Masuk
Jarum pendek pada jam tangan Grize sudah menunjuk di angka 5. Itu tandanya sekarang sudah jam lima sore. Dia membereskan meja kerja dan mematikan komputer. Setelah itu dia pun menyambar tasnya.Suasana di sana sudah sepi. Teman sekantornya sudah pulang, dia memang sedikit lebih terlambat gara-gara tugas tambahan. Pekerjaannya bukan hal yang begitu berat, layaknya pekerja kantor pada umumnya.Grize berjalan menuju lift. Dia memencet tombol dan sesaat kemudian pintu lift pun terbuka. "Theo," gumam Grize yang sebenarnya cukup terkejut.Di dalam lift ada pria yang siang ini dia bicarakan dengan Anya, Theo. Umurnya memang sudah matang, maklum, sudah menikah. Mungkin 35 tahunan. Seorang bos di kantor ini. Namun, pria seperti itu memang lebih menarik, 'kan?Tiba-tiba tangan Grize ditarik masuk ke dalam lift. Dia pun mengangkat kedua alisnya dan menurut masuk. Theo mengurungnya di dinding lift dengan kedua lenga
"Grize, lihat ini!" Anya memperlihatkan layar ponselnya pada seseorang yang duduk di hadapannya. "Ini, maksudku orang ini. Aku pernah melihat orang ini bersama dengan Theo. Cukup dekat dan ... mungkin bisa dinilai romantis."Grizelle yang awalnya sedang memainkan ponsel pun mengalihkan perhatiannya. Dia melihat gambar seorang wanita yang mungkin berusia 27 tahun, terpampang di ponsel Anya. "Maksudmu, dia kekasihnya?""Siapa yang tahu?" Anya mengangkat bahunya tidak tahu. "Seseorang semacam Theo pasti memiliki segudang simpanan," lanjutnya.Grize terkekeh. "Benar. Dan kalau bisa menjadi salah satu simpanannya mungkin akan terasa luar biasa."Anya menatap Grize mencibir. "Grize, kamu memang tidak waras. Jika orang lain mengetahuinya, mereka mungkin akan merasa jijik." Dia menatap Grize dengan serius. "Sebagai teman baik, aku hanya bisa memberimu nasihat.""Ssst, Anya, kamu ini tidak tahu. Aku tidak be