LOGINSejak tadi Ralina terus saja mencari keberadaan Kanza, namun sahabatnya itu tidak juga terlihat.Ralina menghentikan langkah kakinya ketika melihat sahabatnya itu sedang duduk di taman kampus."Sejak tadi aku mencarimu, dan ternyata kamu di sini, Za," kata Ralina menghela napas panjang."Oh kamu, Ral?""Hem. Ada apa sih, Za?" tanya Ralina, lalu duduk disamping sahabatnya. "Aku juga lihat daritadi kamu melamun aja kerjaannya, emang ada apaan sih?""Aku di jodohin, Ral," jawab Kanza."Di jodohin? Ah masa?""Iya. Malam nanti keluarga lelaki itu akan datang melamarku dan menentukan tanggal," jawab Kanza."Wah. Dengan siapa kamu di jodohkan? Masih jaman ya, dijodohin segala.""Makanya itu, aku sedang banyak pikiran. Nama lelaki itu Alden Gian.""Alden Gian?"Sejenak Ralina terdiam, seperti ada sesuatu yang ia pikirkan. Nama Alden Gian sepertinya tak asing."Ral, tolongin aku donk," rengek Kanza."Nolong gimana? Aku aja takut sama keluargamu. Kakak-kakakmu itu disiplin.""Ya
Hidup memang harus di jalani, siapa yang tak ingin menjalani hidup meski tak pernah bisa sejalan dengan keinginan kita. Hari ini Jakarta sedang di landa hujan deras, kilat seakan bersahut-sahutan membuat keluarga yang sedang makan malam masih mengobrol tanpa memperdulikan hujan. Kanza adalah anak bontot dari 3 bersaudara, dia memiliki kakak laki-laki. "Masih ingat janji kita, 'kan?" tanya Lina—sang Mama yang selama ini hidup sebagai single parent. "Janji apa, Ma?" tanya Sammy—kakak pertama Kanza yang sudah beristri dan memiliki dua anak. Nama putranya adalah Ksatria, dan nama putri bungsunya Kania. Sammy, Said dan Kanza saling bertukar pandangan. "Besok keluarga Hartono akan datang melamar." Ningsih menatap putrinya Kanza yang kini memicingkan mata menatapnya. "Mama mau menikah lagi?" tanya Kanza menautkan alis. "Keluarga Hartono bukan datang untuk melamar Mama, Sayang," kata Lina. "Keluarga Hartono 'kan yang punya usaha tekstil di Eropa," jawab Sammy, membuat Lina menga