LOGINGuntur akhirnya memutuskan untuk pulang dan tertidur di rumah saja. Ia tak ingin bertemu kembali dengan teman-temannya untuk saat ini. Ia lebih memilih mendinginkan kepalanya.
Kumandang ayat-ayat suci sudah terdengar yang berarti azan subuh sebentar lagi akan terlaksana. Guntur berjalan lunglai, mengabaikan banyak orang yang berlalu lalang untuk ke tempat ibadah.
“Nak Guntur,” panggil seseorang di belakangnya, membuat Guntur mau tak mau menoleh.
“Ada
"Kenapa lancang sekali memotong pembicaraan saya?" Pria itu menghardik keras. "Sekalinya orang miskin tetaplah miskin, mereka tidak ada tempat di dunia ini. Apalagi berhubungan langsung pada kita, jangan pernah! Jadi jangan buang-buang waktu berharga kita untuk meladeni mereka. Baju dan sepatumu bisa Papa belikan lagi nanti, tapi untuk acara kita tidak bisa ditunda."Amara semakin tak mengerti kenapa orang-orang kaya banyak yang terlalu merendahkan manusia lainnya. Bukankah semua terlihat sama saja di mata Tuhan? Apa yang membuat mereka berbeda?Amara semakin memeluk erat Cakra saat merasakan pelukan Cakra yang juga semakin mengerat. Ia tahu adiknya takut."Maaf, Pak ... Bu jika perbuatan adik saya sudah melukai perasaan Bapak dan Ibu." Amara menekankan setiap kata-katanya sambil menatap dalam pria baya itu di depannya. Tak ada rasa rindu yang terpancar, yang ada hanya rasa kesal dan merendahkan."Sudahlah, jika saya minta ga