MasukSudah beberapa tahun Arsel muncul dalam kehidupan Arkhan. Arsel berhasil membuat Arkhan selalu tertawa karena tingkahnya, ia mengubah kehidupan Arkhan yang monoton menjadi berwarna. Arsel–ia yang menyembuhkan Arkhan dari keterpurukan akibat meninggalnya sang Kakak.Dan kini, Arkhan harus berusaha untuk bisa merelakan Arsel yang sebentar lagi akan tinggal bersama Ica. Pada kenyataannya, Arsel memang bukanlah milik Arkhan. Arkhan–dia hanya sebatas Omnya dan seseorang yang telah merawatnya dari kecil, dirinya tak memiliki hak untuk Arsel.Sedih? Tentu saja, itu lah yang dirasakan Arkhan. Namun jika dirinya tidak bisa merelakan Arsel, mungkin akan ada banyak pihak yang tersakiti. Ica yang tidak bisa bersama putri kandungnya, Arsel yang tidak bisa bersama Ibu kandungnya. Arkhan tidak mau menjadi seseorang yang egois karena tidak bisa merelakan Arsel.***Elvi memerhatik
"Aku, udah beritahu Yordan tentang Arsel" Elvi dan Gia menoleh, terkejut dengan ucapan Ica. Omong-omong, mereka sedang berada di apartemen Ica saat ini."Terus gimana tanggapannya? Apa dia marah dan nggak akan nerima Arsel?" tanya Elvi. Ia khawatir jika Yordan tidak menerima Arsel dan marah pada fakta itu, pertunangannya dengan Ica akan dibatalkan dan mereka tidak jadi menikah. Dan jika Ibu Ica mengetahui alasan jika Yordan membatalkan pertunangan mereka adalah Arsel, maka bisa saja Ibunya berbuat nekat.Ica menunduk ketika mendengar pertanyaan Elvi membuat kedua gadis itu–Elvi dan Gia langsung memikirian hal-hal buruk.***"Yordan" Ica memanggil Yordan yang sedang sibuk dengan tumpukkan berkas di mejanya. Ia kemudian duduk di sofa ruang kerjanya."Ya?" sahut Yordan singkat. Pandangannya masih tertuju pada komputer di hadapannya.
"Loh Elvi?" Gia menghampiri Elvi dengan raut wajah bingung. Kenapa semua barang Elvi dikeluarkan dari rumahnya?"Gia, nanti kumpul di Cafe yang biasa dan ajak Ica, akan aku jelasin" Elvi menepuk pundak Gia dan masuk ke dalam mobil bersama Arkhan.Gia terdiam di posisinya, netranya masih terfokus pada mobil Elvi yang menjauh. Ia lalu berbalik dan memerhatikan rumah Elvi yang kini sudah kosong. Mengingat perkataan Elvi tadi, Gia segera mengambil ponselnya dan menghubungi Ica.***'Kami sudah di Cafe'Begitulah isi pesan yang baru saja Gia kirimkan pada Elvi. Di sampingnya, Arkhan terus memerhatikan Elvi yang tetap diam saat membaca pesan itu."Pergilah dan beritahu mereka tentang kebenaran keluarga mu" Elvi terkesiap saat mendengar suara Arkhan. Seingatnya, Arkhan tadi masih berada di lantai bawah."Aku duluan"
'Ada seseorang yang akan datang ke kantor, tolong berpakaian lebih bagus dan rapi dari biasanya'Begitu lah isi pesan dari Arkhan yang dikirimkannya pagi ini.Elvi menguap. Rasanya, hari ini ia malas sekali untuk beraktivitas. Hari ini, Elvi hanya ingin bermalas-malasan saja di tempat tidurnya dengan membaca novel yang belum sempat ia selesaikan. Namun rasa malasnya segera hilang saat dirinya membaca pesan terbaru dari Arkhan.'Hari ini jangan sampai terlambat, saya akan cari sekretaris baru yang lebih kompeten jika kamu terlambat lagi hari ini'Elvi segera beranjak dari tempatnya dan berjalan cepat menuju kamar mandi. Ia tentu tidak mau jika harus kehilangan pekerjaannya, bisa-bisa dirinya jadi gembel di jalanan karena tak punya uang.***Elvi mematut dirinya di depan cermin riasnya. Ia sudah memakai baju kantor terbaiknya, sepatu yang nyaman, dan menyanggul rambu
"Kemarin, kenapa tidak berangkat?" tanya Arkhan penuh selidik. Ia sengaja berangkat lebih awal agar bisa berbicara dengan Elvi."Saya kemarin sakit" Elvi memalingkan wajahnya ketika Arkhan menatapnya tajam. Saat ini Arkhan sedang bersandar di meja Elvi dengan tangan dilipat depan dada, sedangkan Elvi berdiri di depannya dengan jarak beberapa langkah."Sakit?" tanya Arkhan memastikan. Tangannya terangkat untuk memeriksa suhu tubuh Elvi melalui dahinya."Iyaa, tapi sekarang sudah sembuh" jawab Elvi. Ia mulai berani berkontak mata dengan Arkhan.Arkhan hanya mengangguk ketika mendengar jawaban Elvi, ia langsung melangkah pergi untuk masuk ke ruangannya. Dan setelah Arkhan pergi, Elvi menghela napasnya lega.***"Ehh udah dengar belum? Katanya ada anggota keluarga Nareswari yang meninggal" keadaan kantin yang tadinya sepi karena para
Elvi mengerjapkan matanya beberapa kali, menyesuaikan cahaya yang masuk melalui jendela kamarnya. Ia memegangi kepalanya yang terasa pusing dan badannya terasa panas. Kemarin Arsel sakit, sekarang dirinya? Oh ayolah, apa semua orang yang dimarahi oleh Arkhan besoknya akan mengalami demam? Elvi tak habis pikir, bagaimana Arsel dan dirinya bisa mengalami nasib yang sama?Elvi kemudian beranjak dari tempat tidurnya dan duduk di kursi riasnya. Ia memerhatikan kantong matanya yang menghitam. Dan Elvi terkejut kala melihat jam di ponselnya yang menunjukkan angka 09.20Menghela napasnya seraya berpikir keras, antara dimarahi oleh Arkhan sekarang atau dimarahi oleh Arkhan besok. Jika ia berangkat sekarang maka Arkhan akan memarahinya lagi dan jika hari ini Elvi bolos kerja maka Arkhan akan memarahinya besok. Namun karena ia merasa badannya demam, maka Elvi memutuskan untuk membolos hari ini.Setelah berpikir tentang keputu