LOGINTanpa memperlama proses penasaran akhirnya Dina tersadar dari keterkejutannya. Ia dengan cepat mengambil sendok yang terjatuh di lantai dan menaruhnya di sisi kiri meja.
"Loh, bapak udah kenal dengan Amara?" sela Dina yang sedikit berbisik menimbulkan anggukan pada Yessi. Karena ia yakin bahwa Amara tak pernah berinteraksi dengan pimpinannya.
Angkasa melihat Dina. "Udah, dia karyawan baru 'kan?" Mencoba meyakinkan semuanya. Ia juga tak mungkin memberi tahu mereka apa yang
"Kenapa lancang sekali memotong pembicaraan saya?" Pria itu menghardik keras. "Sekalinya orang miskin tetaplah miskin, mereka tidak ada tempat di dunia ini. Apalagi berhubungan langsung pada kita, jangan pernah! Jadi jangan buang-buang waktu berharga kita untuk meladeni mereka. Baju dan sepatumu bisa Papa belikan lagi nanti, tapi untuk acara kita tidak bisa ditunda."Amara semakin tak mengerti kenapa orang-orang kaya banyak yang terlalu merendahkan manusia lainnya. Bukankah semua terlihat sama saja di mata Tuhan? Apa yang membuat mereka berbeda?Amara semakin memeluk erat Cakra saat merasakan pelukan Cakra yang juga semakin mengerat. Ia tahu adiknya takut."Maaf, Pak ... Bu jika perbuatan adik saya sudah melukai perasaan Bapak dan Ibu." Amara menekankan setiap kata-katanya sambil menatap dalam pria baya itu di depannya. Tak ada rasa rindu yang terpancar, yang ada hanya rasa kesal dan merendahkan."Sudahlah, jika saya minta ga