LOGINSeorang gadis berlari dengan ketakutan yang menyelimuti nya. Dengan pakaian yang sudah lusuh, kaki yang lecet akibat terkena bebatuan kecil. Dia mengenyahkan rasa sakit itu, dan berusaha berlari. Sampai akhir nya dia berhenti di sebuah pohon besar. Dia berhenti sejenak, dan mengatur nafas nya. Gadis itu kembali menoleh kebelakang, ada beberapa pria besar yang sudah di ujung jalan. Gadis itu kembali berlari. Gadis itu tidak tau kemana lagi ia akan berlari pergi. Ini sudah malam. Hujan pun mulai turun dengan derasnya. Ringisan keluar begitu saja, saat kakinya tersandung yang membuat nya jatuh tersungkur. Gadis itu mendongak saat seseorang pria berdiri di hadapan nya. Gadis itu memundurkan tubuhnya. "Jangan mendekat," teriak gadis itu saat lelaki menyeramkan itu mulai mendekat. Lelaki itu berjongkok dihadapan gadis itu, dan menyeringai. "Kau takut?" "Ku mohon, jangan sakiti aku," pinta gadis itu menangis. Lelaki itu menatap tajam gadis itu, tangan nya pun terangkat mengelus pipi gadis itu. Gadis itu memejamkan matanya, saat ketakutan dalam dirinya semakin besar. "Jangan takut, sayang. Aku tidak akan menyakiti mu. Sekarang ikutlah dengan ku," ucap lelaki itu. Gadis itu menggeleng kuat. "Aku tidak mau. Biarkan aku pergi. Ak...Aku...Berjanji, akan mengganti semua uang mu," ucap gadis itu dengan takut. Lelaki itu menatap gadis itu tajam. Ia pun kembali mengeluarkan seringaiannya. Lelaki itu merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan sebuah pisau. Gadis itu menjauhkan wajahnya, dan air matanya semakin berjatuhan, saat lelaki itu mendekatkan pisau itu ke leher dan pipinya "Kau tau, pisau ini sangat tajam. Jika kau tidak menuruti ku, aku akan membunuh mu."
View MoreV tersenyum saat melihat Lisa yang tertidur lelap. Dengan memeluk sabuk pengaman, dan menyandarkan kepala nya di kaca jendela mobil. Wajar saja kalau Lisa sudah tidur, ini sudah tengah malam. Tidak berapa lama, akhirnya mereka sampai di mansion V. Gerbang mansion itu terbuka lebar, dan V memasuka mobilnya. Pria itu membuka pintu dan berjalan keluar memutari mobil. Ia membuka pintu itu dan langsung melepas sabuk pengaman Lisa. Tanpa menunggu waktu, ia langsung menggendong Lisa.Ia berjalan pelan memasuki mansion megah nya. Namun langkah nya terhenti saat pandangan nya menangkap seseorang bertopi hitam sedang duduk di sofa nya. Dengan James yang berdiri tepat di sampi
Jungkook terlihat fokus menatap sebuah komputer yang berada di depan nya. Ia merasa khawatir, saat Rose tiba-tiba datang, dan meminta pertolongan, lalu menghilang begitu saja. Ia tidak tau kalau Rose memiliki kekuatan menghilang. Jemari Jungkook yang tadinya menari diatas keyboard, kini salah satu jari nya menekan tombol enter.Ia melipat kedua tangan nya dan memandang fokus ke layar yang terlihat sedang loading."Kalau ternyata kalian berdua hanya mengerjai ku lihat saja, rambut kalian adalah taruhan nya," gumam Jungkook.Tidak berapa lama, di layar tersebut menunjukan sebuah denah lokasi yang terlihat jelas. Bahkan lokasi itu menunjukan rumah tersangk
"Lisa, apa kau benar-benar yakin tetap tinggal?" Tanya Rose. Lisa mengangguk ragu.Rose menghela pelan. Saat ini dirinya dan Lisa, sedang duduk di kursi yang berada di taman. Taman yang tidak jauh dari apartemen Jimin. Sedangkan kedua pria itu pergi menyelesaikan urusan. Bukankah ini kesempatan bagus untuk kedua gadis itu melarikan diri? Tidak semudah itu. Tentu saja, V sudah mengancam kedua gadis itu, jika berani berbuat macam-macam. Hanya mereka berempat yang tau apa ancaman itu.Rose menggenggam tangan Lisa erat. Lisa dapat melihat dari guratan wajah Rose, kalau gadis itu sangat khawatir padanya. Lisa memasang senyum manis nya, dan membalas genggaman gadis itu."Percaya padaku. Aku akan baik-baik saja. Mungkin suli
Lisa melihat kearah luar balkon kamar nya, ralat. Kamar V lebih tepat nya. Di tangan Lisa sudah ada ponsel. Selepas makan tadi, V memberi ponsel itu padanya. Lalu ia pergi ntah kemana, setelah James datang. Lisa bingung, ia ingin menghubungi Rose, tapi percuma. Lisa tidak tau nomor ponsel Rose. Lisa kembali menatap ponsel itu, yang di dalam nya hanya terdapat nomor satu orang yaitu, V. "Kalau begini, percuma saja. Tuhan, bantu aku. Aku tidak ingin berada disini," gumam Lisa menahan tangisnya.Air kristal itu jatuh begitu saja dari pelupuk mata Lisa. Tanpa bisa ia tahan ia mulai menangis. Sungguh, ia tidak ingin berada disini. Ia benci tempat ini. Deng