LOGINBugh.
Kiara menoleh ke belakang saat mendengar seseorang yang dipukuli, dia segera bersembunyi di balik pohon besar, ditengah remangnya malam, samar-samar dia bisa melihat empat lelaki berjas memukuli seseorang, Satu diantaranya bertubuh tegap dan wajahnya terlihat seperti lelaki yang bengis.
"Kamu, perempuan yang disana, keluarlah. Sebelum aku yang menghampirimu."
Kiara terkejut dan melangkahkan kakinya berat, dia agak gemetar ketakutan, apalagi melihat salah satu dari keempat lelaki berjas itu membawa senjata tajam. Kiara mencoba melangkah mendekat, terlihat jelas wajah tampan Alexandro.
"Berapa lama sembunyi disitu?" tanya Alex kepada Kiara, dia mengepalkan tangannya, paling membenci seorang penguntit.
"Barusan Om." Kiara memberanikan wajahnya menatap Alex.
Sontak jawaban Kiara membuat ketiga pria berjas lainnya menahan tawa karena panggilan 'Om'. Kiara sendiri tak tau apa salahnya sampai dia dipanggil, dia baru saja pulang dari kuliah malam, dan tidak sengaja melihat keributan ini.
"Om? Berani kamu memanggil saya Om?"
Alex mendekat dan menarik dagu Kiara, tinggi Alex menutupi tubuh mungil Kiara. Dalam satu pukulan saja mungkin Kiara bisa melayang. Mata mereka saling bertemu, manik mata Alex menatap mata Kiara yang sendu, dan bahkan mungkin tersirat luka?
"Ma-maaf pak, saya hanya lewat di gang ini, rumah saya disana."
Kiara menunjuk rumah putih besar di ujung gang, dia mencoba lebih sopan kepada Alex. Tapi Alex menerimanya seperti ejekan, tadi dipanggil Om, sekarang dipanggil Pak.
"Oh rumah itu?" tanya Alex lagi. Kiara menjawabnya dengan sekali anggukan. Entah kenapa perasaan Alex menatap Kiara ada getaran aneh yang menjalar. Getaran yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
"Apa kamu penguntit?" tanya Alex lagi, sedangkan Kiara menjawabnya dengan gelengan kepala. Dia terlihat lucu bagi Alex.
"Oke. Silahkan lewat."
Alex lalu mundur selangkah dan mempersilahkan Kiara melewatinya, tercium aroma sabun bunga violet yang sangat khas dan membuat Alex mengingat wangi itu.
Setelah melewati Alex, dari kejauhan Kiara dapat mendengarkan, "Cari tau dia."
Kiara pasrah sudah, dia tak tau lagi mau bagaimana, dia seperti buronan yang diincar dimana-mana, dia sudah menghindari dan bersembunyi dari rentenir, tapi kali ini dia malah dimata-mata oleh seseorang yang tidak ia kenal, bahkan dia sama sekali tidak tau terlibat masalah apa dengannya.
***
Setiap orang pasti memiliki cobaan, begitu juga dengan Kiara. Dia membuka laptobnya dan mencari pekerjaan freelance, jika rumah besar ini nantinya akan disita, setidaknya dia akan menyiapkan diri untuk tinggal di kos. Beberapa lowongan pekerjaan mencari sesuai dengan spesifikasi dia, dan pilihan Kiara jatuh kepada guru les bahasa Inggris. Nilai Toefl Kiara sudah 600 lebih, sudah pasti dia akan diterima menjadi guru bahasa Inggris.
Dengan semangat Kiara menekan nomor telpon pemilik les bahasa Inggris itu, gajinya memang tidak seberapa, hanya 2-3 juta saja. Tapi setidaknya Kiara bisa bertahan hidup dengan uang itu.
"Halo? Selamat pagi, apa benar ini les bahasa Inggris Smart Speak?"
"Iya, benar saya Adrelina pemilik les ini, ada yang bisa saya bantu?"
"Saya ingin melamar menjadi guru les di Smart Speak apakah masih bisa ya bu?" tanya Kiara . Sungguh saat ini tidak ada harapan lagi untuk melamar pekerjaan selain di Smart Speak.
"Aduh mbak, maaf sudah penuh lowongannya."
Kiara mendesah pelan dan menutup telponnya, dia lalu mencari lagi pekerjaan freelance namun tidak ada yang cocok dengannya. Kiara lalu tertidur pulas diatas kasurnya, dan tanpa dia sadari telah terlelap hingga ke pulau kapuk.
***
"Gak mau tau, cari informasi tentang perempuan tadi."
Perintah Alex kepada dua bodyguardnya. Dia lalu masuk ke dalam mobil dan membenahi dasinya, bercak darah melekat pada jas hitamnya. Alex melepasnya dan memasukkan ke dalam kantong hitam.
"Bos, yakin mayatnya enggak disingkirin?" tanya salah satu bodyguardnya. Mobil mereka sudah menjauh, tapi sedari tadi body guardnya masih melihat ke belakang. Melihat mayat lelaki yang baru saja mereka habiskan nyawanya.
"Jangan bodoh. Yang perlu dihilangkan hanya jejak kita, buat apa kita repot-repot membuang wayatnya? Oh ya, saya jadi penasaran, apa reaksi perempuan tadi kalau lihat tetangganya mati di jalan."
Alex tertawa kecil lalu mengambil sebotol bir yang ada di samping, menikmatinya perlahan dan meneguknya sampai habis.
"Bos, saya khawatir bos. Kalau ketahuan bagaimana?" ucap bodyguardnya lagi.
"Sekali saya dengar satu ucapan dari mulut kamu ...." Alex mengeluarkan pistolnya dan mengacungkannya ke kepala bodyguardnya.
"Ampun, enggak bos."
Dor. Terlambat.
Supir mobil Alex segera berhenti, mayat bodyguard segera dia bereskan dan membuangnya ke pinggir jalan yang sepi tanpa ada mobil yang lalu lalang.
"Ingat Roy, kalau kamu macam-macam dengan saya, saya tidak segan-segan langsung membunuh kamu."
Roy mengangguk mengerti maksud Alex, lalu kembali melajukan mobilnya.
Rumah pagar coklat yang megah dan mewah terlihat seperti bangunan orang kaya, siapa sangka dibaliknya tinggal seorang Alex yang tangannya sudah tidak bersih lagi, entah berapa orang yang sudah dia bunuh selama ini, mungkin tak terhitung. Selama ini semuanya berjalan dengan lancar sesuai yang dia inginkan. Tetangganya selalu mengira Alex adalah lelaki tampan yang sangat baik dan hidup mandiri. Bahkan Alex tidak pernah pelit untuk memberikan uang sumbangan ataupun uang untuk biaya sekolah anak tetangganya yang kurang mampu.
Alex hendak memejamkan matany untung tidur, namun bayangan gadis cilik tadi yang dia tegur membuatnya terbayang-bayang. Wajah cantiknya terus terlintas dalam pikiran Alex. Rupanya Aphrodite telah memanahkan cupid ke dalam otaknya. Malam itu, wajah Kiara berhasil membuat Alex terjaga sepanjang malam.
Bugh.Kiara menoleh ke belakang saat mendengar seseorang yang dipukuli, dia segera bersembunyi di balik pohon besar, ditengah remangnya malam, samar-samar dia bisa melihat empat lelaki berjas memukuli seseorang, Satu diantaranya bertubuh tegap dan wajahnya terlihat seperti lelaki yang bengis."Kamu, perempuan yang disana, keluarlah. Sebelum aku yang menghampirimu."Kiara terkejut dan melangkahkan kakinya berat, dia agak gemetar ketakutan, apalagi melihat salah satu dari keempat lelaki berjas itu membawa senjata tajam. Kiara mencoba melangkah mendekat, terlihat jelas wajah tampan Alexandro."Berapa lama sembunyi disitu?" tanya Alex kepada Kiara, dia mengepalkan tangannya, paling membenci seorang penguntit."Barusan Om." Kiara memberanikan wajahnya menatap Alex.Sontak jawaban Kiara membuat ketiga pria berjas lainnya menahan tawa karena panggilan 'Om'. Kiara sendiri tak tau apa salahnya sampai dia dipanggil, dia b
Kiara meremas pelan surat yang dia pegang, surat peringatan melunasi segala utang ayahnya. Betapa malangnya nasib Kiara, dia kini hidup sebatang kara, ayah dan ibunya telah pergi meninggalkannya. Umur Kiara masih 18 tahun, apa yang bisa Kiara lakukan untuk menebus utang perusahaan ayahnya sebanyak 5 miliar?Kiara menghempaskan tubuhnya ke atas kasur, dia menatap ke sekeliling kamar, apa yang bisa dia lakukan saat ini? Dia hanyalah gadis remaja yang masih kuliah di semester satu jurusan Psikologi, bagaimana menebus semua utang itu? Kiara membuka aplikasi m-bankingnya, saldo yang dia miliki hanyalah lima belas juta. Bagaimana cara dia memutar uang agar bisa mendapatkan lima miliar dari lima belas juta?