ВойтиIni tentang Alana Seizha Wimanda—dokter cantik yang harus menerima kenyataan pahit ketika calon suaminya pergi secara tragis karena mengalami kecelakaan tepat di malam sebelum mereka menikah. Ini juga tentang Alfian Manuel Alexander—pria bermanik coklat yang masih terpuruk dengan rasa sakit karena mantan istrinya yang sudah bahagia dengan pria lain. Karena sebuah takdir, dua insan yang sama-sama terluka itu dipertemukan di dalam sebuah momen tak sengaja hingga perlahan kedekatan terjalin diantara mereka berdua. Alana seolah menjadi obat atas rasa sakit yang dirasakan Alfian, begitupun sebaliknya. Namun, ketika benih cinta semakin tumbuh diantara mereka, sebuah fakta hadir menjadi penghalang hubungan Alana dan Alfian. Fakta yang membuat Alana dihadapkan dengan sebuah pilihan untuk tetap tinggal atau pergi meninggalkan dan melupakan Alfian. Lalu, diantara kedua pilihan tersebut, manakah yang akan menjadi Alana pilih?
Узнайте больше***
"Bagaimana sayang, apa pelayananku malam ini cukup membuatmu puas?" bisik seorang perempuan tepat di samping telinga Alfian. Hembusan napas perempuan itu terdengar sangat terengah-engah di telinga pria bermanik coklat tersebut karena baru saja mereka menyelesaikan sebuah kegiatan panas malam ini.
"Memuaskan seperti biasanya," jawab Alfian dengan napas yang tak kalah memburu. Pria itu kini mengangkat kepalanya lalu memandang perempuan cantik yang tidur terlentang di bawah tubuhnya tanpa sehelai pun benang yang menempel di tubuh moleknya.
Dua bulan sudah berlalu, semenjak Amanda—mantan istrimya menikah dengan Dirga sang sekretarisnya dulu, Alfian seolah bertranformasi menjadi seorang pria brengsek. Alfian yang dulu selalu menghargai wanita, kini berperilaku sebaliknya. Pria bermanik coklat itu menjadi seorang penikmat tubuh wanita untuk melampiaskan rasa sakitnya karena kehilangan Amanda. Jika ditanya apakah dulu dia rela melepas Amanda bersama Dirga maka jawabannya iya, di rela. Namun, nyatanya rasa sakit di hati pria itu tetap ada apalagi setelah dia mendengar Amanda kini tengah mengandung anak dari pria yang dulu menjadi asisten pribadi yang sangat dia percaya.
Dalam seminggu, Alfian selalu datang ke sebuah tempat untuk menyewa para perempuan yang akan dia bawa ke sebuah hotel untuk sekadar menjadi pelampiasan rasa sakitnya. Tanpa cinta, tanpa perasaan, Alfian menikmati tubuh para perempuan tersebut agar pikirannya beralih dari Amanda dan Sherly—perempuan yang tiba-tiba saja menghilang tanpa ada kabar sedikit pun. Pria itu kini seolah tak percaya lagi dengan cinta karena nyatanya cinta hanya bisa membuat perasaannya terluka dan terpuruk.
"Mau lagi?" tanya perempuan itu sambil menyunggingkan senyumannya karena sudah beberapa kali dia terpilih untuk memuaskan napsu pria setampan Alfian, tentunya dengan bayaran yang sangat mahal.
"Tidak. Malam ini cukup sampai di sini, aku harus pulang," jawab Alfian. Dengan sangat pelan, Alfian memisahkan bagian tubuhnya yang sempat menyatu dengan perempuan itu lalu melemparkan tubuhnya di atas kasur. Alfian menerawang langit-langit hotel yang tampak berwarna putih meskipun suasana kamar kini sedikit gelap karena dia sengaja mematikan lampu di kamar hotel tersebut.
"Jika setelah ini aku hamil, maukah kau bertanggung jawab?" tanya perempuan itu yang berhasil membuat Alfian menoleh sambil menautkan kedua alisnya.
"Bukankah kau selalu memakai pengaman?!" tanya Alfian dengan raut wajah yang sangat serius. Dia memang selalu merasa lebih baik ketika melakukan semuanya dengan para perempuan yang dia sewa, tapi untuk memiliki anak, rasanya Alfian tak ingin. Dia hanya ingin memiliki anak dari perempuan yang benar-benar dia cinta, meskipun Alfian ragu jika dia akan menemukan perempuan tersebut karena rasa cintanya pada Amanda sudah jatuh terlalu dalam sampai dia pun tak tahu bagaimana cara melenyapkan semua rasa itu.
"Aku tidak memakai apapun beberapa hari ini," ujar perempuan itu.
Alfian yang tadi tidur terlentang kini mengubah posisinya menjadi duduk. "Are you crazy?" tanya Alfian. "Aku memang menikmati tubuhmu, tapi aku sama sekali tak berniat mempunyai anak darimu."
Perempuan itu terkekeh. "Aku bercanda. Tenang saja aku memakai pengaman, tak usah panik berlebihan seperti itu," ujar perempuan itu. Dia kemudian meraih celana segitiga juga pakaian Alfian yang kini berserakan di lantai lalu melemparkannya pada pria bermanik coklat itu. "Pakai bajumu. Aku tak ingin tergoda lagi."
Sebelum memakai kembali pakaiannya, Alfian kembali bertanya, "Kau serius pakai pengaman, kan?" tanya Alfian untuk memastikan.
"Iya, serius sayang. Lagipula kalaupun aku hamil, aku tak akan meminta pertanggungjawaban padamu karena aku pasti akan menggugurkan janinku. Memiliki anak diusia muda rasanya melelahkan," ujar perempuan tersebut. Setelah itu dia turun dari tempat tidur untuk melangkah masuk ke dalam kamar mandi karena dia harus segera mengeluarkan apa yang sudah Alfian masukkan ke dalam tubuhnya.
Sementara perempuan sewaannya masih di kamar mandi, Alfian kembali memakai pakaian kantornya kembali agar orang-orang di rumah tidak curiga dengan apa yang sudah dia lakukan selama sebulan terakhir ini. Ya, baik Celline, Dion, bahkan Adam tak pernah mengetahui apa saja yang dia lakukan karena Alfian selalu mengatakan jika dia harus lembur ketika pulang telat ke rumah. Celline dan Dion sudah cukup tua. Alfian tak ingin menambah pikiran kedua orang tuanya karena perbuatan yang sudah dia lakukan. Cukup karena Adam dulu, mereka kesusahan. Sekarang, biarlah Alfian sendiri yang simpan semuanya tanpa ada seorang pun yang tahu.
"Ah, Amanda. Kau pasti akan kecewa jika mengetahui kelakuanku sekarang," gumam Alfian setelah selesai memakai pakaiannya kembali. "Alfian yang dulu sepertinya sudah mati karena tak kuat menahan rasa sakit."
Pria bermanik coklat itu melangkahkan kaki untuk menuangkan wine yang sengaja dia beli sebelum pergi ke hotel. Dalam sekali tegukan, Alfian meminum segelas penuh wine tersebut hingga tandas.
"Dulu aku tak pernah menyentuh minuman ini, tapi sekarang aku sangat menikmatinya," kata Alfian yang kembali menuangkan minuman berwarna merah keunguan itu ke dalam gelasnya. "Ah, sepertinya minuman ini harus kuhabiskan."
"Hey, bukankah tadi kau bilang mau pulang?" tanya perempuan bersurai coklat itu ketika dia keluar dari kamar mandi lalu mendapati Alfian yang sedang menikmati minuman yang selalu berhasil membuat orang mabuk. "Kalau kau mabuk, bagaimana nanti mengemudi? Setelah ini aku harus melayani pelanggan lain, jadi aku tak bisa mengantarmu."
"Aku bisa mengemudi sendiri. Kau tak perlu khawatir," jawab Alfian. "Sekarang mana nomor rekeningmu, atau nomornya masih sama seperti yang kemarin?" tanyanya. Dengan langkah yang mulai sempoyongan, Alfian berjalan menuju kasur untuk mengambil ponsel yang sengaja dia letakkan di sana.
"Nomornya masih sama. Jangan lupa transfer aku sesuai yang kau janjikan," jawab perempuan tersebut.
"Tentu sayang. Jangan khawatir."
Jari-jari Alfian menari-nari di atas layar ponselnya lalu dalam hitungan detik sebuah notifikasi berbuanyi dari perempuan bersurai coklat yang sudah tiga kali disewa Alfian untuk menemaninya.
"Sepuluh juta," kata perempuan itu ketika melihat nominal yang baru saja masuk ke rekeningnya. "Terima kasih sayang. Kau memang yang terbaik," ucap perempuan itu sambil mengulurkan tangan lalu mencubit pipi Alfian dengan gemas.
"Ya sudah aku pulang dulu," ujar Alfian. Pria bermanik coklat itu beranjak lalu melangkah dengan sempoyongan menuju pintu hotel, bahkan tepat di depan pintu, Alfian sempat menabrak tembok karena perlahan pria itu mulai kehilangan kesadarannya. "Amanda! Kenapa sulit sekali untuk melupakannmu, sayang," racau Alfian sebelum akhirnya dia menghilang dari pandangan perempuan bersurai coklat yang masih terdiam di dekat tempat tidur.
"Ah, cinta memang merusak segalanya. Bahkan pria sebaik Alfian Manuel Alexander berubah brengsek hanya karena patah hati," gumam perempuan bersurai coklat tersebut. Saat pertama kali Alfian menyewanya, dia sempat tak percaya jika penyewanya adalah seorang Alfian Manuel Alexander—pengusaha muda yang terkenal dengan kepribadian sempurna. Namun, setelah pria bermanik coklaf itu menceritakan semuanya, perempuan itu akhirnya mengerti kenapa Alfian menjadi seperti itu.





![Crazy Playboy [Indonesia 21+]](/pcdist/src/assets/images/book/43949cad-default_cover.png)