LOGINHujan yang mengguyur bumi dari pagi hingga saat ini—siang hari—membuat semua karyawan yang di kantor sedikit tak semangat. Seakan mereka semua telah kehilangan semangat dari matahari yang menyinari. Tapi beda hal dengan divisi marketing, entah bulan-bulan ini atau setiap hari mereka selalu sibuk. Dikejar deadline dan tugas yang menumpuk dari atasan langsung.
Pemotretan dan syuting iklan kemarin mereka bisa bernafas lega, model yang di kontak secara dadakan me
"Kenapa lancang sekali memotong pembicaraan saya?" Pria itu menghardik keras. "Sekalinya orang miskin tetaplah miskin, mereka tidak ada tempat di dunia ini. Apalagi berhubungan langsung pada kita, jangan pernah! Jadi jangan buang-buang waktu berharga kita untuk meladeni mereka. Baju dan sepatumu bisa Papa belikan lagi nanti, tapi untuk acara kita tidak bisa ditunda."Amara semakin tak mengerti kenapa orang-orang kaya banyak yang terlalu merendahkan manusia lainnya. Bukankah semua terlihat sama saja di mata Tuhan? Apa yang membuat mereka berbeda?Amara semakin memeluk erat Cakra saat merasakan pelukan Cakra yang juga semakin mengerat. Ia tahu adiknya takut."Maaf, Pak ... Bu jika perbuatan adik saya sudah melukai perasaan Bapak dan Ibu." Amara menekankan setiap kata-katanya sambil menatap dalam pria baya itu di depannya. Tak ada rasa rindu yang terpancar, yang ada hanya rasa kesal dan merendahkan."Sudahlah, jika saya minta ga