LOGIN
"Kau!" kata Emely terkejut."Apa kau terluka? Maaf! Aku tidak sengaja menabrakmu. Akan kuantar kau ke UKS," kata pria yang memiliki nama David itu. Dia cemas melihat akan luka Emely yang cukup parah."Tanggung jawablah. Semua ini gara-gara kamu, tahu!" kata Sarah yang masih marah-marah."Iya. Makanya aku akan membawanya ke UKS. Apakah aku salah?" sahut David dengan nada dingin."Ya ... ya cepat, sana! Kau pergilah. Biar aku yang pergi ke lapangan nanti" kata Sarah. "Jaga dia baik-baik," lanjut Sarah kepada David, lalu pergi.Kemudian David mencoba membantu Emely untuk bangkit. Ia pun berhasil berdiri dengan bantuannya. Walaupun saat ini Emely berjalan dengan kaki sedikit pincang, tapi itu tidak masalah bagi dirinya."Terima kasih, ya," kata Emely."Ini sudah tanggung jawabku kok." David menebarkan senyumannya.Sepanjang jalan
Keesokan harinya.Ini adalah hari kedua Emely melaksanakan MOPD di kampusnya. Walaupun dirinya masih merasa malu karena kejadian hari kemarin pada ospek pertama, ia harus tetap mengikuti kegiatan tersebut. Karena itu salah satu point plus untuk menjadi murid teladan di kampus. Emely benar-benar menjalani hari yang cukup berat.*Di dalam kelas.Emely tengah duduk di bangku baris ke-3 berdampingan dengan seorang wanita yang belum dia kenal. Dia berharap bahwa di dalam kelas tidak akan ada masalah seperti hari sebelumnya.Dia menengok dan memberikan senyuman kepada wanita di sampingnya itu. Lalu dia pun mulai berkenalan agar segera menjadi teman yang akrab."Hai. Aku Emely. Panggil aja aku Emi. Karena semua orang manggilnya kek gitu," sapanya terlebih dulu."Hei. Aku Sarah. Salam kenal ya!" sahut Sarah menebar senyum ramah padanya."Salam kenal juga. Semoga kita bisa menjadi teman baik," kata Emely.
Ospek hari pertama sudah selesai dengan pengalaman buruk bagi Emily. Saat di kelas, dia harus mendapatkan ejekan dari semua teman-kepada karena rayuan yang sudah dirinya katakana kakak kelas yang sudah dikenalnya, Brian."Cieee ... keindahan yang sulit untuk berkedip. Perih dong matanya karena berkedip mulu. Hahahaha!" ejek orang-orang di kantin, membuat Emily malu ketika bertemu dengan orang-orang di sana."Gila! Bahkan semua siswa sudah tahu akan hal itu," umpat Emily seraya menyeruput minuman yang di ucapkan.
Ospek mulai dilaksanakan di Universitas Tinggi Senada. Emily yang sering dikenal dengan nama Emi itu mulai mengikuti kegiatan ospek bersama panitia lainnya. Dia baru saja lulus dari SMA (Sekolah Menengah Atas) dan dia lanjutkan untuk kulis di universitas yang dia impi-impikan selama masa SMA yaitu Universitas Tinggi Senada, yang katanya sekolah favorit, teladan, menarik, juga terbilang keren, bahkan katanya sekolah universitas tersebut itu sekolah paling susah untuk bisa dimasuki dan diterima menjadi seorang mahasiswa, karena itu, yang bersekolah di sana adalah mahasiswa/mahasiswi yang terpilih dan sudah pasti tak biasa.Jikalau ada orang biasa yang berhasil masuk, bukan karena nyogok atau menyuap. Akan tetapi memang karena dia beruntung bisa masuk di sekolah sana. Karena sekolah yang terbilang paling elit di antara universitas lain itu tak pernah menerima uang haram berupa sogokan/suapan apa pun dari orang tua
"Brian! Brian! Brian!"Suara itu serentak diucapkan oleh kalangan gadis-gadis di kampus. Brian yang sedang bertanding basket, nampak wajah yang sangat serius. Kedua kakinya sangat lincah, ketika berusaha untuk menghindar dari lawan. Gerakan apapun yang memungkinkan refleks ketika dinyanyikan oleh mengambil bola dari.
Terlihat Emely berjalan di koridor apartemen dengan perlahan dan tenang, sambil membawa beberapa kantong keresek berisi makanan, dan mendengarkan musik dengan volume kecil. Lalu tak disangka, dirinya mendengar sesuatu yang mengganggu pikirannya.Suara seorang wanita dengan nada yang berat seraya mendesah dengan keras, membuat Emely merasa geli mendengarnya. Apalagi ketika wanita itu mengatakan, "Cepat, cepat!"Wanita itu terdengar semakin menggelikan, entah apa yang mereka lakukan. Namun saat ini Emely sangat penasaran dengan asal suara tersebut, pasalnya suara mereka mengalahkan suara musik yang didengar olehnya. Alhasil dia berniat untuk mengintipnya secara diam-diam. Kebetulan, pintu apartemen mereka terbuka sedikit.Dalam pikirannya terlintas, "What the ...? Apa mereka sengaja tidak menutup pintunya? Atau bagaimana, sih?"Emely benar-benar dibuat terkejut, ketika mendapati sebuah pemandangan y