Se connecterTiga hari berikutnya, pernikahan Leon dan Elsa berlalu begitu saja. Mereka masih tidur seranjang walaupun Elsa masih diliputi rasa gugup yang sama, namun dia tidak bisa menyangkal bahwa tidurnya setiap malam lebih nyenyak ketimbang malam-malam sebelumnya yang dia habiskan di dalam kamarnya yang sempit, yang hanya beralaskan kasur lipat tipis.Lalu pada siang harinya, Elsa meminimalisir waktunya sebanyak mungkin di dalam kamar dan dia lebih sering bersama mami mertuanya. Menghabiskan banyak waktu di dapur, mencoba menu-menu baru yang tidak pernah Elsa ketahui sebelumnya. Sedangkan sang ayah mertua masih dalam perjalanan bisnis di Paris menggantikan Leon. Dan Leon sendiri, sekalipun dalam masa libur, masih disibukkan dengan pekerjaannya yang ia kerjakan secara online.Mami mengajarkan pada Elsa untuk menjadi istri yang berbakti kepada suami. Walau terkadang Elsa merasa statusnya yang baru terdengar dan terasa begitu asing baginya. Namun semua ajaran yang Mami aj
Pada akhirnya, Elsa masuk ke dalam kamar Leon dan sangat bersyukur bahwa lelaki itu tengah ada di kamar mandi, night shower mungkin, terdengar dari air yang mengalir. Itu artinya, Elsa tidak perlu berhadapan dengannya dan dia hanya akan menyelinap masuk ke dalam selimut lalu tidur.Atau pura-pura tidur, karena beberapa saat kemudian, setelah tubuhnya terbaring di atas ranjang, pintu kamar mandi terbuka, dan Elsa tidak bisa menghentikan degup jantungnya yang sangat kencang.Lain halnya dengan Leon yang sedikit terkejut mendapati tubuh mungil yang membelakanginya itu berada di atas ranjangnya yang besar dan luas. Sweater cokelat kebesaran yang Elsa kenakan tidak cukup menutupi semua bahunya, memperlihatkan tulang selangka yang tampak menonjol, dan Leon tidak bisa menghentikan gejolak di dalam tubuhnya yang ia kira telah padam dibasuh air dingin.Dengan kasar Leon mengusap rambutnya dengan handuk putih itu, lalu melemparnya ke keranjang kotor
Nama Elsa Putri yang ia sandang semenjak lahir sudah berganti menjadi Elsa Fernandez dalam beberapa menit yang lalu. Ketika nama itu ia ucapkan dengan lidah dalam bisikan kecil, rasanya sangat aneh dan kedengarannya juga tidak cocok. Cincin yang terselip di jari manis Elsa saat ini pun terasa semakin berat dari menit ke menit. Dia mencoba mengabaikan tatapan-tatapan penuh penilaian dari wajah-wajah yang sama sekali tidak dia kenal.Keluarga terdekat Fernandez diundang dalam acara pernikahan yang cukup mendadak ini. Tiga hari yang lalu Elsa masih mengurung diri di dalam kamarnya mengerjakan tugas sekolah, sekarang dia telah berdiri di sini, di samping pria tinggi dengan gestur kaku, suaminya.Elsa tidak tahu harus merasakan apa selain dorongan untuk meraung tangis, tapi dia sudah melakukannya pada dua malam sebelumnya. Rasa gejolak di perut itu semakin melonjak naik ketika veil putih di atas kepalanya disingkap, dan kilatan kamera membuat Elsa men
Malam itu hujan mengguyur begitu deras. Jalanan sepi, tidak banyak kendaraan yang biasanya berlalu-lalang.Di depan sebuah toko yang telah ditutup, langkah kaki menginjak jalanan berair terdengar dan berhenti di sana. Seorang pria dengan pakaian formal, tuksedo berdasi merah melekat rapi di tubuhnya. Sangat jelas terlihat bahwa dia pasti bukanlah sembarang orang.Pria itu berdecak kesal. “Sial! Kenapa harus hujan di saat yang tidak tepat seperti ini?!” gerutunya sambil menyalakan ponsel yang baterainya hampir tidak tersisa, membuat sambungan telepon di sana, namun belum sempat dia berbicara ponsel itu tiba-tiba mati yang artinya dayanya telah habis. Dia mengumpat lagi, kali ini lebih keras.Menoleh ke belakang, lelaki itu melihat seorang perempuan bertubuh kecil meringkuk memeluk lututnya sambil bersandar di pintu toko yang tertutup. Pria itu menatapnya jijik, mengiranya adalah gelandangan.Lama kemudian, karena hujan yang tidak kunjung berhen