MasukDahayu semula tak mempermasalahkan pernikahannya dengan Giri. Namun, seiring berjalannya waktu. Kebencian yang membara mulai mengakar dalam diri Dahayu untuk suaminya itu. Kematian Gristawan tak kunjung dapat Dahayu relakan. Ia tidak sanggup ditinggalkan pria yang paling dicintainya. Dahayu larut oleh kesedihan yang teramat. Rupanya ia pun harus merasakan kehilangan untuk yang kedua kali saat mengalami keguguran anak pertama dalam pernikahannya. Menurut Dahayu, orang yang patut sangat dipersalahkan atas semua rasa sakit dan penderitannya adalah Giri. Pria itu penghancur kebahagiaannya. Dahayu akan memastikan bahwa Giri mendapatkan balasan setimpal. Namun ada satu hal yang Dahayu lupakan yakni tentang perasaannya sendiri kepada Giri. Ketulusan yang diberikan pria itu perlahan-lahan mulai bisa melunturkan kebencian Dahayu. Pengorbanan Giri pun tak sedikit untuknya selama ia dihadapkan oleh keterpurukan pada masa-masa sulit mengandung anak mereka. Dan ketika Dahayu menyadari. perasaanya, apakah masih ada tersisa kesempatan agar ia dapat memulai kehidupan rumah tangga yang baru bersama Giri dan buah hati mereka lagi?
Lihat lebih banyak"Ck. Kamu tidak bosan 'kah mengurusi apa pun yang ingin aku lakukan? Mau aku mabuk atau tidak. Bukan menjadi sesuatu yang harus kamu urus, Giri!"Pengaruh dari soju yang ia minum sebanyak lima gelas berukuran kecil di restoran Korea tadi, ternyata berdampak pada hilangnya pengendalian diri Dahayu. Ia bahkan rasanya tak terbebani dengan ucapan-ucapan yang dikeluarkannya.Dahayu lalu tampak maju sebanyak dua langkah ke depan dengan sempoyongan dan menyebabkan terkikisnya jarak yang membentang secara fisik di antara mereka.Giri dan Dahayu saling terperangkap dalam manik masing-masing dengan pergolakan perasaan yang bertolak belakang. Mengakar kebencian pada mata Dahayu dengan nyata."Jangan minum, Da. Tidak bagus bagi kesehatanmu." Giri masih berupaya bicara dengan nada halus. Meski, berbanding terbalik dengan rahang wajahnya yang mengeras guna tidak meledak dalam menghadapi sikap sang istri.
"Bagaimana keadaan kamu sekarang, Dahayu? Aku ikut sedih mendengar kamu mengalami keguguran."Tak tampak adanya pergantian ekspresi di wajah Dahayu, meskipun pertanyaan sederhana bernadakan simpatik yang baru diluncurkan oleh Ratih memiliki efek bagi timbul denyutan serta nyeri di ulu hatinya.Dahayu lebih dahulu memilih untuk menyantap satu sendok terakhir makanan yang tersisa di piringnya, sebelum buka suara dan memberikan tanggapan bagi pertanyaan mantan kekasih suaminya itu."Setidaknya mungkin sampai siang ini, aku masih merasa baik-baik saja, Ratih." Lima detik berikutnya, rangkaian kata demi kata telah dapat Dahayu realisasikan sebagai jawaban.Senyuman tipis juga dibentuk secara alamiah oleh ujung-ujung bibir wanita itu, tatkala menerima tatapan bersimpatik yang diarahkan Ratih tepat ke matanya.Dahayu paham jika ucapannya tadi tidak akan sepenuhnya dapat dengan mudah dipercaya. Namun,
Mungkin saja untuk kebanyakan atau bahkan bisa dikatakan bagi setiap wanita hamil yang pernah mengalami keguguran. Maka, kesedihan mendalam pasti dirasakan karena kehilangan calon bayi mereka.Kepedihan juga akan tampak nyata pada buliran-buliran air mata yang terus mendesak keluar setiap kali mengingat, sehingga turut menambah kesan berat untuk dapat mengikhlaskan bahkan merelakan tidak kunjung bisa dilakukan. Namun, semua terlihat tak berlaku untuk Dahayu. Tak ada tangisan atau rasa terpukul yang ia tunjukkan sejak kehilangan calon buah hatinya dan juga Giri."Aku pergi ke kantor dulu. Nanti jam satu siang aku pulang. Aku akan mengantarmu kontrol ke rumah sakit, Da. Kita pergi bersama." Giri berdiri di dekat sisian ranjang sebelah kanan yang ditempati istrinya.Dahayu bisa mengartikan dengan baik maksud serta larangan dari Giri yang disampaikan dalam ucapan sok lembut dan memuakkan tersebut, namun Dahayu pura-pura