LOGINAda yang sengaja dilahirkan untuk menjadi penerus kekuasaan, namun adapula yang tidak sengaja terlahir dan menjadi penguasa. Anna tidak pernah tahu jika pernikahannya hanya akan berjalan singkat. Seorang pria yang menjanjikan bahagia justru memberinya luka yang mungkin akan ia ingat sepanjang usia. Khesa Devano atau yang akrab disapa Esa, adalah nama yang Anna berikan untuk putranya. Putra yang Anna lahirkan dan besarkan tanpa sepengetahuan mantan suaminya. Seorang putra dengan pahatan wajah sempurna dan sifat yang mengundang decak kagum setiap mata. Esa merubah hidup Anna dari gelap menjadi terang tapi Esa juga menjadi jalan kembali Anna kedalam kegelapan masa lalu. Kehadiran Esa mengacaukan tatanan ahli waris yang sebelumnya sudah di siapkan oleh pihak tertentu. Semua menjadi abu-abu akibat perseteruan yang tidak lagi bisa di hindarkan hingga masing-masing dari mereka menunjukan sisi lain dari dirinya. Harta, bahkan nyawa sekalipun tidak segan mereka korbankan demi tercapainya tujuan.
View MoreAnna mengepalkan tangannya saat Dareen mengatakan dirinya akan membawa Esa pulang dan menjadikan Jane sebagai dokter pribadinya. Anna tahu ini demi kebaikan Esa, tapi kenapa harus Jane? Dan kenapa juga Jane harus tinggal bersebelahan dengan rumah tempat Anna dan Dareen tinggal dulu."Kenapa tidak dokter Hoya?" Tanya Anna kepada Dareen."Dokter Hoya terlalu sibuk Anna. Sebelumnya aku juga sudah berbicara dengan dia, dan dia sendiri malah menyarankan Jane." Jawab Dareen lembut. "Kamu tenang saja. Jane orangnya baik, dan juga sangat nyaman untuk diajak berbicara. Kita bisa mempercayakan Esa padanya, Esa mungkin akan lebih nyaman dengannya.""Kau yakin?" Tanya Anna lagi. "Dia masih sangat muda," Sebenarnya Anna tidak masalah, hanya saja dia takut. Takut jika apa yang dipikirkannya menjadi kenyataan. Terlebih saat mendengar kata nyaman yang Dareen ucapkan.Dareen tersenyum, dia memaklumi Anna yang masih terlihat ragu. "Jane mungkin terlihat seperti masih muda,
Dareen menghela nafas berkali-kali. Pikirannya penuh dan juga beban di pundaknya terasa semakin berat. Kepalanya tertunduk lesu dengan nafas yang sedikit tidak beraturan. Esa masih tidur setelah diberikan obat penenang. Sedangkan Anna sendiri belum kembali dari pemeriksaannya. Dan tidak tahu menahu tentang kejadian yang dialami putranya.Sebuah tangan dengan jari-jari lentik menyodorkan sekaleng kopi kepada Dareen. Pria itu mendongak dan tersenyum ketika melihat siapa yang memberinya kopi, dengan segera dia mengambil dan membuka tutup kaleng tersebut."Terima kasih." Dareen mengangkat kaleng tersebut dan menenggak isinya sekaligus."Kau tampak sangat frustasi tuan."Dareen hanya tersenyum menanggapi. "Kau selalu melihatku dalam keadaan seperti ini Jane. "Jane membalas senyuman Dareen dan kini ikut duduk di sampingnya. Kebetulan mereka sedang berada di koridor rumah sakit tepat di depan kamar rawat Esa."Benar juga. Setiap kali kita
Pagi-pagi sekali Anna sudah bolak-balik kamar mandi karena mual. Sudah seminggu ini dia baik-baik saja dan tidak merasakan mual, tapi pagi ini perutnya kembali tidak enak.Dareen yang baru bangun segera menyusul Anna ke kamar mandi dan memijat tengkuknya. "Keluarkan saja Anna.""Tidak ada yang bisa di keluarkan lagi kak." Keluh Anna dengan suara yang lemas."Kalau begitu duduk dulu yuk, aku akan mengambilkan air hangat." Dareen memapah Anna setelah laki-laki itu mengangguk setuju.Anna duduk sambil memegangi perutnya yang mulai bergejolak tak nyaman. Kehamilannya yang sekarang terasa lebih melelahkan ketimbang pada saat Esa dulu."Nak tenang ya. Mama kelelahan jika harus terus bolak-balik ke kamar mandi." Dareen sedikit mengelus perut rata Anna, iya hanya sedikit karena dia tak
Jesfer dan Anna kini berada di sebuah cafe yang letaknya tidak jauh dari rumah sakit. Sebelumnya mereka sudah lebih dulu meminta ijin kepada Esa, di sana juga ada Dareen sehingga Anna tidak merasa khawatir harus meninggalkan putranya. Lagipula Anna berniat tidak akan lama, hanya ingin berbicara berdua dengan Jesfer."Aku minta maaf karena pergi tanpa mengabari mu." Jesfer lagi-lagi meminta maaf untuk kesekian kalinya."Sudahlah. Aku juga tidak mempermasalahkan itu Jes." Anna menghela nafas. "Aku lebih penasaran dengan alasanmu pulang."Jesfer sedikit memainkan jari-jari tangannya diatas meja. Jelas dia tidak lagi bisa menyembunyikan apapun dari Anna. "Aku sedikit stress." Jawab Jesfer pada akhirnya."Ada masalah apa?"Jesfer tampak berpikir. Dia ragu harus mengatakan yang sebenarnya atau tidak. "Emm, pekerjaan dan beberapa hal yang terjadi belakangan ini."Anna menatap Jesfer dengan lekat. "Katakan lebih jelas. Aku tahu kau me