekitarnya yang ramai akan aktivitas manusia.Dia berhenti sejenak. Sekali lagi memastikan tidur putranya tak terganggu. Iris membenarkan posisi topi rajut di kepala sang bocah yang selama perjalanan panjang mereka tadi berfungsi melindunginya dari terpaan hawa dingin AC di dalam pesawat. Hampir dua puluh jam mereka berada di pesawat. Itu sudah termasuk waktu transit karena tak ada p
Tarik nafas, keluarkan.Tarik nafas lagi, keluarkan.Sekali lagi tarik nafas, lalu keluarkan.Iris berulang kali mengulangi kegiatan itu demi menjaga ketenangan jiwanya. Tak dapat dipungkiri, batinnya berkecamuk. Amat parah. Sama parahnya dengan isi otaknya yang teraduk -aduk tak jelas. Ingin sekali dia meneriakkan semua kegelisahannya. Namun, kewarasannya diuji. Dia jelas tak butuh perhatian mereka yang justru dapat menjadikan semua usahanya sia-sia.Iris hamil.Sudah dua kali dia mengecek menggunakan testpack. Dua kali pula dia mendapat hasil serupa. Positif. Seakan belum puas dan terselip sedikit harapan bahwa testpack itu menunjukkan hasil tak akurat, Iris memberanikan diri berkunjung ke dokter kandungan. Dan hasilnya tetap sama.Iris hamil. Sudah enam minggu.Otaknya tak dapat lagi berpikir semenjak keluar dari ruang pemeriksaan. Tidak. Dia bahkan sudah tak mampu mencerna dengan baik perkataan