LOGINKarena kesombongannya, Whao Jing Mei harus menerima kekalahan telak dari Dao Ming Yen. Mau tidak mau, putri yang memiliki sifat tomboy itu harus menikah dengan musuhnya sendiri. Lalu bagaimana dengan Jang Nia 'Kekasih wanitanya'? Apakah Jing Mei menyerah atau tetap pada ambisinya?
View More*****"Hattsyiiiiii."Dewa Langit menggosok-gosok hidungnya, rupanya ia sedang flu. Pekerjaan yang berat dan kurang tidur membuat kondisinya jadi memburuk. Ia terlalu banyak memikirkan urusannya tanpa peduli kesehatannya.Walau dalam keadaan kurang optimal, pria itu tetap memaksakan diri kembali bekerja di markas. Penyerangan itu tetap akan dilakukannya walau sang ratu terus mengancamnya. Jing Mei sekarang jadi miliknya, buat apa ia takut pada wanita itu.Raja Dao menghela napas panjang, badannya kurang enak untuk digerakkan namun ia tetap terus memaksa."Cari hari yang bagus untuk penyerangan kita ke kerajaan Jing," perintah Raja Dao pada pimpinan panglima."Baik Yang Mulia," jawab Panglima Zhen membungkuk hormat.Panglima itu segera undur diri ketika melihat ratu Jing Mei datang menghampiri.Wanita cantik itu menatap suaminya dengan dingin. Ia t
****Musim akan mulai berganti, Kerajaan mulai sibuk dengan banyak acara. Raja Dao Ming Yen pun seolah tak kalah sibuk, bahkan sudah hampir berhari-hari ia tak menjumpai istrinya, Jing Mei. Wanita itu sedang apa ya? Terkadang Raja yang Agung itu memikirkannya. Kegiatan dan acara yang begitu banyak membuatnya harus beristirahat kala malam sudah mencekam, terkadang juga ia harus menyelesaikan tugasnya sampai pagi. Apalagi rencana penyerangan itu sudah direncanakan jauh-jauh hari, ia tak bisa mengecewakan kanselirnya. "Aku butuh kerajaannya bukan putrinya. " Kata-kata itu selalu terngiang di pikirannya. Sepertinya kata-kata yang ia ucap dulu menjadi senjata makan tuan baginya.Ia tak bisa berhenti memikirkannya apalagi sang kasim terus mengingatkan akan ambisinya itu. Dao Ming Yen seolah terjebak dengan apa yang dulu ia anggap sebagai misinya. Ia telah memu
****Rombongan pelayan memasuki kamar Sang Ratu membuat Ratu terperanjat kaget. Dia tak habis pikir kenapa semua pelayan datang ke kamarnya berbondong-bondong. Ada apa?"Maaf Yang Mulia Ratu kami datang ke sini karena diperintah Yang Mulia Raja," ucap pimpinan para pelayan menghormat dan menundukkan kepala."Kenapa? Beraninya kalian kemari!" marah Jing Mei berdiri dari duduknya."Jangan marahi mereka!" ucap Raja Dao Ming Yen menyusul di belakang."Kau~," ucap Jing Mei tak habis pikir.Dao tak bergeming, dia justru menyuruh semua pelayan untuk menggeledah seluruh isi kamar.Jing Mei merasa heran, diraihnya lengan Dao dengan kasar. Pria tampan di depannya hanya membalikkan badan sambil menatapnya dengan enteng."Kenapa kau lakukan itu?!" marah Jing Mei, mata beningnya melotot ke arah Dao Ming Yen."Seperti kesepakatan kita waktu itu,
****Mata bening melirik kedatangan Raja Dao Ming Yen. Pria itu mengulum senyum padanya,seperti biasa Jing Mei memilih berpaling dan menatap arah lain.Kebenciannya belum juga pudar,setiap hari justru ia disibukkan dengan kebencian kebencian lainnya tentang suaminya.Dao tak tersinggung ketika menatap istrinya membuang muka,ia sudah terbiasa dengan sikap Jing Mei.Baginya wanita itu adalah warna baru dalam hidupnya.Ia akan mencari wanita itu jika sehari saja ia tak menggodanya.Raja yang diagungkan karena kehebatannya itu mendekati Jing Mei yang sibuk berlatih pedang."Kau selalu berlatih perang apa kau tak bosan?" tanya Dao seraya menaikkan alisnya sebelah."Untuk membunuhmu mana mungkin aku bosan," jawab Jing Mei ketus."Bagaimana kalau kita membuat kesepakatan," ucap Dao mencoba mengajaknya berunding."Aku takkan tertipu dengan tipu muslihatmu," jawab Jing Mei t