MasukLunar adalah beban bagi keluarganya. Dia dipaksa menikah agar tanggungan beban itu hilang. Siapa sangka ketika kabur dari pernikahan, dia bertemu pria kaya lainnya dengan takdir yang sama. Namun, kali ini dia terjebak dalam pernikahan palsu. Dari pernikahan itu dia berharap bisa mendapatkan celah untuk kabur.Arkan merupakan pebisnis ternama di kota tempat dia tinggal. Saat perjalanan pulang, dia mengalami musibah yaitu harus menikah dengan seorang wanita asing yang tiba-tiba saja muncul dari dalam bagasi mobilnya. Pernikahan itu adalah sebuah rencana buruk sepanjang dia hidup. Dia tidak akan menikahi Lunar kalau tidak karena menjaga nama baik.Bagaimana kisah Lunar dan Arkan selanjutnya? Akankah benih-benih cinta tumbuh di atas pernikahan palsu? Atau sebaliknya mereka akan berpisah seperti kesepakatan?
Lihat lebih banyakLunar memegangi bahu itu dengan kuat sambil menahan desahan yang tidak boleh lepas sepenuhnya. Dia yang selalu terbuai dengan sentuhan lembut Arkan tidak bisa menolak. Padahal seharusnya mereka berada di bawah bersama sang ibu, tetapi apa yang mereka lakukan di dalam kamar?Dia berusaha menyeimbangkan akal sehatnya kembali, "Ibu ... menunggu ...," ucapnya terputus-putus menahan kenikmatan yang menjalar di setiap jengkal jiwanya.Arkan berhenti sebentar untuk melihat wanita yang sudah dipenuhi keringat itu berbaring di bawahnya, "Kalau begitu apa kau ingin kita berhenti?" menyeringai sambil menyentuh paha yang terbuka lebar itu.Lunar menggigit bibir dalamnya mengartikan keraguan. Di harus menemui ibu, tetapi di sisi lain sulit meninggalkan kenikmatan yang telah membuatnya tidak ingin beranjak terlalu cepat."Kita bisa melanjutkannya nanti," ucapnya ada rasa tidak rela di dalamnya.Arkan tersenyum sa
Lunar membuka pintu apartemen yang berbunyi belnya. Tanpa pikir panjang dia langsung membuka pintu. Tamu yang datang ternyata adalah ibunya. Dia mempersilakan ibunya masuk ke dalam apartemen, lalu dengan kecemasan yang masih meliputi dia mengambilkan minuman beserta camilan sebagai sambutan. Dia duduk bersama ibunya tanpa berani mengangkat kepala.Pada akhirnya dia bersuara juga karena terpikirkan kesalahan yang sudah dibuat, "Maaf ....""Kau sangat merepotkan."Ucapan sang ibu membuat Lunar semakin menundukkan kepala. Dia tidak sepenuhnya menyesal, tetapi di balik itu dia juga merasa bersalah karena merepotkan kedua orangtua.Suara helaan napas panjang terdengar, "Kau tidak tahu betapa malunya kami di hadapan semua orang karena kaburnya dirimu di acara pernikahan. Ayahmu sampai sakit karena hal itu."Lunar langsung mengangkat kepala, "Ayah sakit?"Sebelum keluarganya datang ke apar
Arkan yang bersandar di dinding itu tidak langsung menjawab pertanyaan. Dia melirik Lunar yang sibuk menyantap makanan lebih dulu sebelum mengalihkan tatapan ke arah lain. Padahal dia sudah bertekad untuk menghabiskan waktu bersama Raya agar bisa melupakan wanita menjengkelkan yang selalu hinggap di pikiran, akan tetapi sepertinya sia-sia saja karena sampai detik ini pun Lunar tidak berhenti membuatnya berada dalam kesulitan."Ya. Aku bertemu dengan kekasihku," ucapnya berharap apa yang dikatakan bisa menyingkirkan apa yang tidak seharusnya dia pikirkan.Lunar menganggukkan kepala lambat-lambat. Dia mencoba memahami kalau hubungan mereka hanya sebatas orang asing saja, tetapi mendengar Arkan mengatakan hal itu kenapa rasa sesak ikut campur menghiasi dadanya? Dia tidak boleh seperti ini.Larut dalam pikiran masing-masing, tiba-tiba Lunar tersedak. Arkan yang melihat bergegas ke lantai bawah untuk mengambilkan minuman. Tidak memberika
"Memangnya selain dirimu, aku bisa meminta bantuan pada siapa lagi? Hanya ada kita berdua saja di sini. Lagi pula kenapa kau tidak ingin membantuku? Apa kau merasa enggan karena hubungan kita hanya sebagai orang asing? Tidakkah kau bisa membantu orang asing ini?"Sungguh menjengkelkan. Lunar membuat dirinya seperti orang yang mengemis saja. Padahal dia tidak perlu melakukan itu. Dia tidak harus membuat dirinya kesulitan."Kau bisa melupakannya," pada akhirnya menyerah karena sudah terlanjur kesal, "Padahal permintaanku tidak sulit," gumamnya sambil membalikkan badan.Sepeninggal Lunar, tersisa Arkan saja di dalam ruang ganti. Dia memperhatikan telapak tangan yang terbuka. Masih bisa tercium bagaimana aroma pelembap yang dipakai Lunar. Tidak sulit? Seharusnya begitu. Namun, bagaimana tidak sulit jika bau itu memabukkan dan membuat hatinya bergemuruh?"Sial," ucapnya memukul lemari kayu yang ada di hadapan.
![[Bukan] Pelakor (Indonesia)](/pcdist/src/assets/images/book/43949cad-default_cover.png)




