Mag-log in
"Bumi! " Bumi yang merasa namanya dipanggil pun berbalik dan melihat Venus dengan nafas terengah-engah. Bumi yang tadinya akan memasuki gerbang sekolah pun berhenti.
"Apa?" Lelaki yang mempunyai tubuh tinggi dan mempunyai kulit kuning langsat itu pun menatap venus.
" gue liat PR lo ya ... Please ... gue lupa ngerjain, liat ya ... gue takut di hukum bu Bulan." ucap venus sambil menyatukan tangannya seperti memohon.
Venus adalah gadis yang cantik dengan rambut sebahu dan bulu mata lentik nya.
Bumi menatap venus lalu mendelikan matanya, gadis ini selalu mendatanginya ketika tidak mengerjakan PR dengan berbagai alasan seperti, lupa bawa buku lah, ini lah, itu lah, dan lain-lain.
"Nggak," Bumi mamandang Venus dengan tatapan malas.
"Bumi, Bumi kok tega banget sama Venus?" Venus meletakan tangannya di pinggang, gadis bermata coklat itu menatap horor kepada Bumi.
Bumi yang mendapatkan tatapan horor dari Venus bergidik ngeri karna Bumi sudah tau betul amarah Venus bagaimana.
"Lo kasih PR lo ngak?!" Sentak venus pada Bumi.
"Ng-nggak!" Tolak Bumi sedikit gelapan.
Mendengar penolakan dari Bumi, Venus menjadi kesal dan,
"Au ... " Bumi meringis kesakitan ketika tangan mulus Venus mencubit tangan Bumi hingga meninggalkan bekas cantik berwarna ungu.
Karna masih kesal dengan Bumi, Venus menjambak rambut Bumi yang bergaya seperti rambut oppa" korea hingga tercabut sebagian inget ya, oppa" korea bukan oppa uffin arifin, tak sampai di situ Venus juga menjewer telinga Bumi sampai merah.
"Ampun Venus ampun ... iya, gua bakalan kasih lo PR nya tapi lepasin ya? Bumi memoh kepada Venus dengan mata berkaca-kaca.
"Bodo amat! Gua udah gak peduli sama PR bu Bulan, gua udah kelewat kesel sama lo?!" Bentak Venus kepada Bumi, dan melanjutkan aksinya.
"TIDAK!" Bumi berteriak sehingga menjadi pusat perhatian.
"Lo kenapa Bum? Teriak-teriak kaya orang gila aja," Venus menatap Bumi dengan tatapan bertanya-tanya.
Bumi yang sadar menjadi pusat perhatian pun hanya bisa nyengir dan memandang venus yang masih berkacak pinggang dengan tatapan bertanya.'huft ... untung aja, itu cuman hayalan gue doank' batin bumi sambil menghembuska nafas lega.
"Bumi, mana bukunya? Kok malah diem?" Tanya hana dengan menepuk pipi Bumi.
Sebelum khayalan Bumi menjadi nyata, Bumi buru" membuka tasnya lalu mengambil bukunya dan memberikanya pada Venus.
"Makasih Bumi," Venus tersenyum kepada Bumi.
"Iya, sama-sama," Bumi munutup kembali tasnya.
Bumi dan Venus pun pergi menuju kelas 12, kelas Planet. Sesampainya di kelas, Bumi dan Venus duduk di bangku masing-masing.
Di dalam kelas sudah ada Neptunus, Mars, Merkurius, dan lainnya. seperti biasa mereka sedang mengerjakan PR, sedangkan yang lainya sibuk dengan kegiatan masing-masing.
"Woy! udah ngerjain PR belom?" Teriak Venus kepada teman-teman sekolahnya.
"Sombong amat lu, mentang-mentang udah ngerjain!" Sahut Merkurius tak kalah kencang dengan teriakan Venus.
"Swalow ... swalow karna gue anak baek, cakep, rajin menabung tapi ... di kantin." Ujar Venus dengan Bangganya.
"Gua bawa contekan buat kalian semua." Venus memperlihatkan buku Bumi dengan bangga.
"Wah, lo baik banget" ucap neptunus dengan tersenyum memperlihatkan lesung pipi nya.
"Dedek jadi, terhura," ucap mars sambil menyeka air matanya yang mengalir lebih tepatnya menyeka belek nya.
Teman-temannya yang belum mengerjakan PR menatap Venus Dengan mata berbinar-binar.
"Tukk!"
"Au ... Napa lo jitak kening gue bego?" Venus mengusap kening nya yang sakit setelah dijitak Bumi.
"Lo yang bego! Itu buku gua,!" Ujar Bumi sambil duduk di meja pluto.
"Hehe ..." Venus mengaruk tengkuknya yanv tidak gatal.
"ASSALAMUALAIKUM ... CEWEK CANTIK SE-GALAKSI BIMA SAKTI KEMBALI LAGI KARNA TAKUT KALIAN SALTO, KEJANG-KEJANG, STROKE, BUNUH DIRI KARNA MERINDUKANKU," Bumi dan teman-temannya menutup telinga masing-masing karna suara cempreng milik pluto yang berpotensi mengakibatkan bencana angin puyuh, gempa bumi, dan bencana alam lainnya.
"Lo bisa gak sih kalo masuk biasa aja? Gendang telinga gue kayak mau pecah karna suara cempreng milik lo," ujar bumi yang masih duduk di atas meja pluto.
Pluto menghampiri Bumi yang sedang duduk di atas mejanya sambil menatap pluto.
"Li bisi gik sih kili misik biisi iji?" Pluto mengulang kalimat yang diucapkan Bumi dengan nada mengejek.
"Bodo amat, emang gue peduli? Minggir lo, gue mau duduk!" Gadis bermata biru itu mendekati Bumi yang duduk dimeja Pluto.
"Duduk tinggal duduk apa masalahnya sih?" Lelaki bermata biru ke hijauan itu mendelikan matanya.
"masalahnya lo itu duduk di meja gue, terus ngehalangin pemandangan gue," Pluto menaruh tangannya di pinggang.
"Turun!" Pluto mulai kesal dengan sikap Bumi yang selalu menggodanya.
"Kagak," entah mengapa, Bumi sangat suka sekali jika membuat Pluto kesal.
Pernah suatu hari, di jam istirahat, Bumi menyembunyikan tas Milik Pluto dan membuat Pluto menangis.
"Gubrakk"
Pluto menendang meja yang di duduki oleh Bumi, Bumi yang sedang santai duduk di atas meja pun terjatuh seperti nangka busuk.
"Aduh, pantat semok gue," Bumi menggosok-gosok pantatnya yang mencium lantai.
Sedangkan pluto, ia memperbaiki letak mejanya dan duduk dengan wajah tanpa dosa.
"Kring ..." suara bel terdengar nyaring, Bumi dan teman-temanya buru-buru beranjak ke bangku masing-masing.
"Selamat pagi anak-anak, kita absen dulu ya." Kata pak Bintang, lelaki berseragam guru itu melangkahkan kaki nya ke dalam kelas Planet dan menyapa muridnya.
"Selamat pagi juga, Pak. Iya pak," Para murid di kelas Planet menyapa balik pak Bintang.
Pak Bintang mengabasen satu persatu muridnya dari merkurius sampai Pluto.
"Saya ingin bertanya, Pak." Lelaki bertubuh gagah itu mengangkat tangan nya. Dia adalah Yupiter, raja gombal dari sekolah Galaksi Bima Sakti.
"Silahkan," pak Bintang melirik Yupiter.
"Pak, di sekolah ini ada yang namanya Cinta gak?"
"Setau Bapak sih, di sini gak ada murid yang namanya Cinta, disini rata-rata namanya itu planet, satelit, bintang, dan lain-lain pokok nya yang ada di angkasa."
"Bapak tau ngak? Kenapa di sekolah kita gak ada?
"Emangnya kenapa?"
"Karna, cinta tidak akan pernah ada tanpa kasih dan sayang."
"Huhh ...."
Murid-murid yang ada di kelas menyoraki Yupiter.
"Sudah ... sudah, sekarang kerjakan LKS Mahluk Asing!"
Pak Bintang menenangkan muridnya dan menyuruh mereka mengerjakan LKS.
2 jam telah berlalu, pelajaran pak Bintang telah selesai. Ketika pak Bintang akan keluar tiba-tiba ...
"Pak kalau pulang, jangan lewat arah utara ya!" kata seorang siswi bermata biru dan mempunyai hidung bangir, siswi itu bernama Uranus.
Pak Bintang berbalik dan bertanya. "Memangnya kenapa?" Tanya pak Bintang dengan sebelah alis di naikan.
"Soalnya perasaanku kepadamu tidak bisa di utarakan."
"Ciee ... Ciee ... witwiw ...." kelas 12 planet menjadi riuh karna sorak sorai murid-murid kelas 12 planet.
Wajah pak Bintang memerah seperti ... seperti ... seperti mati lampu ... ya sayang, seperti mati lampu ... cint- eh! (Malah nyanyi) wajah pak bintang memerah (seperti kepiting yang di tinggal pas sayang-sayangnya. Eaaa ...), bukan karena marah tapi karna malu, sebab di gombali Uranus.
Gadis dihadapannya ini suka sekali menggombali pak Bintang, selain karna umur pak Bintang yang masih terbilang muda, pak Bintang juga mempunyai wajah yang rupawan.
Pak Bintang keluar dengan wajah tersipu.
"Cklek," pintu kelas 12 planet terbuka, menampakan pak Bintang.
"Ada apa, Pak?" Murid-murid bertanya sebabnya pelajaran pak Bintang sudah habis, tapi pak bintang tiba-tiba kembali ke kelas.
"Bapak lupa, masa depan bapak ketinggalan." Pak Bintang membalas gombalan Uranus dan pergi berlalu.
"Aaa ... witwiw ..." begitulah sorakan dari murid kelas 12 planet.
***
"Bumi pulang," ucap bumi sambil berlari memasuki rumah nya.
"Bruk ..." lelaki bertubuh tinggi itu terjatuh, (dan tak bisa bangkit lagi aku tanpamu, butiran debu) dengan pose nungging.
"Hua ..." Sagitarius menangis dengan kencang.
Bagi sebagian orang, adik perempuan akan sangat manja kepada kakak laki-laki nya, tetapi tidak dengan bumi dan sagitarius mereka sering berantem seperti tom and jerry.
"Au ... Gua yang jatoh malah lo yang nangis," kata Bumi sambil berdiri.
"HUA ... " Sagitarius semakin membesarkan suara tangisannya dan ...
"BUMI ... JANGAN GANGGUIN ADEK NYA!" Mamak bumi yang sedang memasak di dapur berteriak kepada bumi.
Sebenarnya Sagitarius sengaja menyandung kaki Bumi dan pura-pura menangis, agar dimarahi mamaknya dan dugaannya tepat mamaknya memarahi Bumi.
Melihat kakak nya dimarahi mamak adalah kemenangan tersendiri bagi Sagi.
"Emang enak, dimarahin sama mamak," Gadis yang mempunya bibir ranum itu berdiri dan menjulurkan lidahnya dan berlari.
"Nyebelin lo mah," Bumi mengejar Sagitarius yang berlari.
Dan terjadilah aksi kejar-kejaran antara Bumi dan Sagitarius.
***
"TOK ... TOK ... TOK ... BABU ...," Sagi menggedor pintu kamar Bumi dengan barbar.
"Cklek ...," pintu terbuka dan menampilkan Bumi dengan rambut acak-acakan karna rebahan melulu.
"Babu ... bantuin Sagi ngerjain PR ya," Bumi mendelikan matanya gadis di hadapannya ini selalu menyuruh Bumi mengerjakan PR perbintangan.
"Lo gak ada sopan-sopannya nyebut abang lo babu. Masa, cogan disebut Babu, apa kata dunia nantinya?"
Sagitarius nyengir. "Babu 'kan singkatan dari aBAng BUmi, panggilan kesayangan dari Sagitarius, Hehe ...."
"Serah lo dah mau panggil gua apa" Bumi mengalah dan kembali masuk ke kamarnya tapi di tahan oleh Sagi.
"Jangan masuk kamar lagi, kerjain PR gue dulu ... please ...," pinta Sagitarius dengan mata berkaca-kaca.
Bumi yang melihat adiknya, menjadi tidak tega, meskipun Bumi dan Sagitarius sering bertengkar tetapi mereka sangat menyayangi satu sama lain.
"Ya udah mana PR nya?" Bumi memilih mengalah dan mengerjakan PR Sagitarius.
"Ini, kalo udah selesai panggil gue ya!" Sagi menyerahkan buku ilmu perbintangan yang ia bawa kepada Bumi, dan pergi.
"Selesai juga," Beberapa menit telah berlalu, sekarang Bumi telah selesai mengerjakan PR milik Sagitarius.
Ketika Bumi akan mengembalikan buku Sagi, tanpa sengaja buku sagi dan sepucuk surat yang terselip di antara lembaran buku itu ikut terjatuh, lelaki bertubuh tinggi itu berjongkok dan mengambilnya.
***
Saat gue mau balikin buku sagi, tanpa sengaja buku itu terjatuh, saat gue mau ambil, gue ngeliat ada beberapa surat yang terselip di lembaran buku.
Karna penasaran sama isinya, gue pun buka surat itu.
♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡
SURAT CINTA UNTUK SAGITARIUS (wadawww ...! ternyata ini surat cinta adek gue gaes)
Saat pertama kali aku melihat mu sedang makan bakso jumbo 5 mangkok, di kantin, saat jam pelajaran. (Njir, 5 mangkok, itu perut apa karet ya?).
Aku merasa gemas ikarna meminum saos samyang 3 botol.(masih jadi misteri kenapa ciwi-ciwi doyan pedes)
Aku tersenyum saat kamu di marahin ibu kantin karna gak bayar-bayar hutang, aku menghampiri mu lalu membayar hutang mu dengan syarat kamu menjadi sahabat ku agar aku bisa lebih dekat dengan mu. (cantik-cantik kok ngutang, malu-maluin aja)
Kau tahu, kenapa aku selalu ngajak ribut dengan mu? Itu karena aku ingin diperhatikan oleh dirimu. Tetapi, jika aku jauh darimu, entah mengapa aku selalu merindukan mu.
Aku cemburu, saat melihatmu dekat dengan lelaki selain aku dan aku tidak suka kalau ada orang yang menyakitimu.
Sebenar nya aku ingin mengatakan perasaan ku dari dulu kepadamu tapi, aku takut kamu menjauhi ku.
Sekarang aku tidak peduli kalau kamu mau menjauhi ku, aku hanya ingin bilang apakah kamu mau jadi pacar ku?
♡♡♡from virgo for Sagitaris ♡♡♡
Gua yang kakaknya aja nggak pacaran, lah adek gua?
"Gue jadi kepo, sama bukunya. Kepoin ah ..."
Gue pun, mulai buka lembaran buku yang paling akhir karna biasanya orang kalo nyimpen rahasia itu di lembaran buku terakhir. tau lah ya ... masa gak tau.
Betapa terkejutnya diriku saat melihat ini.
.
.
***
"Tok ... tok ... tok, BABU ... UDAH BELOM NGERJAINNYA?"
"Cklek, lo pacaran ya?" Tanya Bumi sambil memegang buku Sagi.
"A-apaan sih tiba-tiba nanya soal pacaran," ucap Sagi gugup.
"Lo jangan pacaran dulu, lo masih kelas 10, Nanti gak fokus belajar."
"Iri bilang boskuh!" Sagi merampas buku yang di pegang Bumi lalu berlari ke kamarnya.
"Huft .... " bumi menghela nafasnya perlahan lalu masuk ke kakamarnya.
Bumi merebahkan tubuhnya di atas kasur. Suara hujan di sore hari membuat Bumi mengantuk, saat bumi akan memasuki mimpinya,
"JEMURAN ... JEMURAN!" Mamak Bumi berteriak karna jemuran yang ia jemur belum diangkat.
"BUMI, BANTUIN MAMAK ANGKAT JEMURAN JANGAN REBAHAN MELULU!" Mamak Bumi berteriak sambil angkat jemuran.
Sebelum mamaknya berpidato dan bandingin sama anak tetangga, Bumi berlari tergopoh-gopoh lalu membantu mamaknya.
"Mak, kan udah beres, Bumi masuk kamar lagi ya," ucap Bumi sambil berjalan ke kamar tetapi langkahnya terhenti.
"Lu rebahan mulu dari tadi ape kagak pusing lu? Liat tu anak si B, kalo di rumah bantuin bantuin ngepel, bersih-bersih. Lah elu, di kamar aja ... bla bla bla ... " mamak bumi membanding kan Bumi dengan anak tetangga.
Dalam hati, Bumi berkata, 'andai mak tahu, kalo anak c B suka mabok-mabokan (Ciu, arak, dll), main perempuan, judi, dan lain-lain.
"Iya mak," Bumi menjawab setelah diceramahi panjang lebar.
"Bum, lu liat remot tv kagak?" Tanya mamak bumi setelah mencari remot tv tapi kagak ketemu.
"Mana Bumi tau, biasanya juga emak yang suka nonton." Bumi menggidikan bahunya.
"Ya udah, lu bantu cariin donk bukan diem mulu. Tega bener lu, sama mamak."
"Iya, iya." Bumi pun mulai mencari remot TV.
"Kagak ketemu, mak."
"DASAR ANAK GAK GUNA, KERJAANYA REBAHAN ... MELULU. DISURUH CARI REMOT AJA KAGAK BECUS APALAGI CARI JODOH?!"
JLEGER ...
Jeng jreng, kumenangis membayangkan betapa kejamnya dirimu atas
Bumi diam menunduk tak berani menatap wajah mak nya. Saat Bumi mengalihkan pandangannya, Bumi tidak sengaja melihat remot TV disaku daster mak nya.
"Lah itu, remot TV nya,"
"Mana?"
"Tu ...." Bumi memonyongkan bibirnya.
"Mana ..."
"Tuh di saku daster mak apaan?"
"Ouh, iya ya tong, mak lupa. Tadi niatnya mau nonton TV tapi keburu angkat jemuran."
"Mak, kagak mau minta maaf nih? 'Kan, Mak yang salah."
"Ya, elu lah yang harus minta maaf! Kalo lu angkat jemuran dari tadi, gue gak bakal marah-marah sama lu!"
"Iya, Mak iya. Perempuan selalu bener, laki-laki selalu salah." Setelah mengatakan itu, Bumi cepa-cepat berlari ke kamar.
***
"Dek ... kita berangkat sekolah yuk, udah jam 06.45 nanti kita kesiangan!"
Bumi mengangkat pergelangan tangannya, jam tangan berwarna hitam manis melingkar ditangannya.
"Males ah diluar lagi ujan. Kita bolos aja ya, murid-murid yang lain juga pada bolos."
Sagi melanjutkan sarapannya.
"Gak boleh gitu, Dek. Kita itu harus bersyukur, masih banyak orang-orang diluar sana yang mau sekolah tapi gak ada biaya. Orang tua kita kerja, banting tulang agar bisa menyekolahkan kita, tapi kita malah seenaknya bolos, bayangin gimana sakitnya hati orang tua kita? Orang tua kita menyekolahkan kita agar kita berpendidikan biar gak mudah ditipu orang. Orang tua kita menyekolahkan kita agar kita jadi orang sukses, contohnya, kalau orang tua kita miskin, orang tua kita gak mau kita ikut-ikutan miskin, makanya orang tua kita menyekolahkan kita agar hidup kita lebih baik dari orang tua kita. Apa susahnya sih sekolah, cuman berangkat, belajar, pulang gitu aja. Cukup waktu kecil aja, kita menyusahkan orang tua kita, kalau sudah besar jangan."
"Nanti bajunya basah gimana?"
"Kita 'kan punya jas hujan, kalo gak dipake buat apa kita beli jas hujan?"
"Tapi, jarak rumak sampai sekolah itu lumayan kak,"
"Kita 'kan naik motor bukan jalan kaki,"
"Tap-" belum sempat Sagitarius menyelesaikan ucapannya, Bumi lebih dulu memotong ucapan Sagitarius.
"Gak usah tapi-tapian, cepet ganti baju, terus kita berangkat!" Bumi mendorong Sagitarius.
"Iya, iya."
15 menit kemudian
"Udah kak, ayo berangkat."
"Nih pake," Bumi menyodorkan plastik dan jas hujan.
"Plastik buat apaan?"
"Buat tas, biar bukunya gak basah."
Bumi dan Sagitarius memakai jas hujan, lalu memasukan tas kedalam kantong kresek besar, tak lupa juga memakai payung.
~~~
Beberapa menit yang lalu
"Mak, ada kantong kresek kagak?"
Mak Bumi yang lagi beberes pun menoleh dan berkata,
"Ambil aja sono di dapur." Mak Bumi melanjutkan beberesnya.
Sesampainya Bumi di dapur.
"MAK, KANTONG KRESEK NYA DIMANA?" Bumi berteriak dari dapur, sambil celingukan.
"DI DEKET RAK PIRING, DISITU ADA KANTONG KRESEK GEDE YANG ISINYA KRESEK. SERAH LU, MAU YANG GEDE, SEDENG, KECIL, PILIH AJA," mak bumi berteriak dari ruang tamu.
"IYE, MAK." setelah Bumi menemukan kantong kresek, Bumi mengambil kantong kresek berukuran paling besar agar muat untuk tas Bumi dan adik nya.
~~~
Sagita melongo dan berkata, "Sia-sia, kita pake jas ujan, masukin tas kedalam plastik, pake payung."
"Hooh." Sahut Bumi.
Bumi dan Sagitarius telah siap dengan jas hujan dan aksesorisnya. Saat melangkahkan kakinya menuju motor, hujan yang tadinya besar sekarang mulai berhenti dan tidak hujan.
***
Sesampainya di sekolah, terlihat pak satpam sedang menutup pagar sekolah.
"Pak, kok gerbangnya ditutup sih?" Sagita turun dari motornya dan menghampiri pak satpam.
"Emangnya sekarang sudah jam berapa?" Pak satpam bertanya dari balik pagar.
"Baru, juga pukul delapan lewat sepuluh menit." Bumi melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tanganya.
"Kalian ini, sudah telat sepuluh menit!"
"Bukain dong pak!"
"Tidak bisa, ini adalah peraturan sekolah!"
"Yakin, ni pak gak mau bukain?"
"Iya, saya sangat yakin sekali!"
Sagitarius mengeluarkan handpon nya, lalu memutar sebuah video.
"Kamu tau gak, persamaan permen sama kamu?"
"Kagak tau, emang apaan bang?"
P"Karna, sama-sama manis, ea,"
Didalam video tersebut terlihat pak satpam sedang menggombali janda anak dua.
"Kalo, istri bapak tau, gimana reaksinya ya pak?"
"Eu ... ya udah kalian boleh masuk. Tapi, jangan kasih tau istri bapak ya!"
"Siap, Pak."
Pak satpam membuka gerbang sekolah. Bumi dan Sagita buru-buru masuk karna sudah telat ditambah lagi dengan berdebat dengan satpam.
"Lu dapet video itu, darimana?"
"Pas gue lagi joging, gue gak sengaja liat pak satpam sama janda kampung sebelah. Tadinya gue video in cuman buat hiburan pas gabut,"
"Gak sia-sia lu joging."
"Iya dong."
Bruk ...
"Aduh ... sakit banget ...." Sagitarius mengaduh kesakitan karna menabrak seseorang.
"Kalian ini, kenapa jam segini baru datang?" Pak matahari memandang muridnya dengan tatapan tajam setajam omongan tetangga
"Hehe ...." Sagita dan Bumi hanya nyengir sambil menggaruk tengkuk nya yang tidak gatal.
"Sekarang kalian di hukum, bersihkan toilet sekarang juga!"
Pak matahari adalah guru paling galak di sekolah.
"Ta-tapi pa-," belum sempat Sagita menyelesaikan omongan,
"Gak ada tapi-tapian cepet kerjakan!" Pak matahari terlebih dulu memotong ucapan Sagita
"Dasar pak guru galak, udah galak, nyebelin lagi." Sagita ngedumel setelah pak matahari pergi.
"Jangan gitu, Dek, bagaimana pun juga, itu adalah guru kita, guru yang akan kita gugu dan tiru. Lagian ini juga salah kita, kalo kita gak datang terlambat, kita gak bakalan di hukum. Kalau pak guru gak galak, anak-anak gak bakalan disiplin malahan bisa ngelunjak sama guru." Bumi menasihati adik nya agar tidak berada di jalan setan.
"Ouh, gitu ya, Kak. Ya udah deh besok-besok kita datangnya agak pagian biar gak di hukum." Ucap Sagita.
"Adek, kakak pinter banget sih." Bumi mengacak rambut Sagita dengan gemas.
"Iya yah, beda jauh sama kakak nya yang BODO." Ucap Sagita dengan menekankan kata BODO. Setelah mengatakan itu, Sagita berlari.
"Di puji malah ngehina. Awas lo ya!" Ucap Bumi sambil berlari mengejar Sagita.
~~~
"Capek juga bersihin toilet," Sagita dan Bumi duduk lesehan di lantai sambil menyeka keringat.
"Beli minum yuk, gue haus banget nih," Ucap Bumi.
"Ayok, tapi lu yang traktir ya,"
"Iya, iya gue yang traktir."
Sesampainya di kantin
"Bu, air minumnya 2 ya, Bu." Ucap Sagita sambil mengambil air minum rasa vanila dan coklat untuk Bumi.
"Neng, kapan mau bayar utang? Anak ibu lagi sakit, ibu gak punya uang buat berobat." Ucap Ibu kantin dengan nada sedih soalnya anaknya sedang sakit dan Sagita tak kunjung bayar utang, ibu kantin sudah lelah menagih dengan marah-marah.
"Halah, paling juga alesan biar di bayar utangnya, padahal anaknya sehat-sehat aja." Sagita menjawab dengan ketus.
"Hush ... kamu itu, kalau bicara sama orang yang lebih tua itu harus sopan jangan kayak gitu!"
Bumi menggampar mulut Sagita sampai merah.
Sagita mengelus-ngelus mulutnya yang kena gampar kakak nya.
"Berapa hutang adik saya, Bu?" Bumi mengeluarkan dompetnya yang tebal dan mengambil beberapa lembar warna merah.
"Tujuh ratus empat puluh dua ribu, Den."
"Nih, Bu, semoga anaknya cepet sembuh ya, Bu." Bumi menyodorkan uang senilai 1 juta rupiah pada genggaman ibu kantin.
"Aamiin, tapi, Den ini kebanyakan,"
"Udah, ambil aja, itung-itung buat nambah modal,"
"Makasih ya, Den. Semoga, allah membalas kebaikan aden, ibu permisi dulu ya, Den"
"Aamiin, iya bu."
"Lu napa gampar mulut gue? Sakit tau,"
"Makanya, kalo punya mulut itu dijaga, lagian juga emang lo yang salah. Bayangin kalo lo jadi ibu kantin terus anak lo sakit dan lo gak punya biaya, lo nagih sama yang punya utang sama lo, tapi yang punya utang lebih galak dari pada yang nagih utang pake caci maki segala, lo bakal sakit hati kan? Sama kayak ibu kantin, dia juga bakal sakit hati. Sekarang lo gak boleh ngutang lagi, kalo lo gak punya uang, lo mending minta uang sama gue, jangan ngehutang lagi."
(Uwwu^0^, Bumi, seorang kakak idaman, patut ditiru)
***
Pluto, Venus dan Uranus sedang beristirahat ke kantin, dan memesan bakso larva yang sangat pedas.
"Pluto, kayaknya ada yang liatin lu," Uranus menambahkan sambal dan mengaduk-aduk baksonya.
"Yang bener lu, dimana?" Pluto celingukan dan netranya melihat menangkap pandangan seorang murid laki-laki yang duduk di sudut kantin.
"L-lu bener, ada yang liatin gue terus daritadi," Pluto gugup karna dari tadi murid itu terus memperhatikanya.
"Jangan gugup, bersikap biasa aja." Venus memotong bakso nya lalu menyuapkan ke dalam mulutnya sendiri.
Pluto menunduk tak berani menatap murid itu, dan melanjutkan makannya.
Pluto adalah anak yang pintar, Pluto selalu mendapat rengking 1 atau 2. Pluto juga anak yang pemalu jika dengan orang asing dan lebih suka menyendiri.
Setelah selesai memakan bakso, Pluto memberanikan diri untuk menatap murid itu.
Beberapa detik telah berlalu, Pluto terus memandang murid itu dan, murid itu kalah dan mengalihkan pandanganya.
"Pluto, ayo kita ke kelas sebentar lagi bel masuk berbunyi." Uranus menarik tangan Pluto.
"Hm, iya." Pluto mengalihkan pandanganya dan mengikuti Venus dan Uranus.
'Aku mencintai mu Pluto' batin Euro. Euro adalah murid yang duduk di sudut kantin yang diam-diam mencintai Pluto.
***
"Dek, udah makan belom?" Bumi menyendokan nasi dan lauknya ke dalam mulut.
"Belom." Sagita menarik kursi dan duduk di sebelah Bumi.
"Makan gih," ucap Bumi sambil meneruskan makan nya
"Hooh." Sagita berlalu mengambil nasi dan lauknya, lalu kembali lagi.
Bumi menyendokan nasi dan lauk terakhir dari piringnya, tiba-tiba ...
"Krekes ... krekes ...." Sagita memakan nasi dan lauknya setelah itu menggigit kerupuk.
Bumi melongo, setelah itu, Bumi berteriak, "GUE LUPA KALO ADA KERUPUK!"
"AHAHAHAHA." Sagita tertawa dengan sangat keras.
***
Bumi dan Sagita sedang duduk lesahan di ruang tamu sambil mengobrol.
"Bang, tau gak perbedaan simbol cinta?" Tanya Sagita.
"Kagak, emang gimana?" Jawab Bumi.
"Kalo di korea, sarangheo," Sagita menyilangkan jari telunjuk dan ibu jari dan membentuk sebuah love.
"Kalo di Jepang, aishiteru,"
"Kalo di Indonesia, kertas merah bertuliskan seratus ribu rupiah," Sagita mengambil uang seratus ribu rupiah dari sakunya dan menempelkannya di jidat.
"Punya adek, kok matre amat ya,"
"Lagian cowok jaman sekarang maunya cewek yang cantik tapi gak mau biaya in, wajarlah kalo cewek mandang duit, kalo cowok mandang fisik."
"Iya yah, Dek. Mantan abang yang dulu juga ninggalin abang karna abang gak kaya," mata Bumi berkaca-kaca.
"Sabar ya, Bang. Tunjukin ke mantan abang kalo abang bisa sukses dan selera abang bukan dia lagi," Sagita menupuk-nepuk punggung Bumi.
"Iya, Dek."
Bumi tersenyum kepada Sagita.
"Dek, abang mau curhat nih,"
"Iya dong, mah,"
"Gue serius tau,"
"Iya, kenapa-kenapa?"
"Sebenernya gue itu suka sama Pluto tapi, gue malu kalo jujur sama dia," Bumi memainkan jemarinya
"Halah, jaman sekarang pake malu-malu, di gebet orang baru tau rasa lo,"
"Ya, tapi 'kan gue malu, gimana dong? Lu tau gak caranya gue biar dikejar sama dia?"
"Gampang, caranya lo lemparin batu ke kepalanya. Dijamin, lo bakal dikejar sama dia,"
Pletak!
"Kenapa gue dijitak? Sakit tau," Sagita mengelus-elus keningnya yang dijitak Bumi.
"Abisnya lu, gue ajak ngomong bener malah di bercandain,"
"Hehe ... sini gue bisikin rencananya,"
Bumi mendekatkan telinganya ke Sagita.
"Waswiswes ...," Sagita berbicara dengan berbisik-bisik.
"Lu ngomong apaan sih, daritadi waswiswes terus," Bumi menjauhkan telinga nya dari Sagita.
"Ada deh, nanti juga lo tau," Sagita dengan senyum yang sangat tipis.
***
"Bang, ada, Kak Pluto tuh, ayo kerjain rencananya sekarang," Sagita berbisik kepada Bumi.
"Ho oh." Bumi hanya mengikuti Sagita.
Pluto dan Bumi yang sedang berjalan di koridor sekolah mendekat ke arah Pluto dan sekarang tepat di belakang Pluto.
"Siap-siap, Kak," Sagita berbisik kepada Bumi.
"Gue siap." Balas Bumi dengan berbisik.
Plakk!
Sagita menepuk pantat Pluto dan buru-buru menyembunyikan tangannya.
"Au ...." Pluto meringis karna pantat nya ditepuk dengan keras.
"Ya ampun, Abang, Abang gak sopan banget sih," Sagita menatap kakaknya sambil menutup mulutnya dengan tangan.
Pluto mengalihkan pandangannya kepada Bumi, dan menyiapkan kuda-kudanya. Pluto adalah juara silat sekecamatan
"Eh-," Bumi berlari sangat kencang sebelum tulang-tulangnya dipatahkan oleh Pluto.
"DASAR ADEK LAKNAT, ANAK PUNGUT!" BUMI berteriak sambil berlari.
"Awok awok." Sagita tertawa terbahak-bahak.
"WOY! JANGAN LARI LO KALO BERANI," Pluto berlari mengejar Bumi dan beberapa menit kemudian, Pluto sudah menangkap Bumi.
Sedangkan Pluto, ia menonton, Kakaknya dan duduk di kursi yang ada di koridor sambil menumpukan kaki yang satu dan yang lainnya.
"Tunggu dulu, Anak pungut," Sagita menghentikan tawanya dan memegang dagunya dengan jari telunjuk, dan ibu jari.
"KENA, LO." Pluto menyandung kaki Bumi sehingga terjatuh, dan ...
BRUK! BUGH! PLAK! BUGGH!
Pluto memukuli Bumi tanpa ampun sampai Bumi bonyok.
Setelah puas memukuli Bumi, Pluto membereskan bajunya dan rambutnya yang sedikit berantakan dan berlalu.
"Lu, kagak kenapa-kenapa 'kan?" Sagita menghampiri Bumi, yang sedang terduduk di lantai.
"Lu kagak liat, gue bonyok gini karna lo?" Bumi berusaha bangkit dari duduknya.
"Ya maaf, ya udah balik aja yak, sekolah juga udah sepi," Sagita membantu memapah Bumi ke parkiran.
Sesampainya di parkiran Sagita mendudukan Bumi di jok motor.
"Lo yang bawa motor, atau gue yang bawa motor?"
"Lo." Bumi menjawab dengan kata yang singkat.
"Oke." Sagita mulai menaiki motor, dan menjalankan motornya.
"PELAN-PELAN ANJIR, GUE AMPIR KEJENGKANG. KALO LU MAU MATI, MATI AJA SENDIRI JANGAN BAWA-BAWA GUE!" Bumi berteriak sambil memeluk pinggang Sagita karna membawa motor dengan kecepatan di atas rata-rata.
"BISA DIEM KAGAK SIH, BAWEL AMAT JADI LAKI!" Bumi menaikan kecepatannya dan memiringkan motornya seperti pembalap.
"EH ANJIR, STOP, WOY, BERENTI! Bumi berteriak ketakutan karna tubuhnya hampir mengenai aspal.
CEKIT ...
Sagita menghentikan motornya secara tiba-tiba.
Duk!
Helm Sagita dan helm Bumi berbenturan.
"Lu kenapa ngerem mendadak?"
Sagita hanya diam tidak menjawab.
"Git, Gita," Bumi menggoyongkan badan Sagita.
Sagita diam, dan menunjuk ke suatu tempat. Bumi memandang ke arah yang ditunjuk Sagita, disana ada laki-laki dan perempuan yang sedang berpelukan.Sagita tiba-tiba berlari kesana dan,
Byur ..., Plak!
Sagita menyiram wajah Virgo dan menamparnya.
"Gue gak nyangka sama lo," hidung Sagita kembang kempis dan matanya memerah menahan amarah.
"Gue bisa jelasin ini semua, Git," Virgo menggenggam tangan Sagita tapi Sagita menepis kasar tangan Virgo.
"Dan lo, kenapa lo tega lakuin ini sama gue? Kalo lo mau, lo bisa ambil seribu cowok dari gue, gue bakal kasih semua dengan ikhlas tapi bukan nikung kayak gini. Gue itu udah anggap lo sebagai sahabat gue, gue rela ngorbanin cinta demi persahabatan walaupun kebahagiaan lo derita bagi gue," Sagita menggoyangkan tubuh gemini dan mendorongnya pelan.
"Gue bisa jelasin ini semua git, gue mohon denger penjelasan gue," gemini menggenggam tangan Sagita sama seperti yang dilakukan Virgo tadi, Sagita menghempaskan tangan gemini dengan kasar, sama seperti yang ia lakukan kepada Virgo.
"Udahlah, kalian gak usah bohongin gue, gue juga tau kalau kalian selama ini selingkuh di belakang gue. Gue sering pergokin kalian berduaan di tempat yang sepi, liat kalian jalan bareng, gue juga liat kalian curi-curi pandang terus senyum-senyum sendiri tapi pas gue tanya, kalian jawab gak ada apa-apa," Sagita menghentikan kata-katanya, Sagita mulai mengeluarkan air matanya dan menangis.
"Gu-gue gak mau egois, karna kalian juga berhak bahagia, dan gue do'a in semoga kalian bahagia. Dan gue juga minta maaf karna udah jadi penghalang buat hubungan kalian berdua," tangis Sagita yang ia tahan daritadi pecah, butiran air bening berlomba-lomba keluar dan membasahi pipinya.
"Mulai sekarang gue gak kenal sama lo berdua!" Ucap Sagita sambil terisak menangis.
(sedikit info aja, kalau air mata itu rasanya asin, kenapa author tau? Karna author pernah nyobain rasanya air mata, kalo gak percaya cek mbah gugel.)
"Jangan gitu, git. Kita gak ada hubungan apa-apa kok, aku mohon kita jangan putus ya,"
Bugh
Bumi memukul hidung Virgo hingga mengeluarkan cairan kental berwarna merah.
"Seharusnya, lo mikir dulu sebelum berbuat. Dan satu lagi, jangan ganggu kehidupan adek gue!" Bumi merangkul Sagita tan membawanya pergi dari tempat itu.
***
"Kak, kenapa ya, aku selalu disakiti? Padahal aku berusaha jadi orang yang baik kepada semua orang," Sagita menyenderkan kepalanya di bahu Bumi.
Bumi dan Sagita sekarang sedang duduk di kursi yang berada di taman.
"Mereka itu hanya mencari orang yang sempurna padahal di dunia ini tidak ada yang sempurna kecuali tuhan yang maha esa. Hanya orang yang saling melengkapi yang akan hidup dengan bahagia, hidup kamu belum bahagia sebelum kamu memiliki pasangan yang dapat menerima keburukanmu dan kekuranganmu, bukan kelebihan dan kemampuannmu. Berharaplah kepada allah, bukan kepada ciptaanya." Bumi mengelus kepala Sagita yang ada di bahunya.
(Author kagak bisa buat nasehat jadi, maaf keun sim abdi mun aya salah.)
"Kak, tadi 'kan kakak nyebut aku anak pungut, emang aku anak pungut?" Sagita mendongak menatap Bumi.
"Emang kamu anak pungut, liat aja tubuh kamu pendek, tubuh kakak tinggi. Kulit kamu putih, kulit kakak kuning langsat. Berarti kamu anak pungut 'kan?" Bumi menaikan kedua alisnya.
"Ihk, nyebelin banget sih," Sagita mencubit pipi Bumi dengan keras.
"Au ... sakit tau." Bumi mengelus-elus pipinya.
"Ahahahaha ...." Sagita tertawa karna Bumi meringis kesakitan.
"Nah, gitu dong ketawa, jangan cemberut terus, 'kan cantik kalo ketawa,"
"Kak, kita pulang yuk, udah sore nih,"
"Ya udah ayo kita pulang," Bumi dan Sagita bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah motornya.
***
"Lagi apa? Kayaknya seru banget," Bumi yang baru keluar kamar melihat adik nya yang sedang asik dengan gawai nya.
"Lagi SMS an sama operator," mata Sagita memandang kearah gawainya.
Bumi berjalan ke arah Sagita dan duduk di samping Sagita. Bumi meraih remot TV lalu menyalakan TV.
"Eh! Anjir, pulsa gua kesedot, dasar operator ERROR," Sagita membanting gawainya yang bermerek anti banting.
Bumi hanya memandang gita sekilas dan kembali fokus pada acara di TV.
"YANTO?! O ... YANTO?!" Mars berteriak sambil menyebutkan nama ayah nya Bumi.
"Siapa, sih? Ganggu gue nonton aja, padahal acara seru banget," Bumi mendengkus kesal sambil berdiri dari duduk nya.
"Eh, lu napa manggil bapaknya? 'Kan kita mau main sama anaknya." Merkuri menyikut lengan kanan mars dengan pelan.
"Gak papa sekali-kali aja, dia juga sering manggil kita pake nama bapak masing-masing." Mars menggaruk kepalanya yang gatal karna kutu, sambil nyengir.
"Nnjiir, bisa aje lu." Ucap Merkuri ikutan nyengir.
"YANTO ... O ... YANTO .... " kali ini Mars berteriak lebih kencang dari sebelumnya.
"YANTO ... O ... YAN--" belum sempat Mars menyelesaikan kalimatnya, terdengar suara deru motor.
Bremm ... (anggap aja suara motor)
Sebuah motor bermerek golnal, dengan ban motor yang kotak seperti spongebob, mamasuki halaman.
Seorang bapak turun dan menghampiri Mars dan Merkuri.
"Ada apa Mars manggil nama bapak?" Tanya pak Yanto, ayah dari Bumi dan Gita.
"Eng ... anu ... itu ...." Mars menjadi salting dan berbicara dengan gelapan, sedangkan merkuri? Ia hanya diam dan memperhatikan mars.
Cklek
Pintu terbuka dan memperlihatkan Bumi yang memakai kaos dan celana panjang.
Bumi berjalan ke arah ayahnya dan berkata, "Pak, ini temen-temen bumi, jangan dimarahin ya, Pak,"
"Siapa juga yang mau marahin? Orang meraka manggil bapak kok,"
"A ... anu, Pak, kita mau ajak Bumi main," Ucap merkuri sambil tergagap.
"Ouh, ya udah bapak ke dalam dulu ya," setelah mengatakan itu, pak Yanto pergi masuk ke dalam rumah.
"Bumi! " Bumi yang merasa namanya dipanggil pun berbalik dan melihat Venus dengan nafas terengah-engah. Bumi yang tadinya akan memasuki gerbang sekolah pun berhenti."Apa?" Lelaki yang mempunyai tubuh tinggi dan mempunyai kulit kuning langsat itu pun menatap venus." gue liat PR lo ya ... Please ... gue lupa ngerjain, liat ya ... gue takut di hukum bu Bulan." ucap venus sambil menyatukan tangannya seperti memohon.Venus adalah gadis yang cantik dengan rambut sebahu dan bulu mata lentik nya.Bumi menatap venus lalu mendelikan matanya, gadis ini selalu mendatanginya ketika tidak mengerjakan PR dengan berbagai alasan seperti, lupa bawa buku lah, ini lah, itu lah, dan lain-lain."Nggak," Bumi mamandang Venus dengan tatapan malas."Bumi, Bumi kok tega banget sama Venus?" Venus meletakan tangannya di pinggang, gadis bermata coklat itu menatap horor kepada Bumi.