LOGINSebuah warisan nama yang diberikan oleh sang ayah ternyata malah membawa bencana untuk dirinya sendiri, bukan hanya beranggapan bahwa ia adalah wanita pembawa sial, namun ia juga beranggapan bahwa drinya telah salah terlahirkan ke dunia yang penuh dengan orang-orang munafik.Kini wanita yang diberi gelar pembawa sial oleh orang-orang dan juga para asisten rumah tangga yang membenci kehadirannya telah kehilangan seorang suami yang amat dicintainya. Sudah berkali-kali Zara kehilangan kesadaran saat di pemakaman dan juga di kediamannya, ia belum siap menerima kenyataan bahwa suaminya sudah pergi untuk selamanya, juga ia belum siap menyandang status sebagai seorang janda.Setelah malam pertama yang sangat ditunggu-tunggu oleh sepasang pengantin yang baru saja melangsungkan pernikahan, tidak disangka musibah pun terjadi, kematian menjemput tanpa permisi, tidak ada pesan terakhir yang disampaikan oleh Yudha selaku suami Zara. Semua terlalu cepat,
"Jeng, sudah dengar berita heboh belum?" tanya salah satu ibu-ibu komplek yang tinggal tidak jauh dari rumah Zara dengan wajah yang dicondongkan ke depan dan suara yang dipelankan. (Ketahuilah kalian para readers, semakin pelan suaranya, maka semakin hangat gossipnya!)"Berita apa, Jeng Sita?" tanya Jeng Hanna, yang merupakan anggota arisan yang berbeda komplek dengan Jeng Sita. Wajahnya merah merona sangat senang mendengar informasi-informasi untuk bahan gossipnya bersama anggota arisan yang lain."Itu lho, Jeng, si Zara yang baru menikah dua hari lalu itu! Anaknya Jeng Marni," jelas Jeng Sita dengan suara yang terdengar bisik-bisik agar tidak terlalu terdengar oleh orang lain yang melewati kediamannya."Ih, kamu nih, Jeng, suka setengah-setengah, deh, kalau cerita," gerutu Jeng Hanna dengan wajah yang terlihat gusar menanti informasi tentang Zara."Hehe, Zara tuh kasihan ya, Jeng, sua