Mag-log inhappy reading
jangan lupa follow @littleeva93 untuk info pembelian buku
thank uu :)
CRASHING ON ROYAL PRINCESS - I NEED YOU MORE
ELLE mengulang kata-kata Edwin di benaknya. I need you? Mungkinkah Edwin membutuhkannya? Seorang putri yang sangat ceroboh dan selalu melakukan kesalahan di setiap langkahnya. Ingin sekali Elle mempercayai kata-kata Edwin. Namun rasanya mustahil ada seseorang yang membutuhkannya. Bahkan ia sangat yakin Rafe, calon tunanganna juga tidak akan membutuhkannya dalam keadaan dan situasi apa pun.
“Stay here because I need you, Princess.” Edwin semakin mengeratkan pelukannya di perut Elle. Membuat Elle kesulitan bernapas. Elle ingin bertanya ia dibutuhkan untuk apa. Namun kehangatan pelukan Edwin membuat pertanyaan sederhana itu tersangkut di tenggorokannya.
Lama mereka saling terdiam. Elle menikmati keintiman itu. Tiba-tiba ia teringat kalau saat ini Edwin tidak mengenakan pakaian sehelai pun. Memberanikan diri, Elle berkata, “Kau membutuhkanku untuk menghangatkan ranjangmu lagi?”
Bukannya tersinggung, Edwin justru terkekeh geli.” Tidak juga.” Ia mengintip melewati bahu Elle. “Aku akan berpakaian. Jangan pergi.” Edwin mengecup pipi Elle dari samping. Ia terlihat konyol, teringat bagaimana dulu Brooklyn jatuh cinta dengan Kayla.
Edwin tidak mungkin jatuh cinta, bukan?
Pria itu berjalan santai menuju walk in closet dan mengambil salah satu celana lalu memakainya. Tidak sampai lima menit ia sudah kembali ke hadapan Elle yang saat ini sibuk memandangi hiruk pikuk kota di bawah pandangannya. Sudah lewat tengah malam. Seharusnya pesta sudah usai. Mungkin hanya meninggalkan beberapa pria yang saat ini menikmati anggur mereka. Selebihnya, semua orang pasti sudah pergi.
Elle berbalik dan mendapati Edwin berdiri tak jauh darinya. Wanita itu memandangi celana Edwin. Entah mengapa firasatnya mengatakan kalau Edwin tidak memakai celana dalam. Elle menggigit bibir bawahnya, senyum tipis muncul di wajah cantiknya.
“Kenapa kau menggigit bibirmu?” Edwin menyelipkan satu tangannya di pinggang Elle. Sementara satu tangan lainnya menarik dagu wanita itu. “Boleh aku yang menggigitnya?”
Elle mengangguk mantap. “Nakal!” komentar Edwin.
“Aku tidak akan mengijinkanmu jika kau bertanya dua kali dan tidak segera melaksanakan niatmu.”
Edwin sadar ada ancaman dalam nada itu, tetapi toh ia menyukainya. Edwin sangat suka mengancam Elle. Dan saat ini pun, saat ia tidak memiliki bahan ancaman atau apa pun. Ia sangat suka Elle mengancamnya dengan cara seperti itu. Dan tanpa pikir panjang lagi, Edwin menyatukan bibirnya dengan bibir Elle. Angin malam yang berembus lembut, bintang-bintang yang bergantungan di langit serta rembulan yang mengintip malu-malu dari balik awan putih, adalah aksi bisu bagaimana keduanya akhirnya menyadari kalau mereka ternyata membutukan satu sama lain. Bukan hanya Edwin yang membutuhkan Elle. Elle pun membutuhkan pria itu, entah sebagai apa.
Di sela-sela ciuman itu, Edwin dan Elle mendengar sesuatu yang sangat mengganggu mereka. Elle mendorong dada telanjang Edwin, wanita itu mengerucutkan bibirnya. “Kapan terkahir kali kau makan?” bibirnya semakin mengerucut melihat Edwin menggaruk tengkuknya.
“Aku lupa.”
“Astaga! Jadi kau belum makan sama sekali hari ini?” terlihat kelebat amarah dalam mata Elle. Wanita itu jelas sedang marah karena melihat Edwin tidak makan.
“Ada yang membuatku tidak merasa lapar.”
“Apa?’ tanya Elle ketus.
“Kau.” Jawab Edwin jujur.
Jawaban yang dilontarkan Edwin menimbukan rona merah di kedua pipi Elle. Ditambah tatapan lapar yang dilempar oleh pria itu kepadanya. Seketika Elle merasa lututnya melemas dan ia hampir limbung jika tidak berpegangan erat pada bahu Edwin.
“Kau harus makan sekarang.” Titah Elle tegas.
Edwin mengangguk. “Temani aku makan dan ceritakan bagaimana kau bisa sampai di sini.”
“Baiklah.”
Sepuluh menit kemudian, mereka telah duduk di sepasang kursi dan meja kecil yang sengaja dipindahkan di dekat jendela agar mereka bisa menikimati makan malam yang terlambat sembari melihat kelap-kelip kota dan hiasan langit yang menawan. Edwin menduga Elle belum makan malam. Dan dugaannya tidak keliru. Mereka akhirnya memutuskan untuk memesan makanan dan mulai makan dengan lahap layaknya sepasang kekasih. Padahal, mereka sama sekali bukan kekasih.
“Jadi, bagaimana kau bisa sampai di sini?” tanya Edwin setelah menyuapkan sesendok spaghetti ke dalam mulutnya.
“Seperti biasa.” Elle ikut menyuap makanan ke dalam mulut. “Kabur.” Jawabnya santai.
Kali ini Edwin benar-benar tersedak mendengar jawaban Elle. Melihat hal itu, Elle dengan sigap mengulurkan gelas berisi air dan menyodorkannya tepat ke bibir Edwin. “Hati-hati.” Ucap wanita itu lembut.
“Kabur?” ulang Edwin tidak percaya.
“Hembb.” Elle berdeham singkat seraya mengedikkan bahunya acuh. Seolah jawabannya adalah hal yang tidak penting, sepele.
“Kau benar-benar kabur? Dari istanamu dan datang kemari?” tanya Edwin untuk kedua kalinya.
“Iya.” Elle mulai bosan menjwab pertanyaan Edwin.
“Kenapa kau melakukannya?” tanya Edwin dengan kening mengkerut.
“Kau.” Jawab Elle singkat.
Sesaat, kedua insane saling memandangi satu sama lain. Masing-masing hanyut dalam angannya sendiri. Edwin yang kali ini terpesona dengan jawaban singkat Elle dan Elle yang kali ini tidak bisa mengenyahkan pesona Edwin dari benaknya.
Sungguh mustahil mengatakan mereka telah jatuh cinta. Namun, manusia butuh waktu untuk menyadari sesuatu, bahkan perasaan mereka sendiri. Pun dengan Edwin dan Elle.
Elle meneguk salivanya. Berusaha mencairkan suasana, ia kembali berkata. “Apa kau sudah kenyang?” tanya Elle karena ia merasa perutnya sudah lumayan terisi dan ingin segera beranjak dari sana. Angin malam membuat bulu kuduknya meremang. Elle ingin meninggalkan tempat itu.
“Ya.” Edwin mengedikkan bahu. Ia beranjak, mengulurkan satu tangannya untuk digenggam oleh Elle kemudian mereka berjalan beriringan menuju sofa panjang.
Sesampainya mereka di sofa tersebut, Edwin mendaratkan bokongnya lebih dulu. Ia menyelunturkan kakinya dan menyandarkan punggungnya di ujung sofa.Tidak memberi ruang untuk Elle duduk.
“Jadi, aku harus duduk di mana?” tanya Elle dengan wajah cemberut.
Edwin melambaikan tangannya. Meminta Elle duduk di sisinya.
Entah apa yang dipikirkan Elle saat itu. Ia menurut pada perintah Edwin. Duduk di sisi Edwin, pria itu lalu membimbing kepalanya untuk bersandar di dada, di bawah rahangnya dan ikut berbaring. Sofa itu tidak terlalu besar dan juga tidak terlalu sempit. Mereka berdua bisa berbagi sofa tersebut. Elle berbaering membelakangi Edwin dan tangan pria itu melingkar di perutnya.
“Sekarang ceritakan padaku bagaimana kau bisa kabur dari istana itu.”
“Aku sudah sering melakukannya. Aku kabur kalau teman-temanku mengajakku keluar.”
“Lalu? Malam ini kau melakukannya lagi?”
“Aku tidak punya pilihan.” Elle merasakan Edwin mengecup pucuk kepalanya. “Kau tidak datang. Aku menunggumu.” Elle menautkan jemarinya dengan jemari panjang Edwin. Wanita itu sadar akan kesalahannya. Ia meninggalkan tunangannya demi seorang bajingan seperti Edwin.
“Aku tidak mau bertemu denganmu lagi. Kau sudah bertunangan.”
“Belum.” Sanggah Elle cepat. Elle bisa merasakan lonjakan di dada Edwin.
“Apa maksudmu?” tanya pria itu.
“Sebelum keluarga kami mengungumkan pertunanganku dengan Rafe. Aku sengaja pura-pura pingsan. Bradd, Zen dan Laura membawaku kembali ke kamar. Rafe juga ikut. Dokter dipanggil untuk memeriksa keadaanku. Untungnya Bradd sudah mengatur agar sang dokter pura-pura menyuntikkan obat tidur padaku serta obat penahan ras sakit. Padahal yang dia suntikkan adalah air mineral. Setelah dokter tersebut pergi dan menjelaskan tentang keadaanku, Rafe pun membiarkan kami berempat sendiri di kamar.
“Setelah Rafe keluar, kami merancang upaya melarikan diri yang selalu kulakukan selama bertahun-tahun ini. Bradd membantuku keluar dari istana dan menyediakan sebuah mobil untukku. Sedangkan Laura dan Zen masih di dalam kamar. Berjaga-jaga kalau ada yang tiba-tiba datang. Setelah keluar dari istana, aku segera meluncur ke sini. Memaksa dua pengawalmu untuk membuka pintu kamarmu. Aku mengatakan kalau aku adalah seorang putri.”
Kekehan kecil muncul di bibir Edwin. “Dari mana kau belajar mengancam?”
“Darimu.” jawab Elle jujur.
“Bagaimana dengan pertunangan kalian?” Edwin teringat dengan Rafe lagi.
“Aku tidak tahu.” Elle mendesah pelan.
“Bagaimana kau tahu tempat tinggalku?”
“Kami menjebak Bradd. Dia berniat mengundangmu ke istananya.”
“Dia tidak akan melakukannya kalau aku menculik calon istrinya.” Komentar Edwin seraya menciumi pucuk kepala Elle.
“Kau tidak menculikku. Akulah yang mendatangaimu.”
“Kau belum mengatakan padaku kenapa kau datang kemari.”
“Aku menginginkan benda itu.” Dan dirimu. Lanjut Elle dalam hati.
Sebenarnya sejak sore, Elle memiliki firasat kalau Edwin tidak akan datang ke acara pertunangannya dan pria itu pasti akan langsung pergi tanpa berpamitan dengannya. Elle tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Satu-satunya alasan Edwin meninggalkannya adalah pengumuman pertunangannya dengan Rafe. Elle tidak menyukai Rafe. Baginya, Rafe tidak lebih dari seorang teman. Mereka jauh lebih baik jika menjadi teman, bukan pasangan. Meskipun ia juga tidak yakin kalau Edwin adalah orang yang tepat untuknya. Dan sialnya, Elle tidak bisa membayangkan lelaki lain selain Edwin.
“Aku akan memberikan milikku.” Jawab Edwin singkat. Kali ini ia yang memilin jemari Elle dengan lembut.
Sebenarnya tidak ada yang tahu bagaimana hubungan mereka bisa disebut. Baik Elle maupun Edwin bersikukuh pada dirinya masing-masing bahwa mereka tidak mungkin jatuh cinta dalam waktu yang terlalu cepat. Elle hanya menyukai Edwin. Dan Edwin tidak mungkin menyukai Elle karena ia selalu tidur dengan wanita yang berbeda setiap malamnya. Edwin sudah tidak percaya dengan apa itu cinta.
“Aku mau yang baru.” Elle menengadah untuk menatap mata Edwin. Pria itu tersenyum mengejek.
“Sang Putri tidak mau menerima barang bekas? Begitu?”
Elle mengangguk asal. Bukan itu alasannya. Elle hanya tidak mau kalau Edwin pergi terlalu cepat.
“Butuh waktu jika kau mau yang baru.”
“Aku akan sabar menunggu. Kau bisa tinggal lebih lama.”
Edwin mendesah. Jauh dari dalam lubuk hatinya ia memang ingin tinggal lebih lama. Namun ada pekerjaan yang harus diselesaikannya. “Aku tidak bisa. Aku harus pergi besok.”
Mendengar penuturan dari Edwin, Elle sontak berbalik dan menatap pria itu dengan tatapan memohon sekaligus marah. “Kau tidak boleh pergi besok!” ucap Elle penuh penekanan.
“Kenapa?” Edwin berusaha keras menahan dorongan untuk tidak membenamkan bibirnya di mulut Elle. Bagian terburuknya adalah, ia tidak tega melihat Elle memohon seperti itu.
“I need you!” ucap Elle ketus.
“Kau menggunakan kata-kataku.” Sudut bibir Edwin terangkat dramatis.
“Aku tidak pandai merangkai kata.” Ucap Elle sedih.
Melihat sorot mata itu meredup, Edwin tidak bisa menahan dirinya lebih lama lagi. Ia menarik dagu Elle dan membenamkan bibirnya di mulut Elle. Sejenak rasa manis dari bibir ranum itu memenuhi seluruh indra pencecapnya. Edwin membelai pipi Elle dengan jemarinya. “Aku harus pergi.” Ucapnya parau.
Elle hanya bisa menggeleng. Lagi-lagi genangan air mata memenuhi pelupuknya. Ia tidal bisa berkata-kata.
“Elle…” Edwin menarik kepala Elle ke dalam pelukannya. “Tempatku bukan di sini. Astaga, ada apa denganmu? Aku hanya pria brengsek yang tidak pantas berteman dengan seorang putri sepertimu.”
Bagaimana jika lebih dari teman. Kata-kata itu muncul begitu saja di benak Elle.
“Baiklah kau boleh pergi.” Elle menarik diri dari pelukan Edwin. Dengan sisa tenaganya, ia mencoba beranjak dari sana.
“Kau mau kemana?” tanya Edwin yang mendadak gugup.
“Pulang.” Elle sudah mengambil jaketnya lagi.
“Aku akan mengantarmu.”
“Tidak usah. Aku akan pulang dengan mobil Bradd. Kau boleh kembali ke New York besok. Dan aku akan melanjutkan pertunanganku yang tertunda. Ya, Rafe pasti menungguku.”
“Pertunangan?” Edwin mengulangi kata-kata yang entah mengapa seolah memiliki ribuan puluru. Sebuah kata yang siap menghujaninya dengan rasa sakit. Sebuah kata yang akan memisahkan dirinya dengan Elle selamanya. Selamanya.
“Kau tidak boleh bertunangan dengan Rafe atau siapa pun dia!” Edwin menarik Elle ke dalam pelukannya.
“Kenapa?” Elle siap menumpahkan air matanya di dada Edwin.
“Dia tidak pantas untukmu.” Jawab Edwin asal.
“Lalu, siapa yang lebih pantas?” Elle mengabaikan fakta saat ini air matanya telah luruh.
“Elle,” Edwin bergumam pelan. “Jangan pergi lagi.”
“Kau yang hendak pergi, Ed. Bukan aku.”
Edwin mengangguk. Membenarkan kata-kata Elle.
“Aku tidak bisa bertahan sendiri. Aku tidak bisa melewati semua ini sendiri. Tanyakan apakah kau bisa melewatinya atau tidak jika kau berada di posisiku. Kau yang selalu pergi. Dan aku yang harus terus bertahan. Apa kau bisa jika posisi kita dibalik?”
Edwin sepenuhnya sadar. Ia dan Elle mungkin merasakan sesuatu. Lebih dari sekedar kepuasan sesaat di atas ranjang. Lebih dari itu, mereka sama-sama merasakan getaran di jantung mereka, tepat di bawah kulit mereka masing-masing.
“I need you, Ed.” Elle meremas jemarinya sendiri. “More.”
happy readingjangan lupa follow @littleeva93 untuk info pembelian bukuthank uu :)CRASHING ON ROYAL PRINCESS - I NEED YOU MORE
happy readingjangan lupa follow @littleeva93 untuk info pembelian bukuthank uu :) Normal 0
happy readingjangan lupa follow @littleeva93 untuk info pembelian bukuthank uu :) Normal 0 false false
happy readingjangan lupa follow @littleeva93 untuk info pembelian bukuthank uu :)CRASHING ON ROYAL PRINCESS-I'LL TAKE YOU UP.
happy readingfollow @littleeva93 di ig yaCRASHING ON ROYAL PRINCESS-THE ENGAGEMENTELLE merasakan kehangatan menjalar di pipinya. Ia sangat yakin kalau saat ini wajahnya pasti merona atau lebih parahnya berubah warna menjadi merah seperti tomat. Kata-kata vulgar yang keluar dari mulut Edwin benar-benar membuatnya malu. Bayangkan saja, seorang putri raja yang akan menghadiri salah satu rapat
selamat membca Elle n Edwinsemoga kalian suka jgn lpa follow @littleeva93 untuk info pembelian bukunyaCRASHING ON ROYAL PRINCESS-UNCONDITIONAL.