LOGINViviani Putri Hermawan gadis 16 tahun yang masih duduk di kelas satu SMA, jatuh cinta pada seorang pria yang usianya jauh diatasnya, yaitu Abraham Adi Wijaya 27 tahun, pengusaha muda sekaligus tetangganya.namun, penolakan Bram yang dingin dan tak tersentuh membuat Ivy melarikan diri ke tempat nenek dan kakeknya di Singapura.kini setelah sekian 5 tahun berselang akhirnya Ivy kembali ke Jakarta, sialnya Ivy mendapati kenyataan bahwa daya tarik seorang Bram masih sangat kuat. dan hal ini semakin sulit baginya untuk menghindar.bagaimana kisah Abraham untuk mendapatkan mempelai pengantinnya?
View MoreHari ini Abraham mulai masuk bekerja kembali, ada rasa sedikit semangat untuknya setelah bertemu Eka sahabat Ivy. setidaknya wanita itu mengatakan akan membantu dirinya untuk menemukan pengantinnya kembali.Abraham berjanji akan segera mendapatkan Ivy kembali, meskipun sampai saat ini belum ada kabar dari orang suruhannya untuk mencari keberadaan Ivy. Saat pertama kali Abraham menginjakkan kakinya kembali di kantor, banyak pasang mata yang memperhatikannya takut-takut, bahkan ada beberapa karyawan berbisik-bisik menggosipkan mengenai pernikahan Abraham yang batal.Abraham menggertakkan giginya menahan amarah yang ini meledak, sepertinya Abraham harus melakukan pemecatan masal untuk mereka. Abraham duduk merenung di ruangannya memperhatikan berkas-berkas yang menumpuk, bekerja memang penting tapi keberadaan Ivy jauh lebih penting dari apapun.Sekeras apapun Abraham untuk berkonsentrasi, tapi t
Happy reading!??????"APA?" teriak Abraham kaget dengan ucapan Eka.Saat ini mereka masih di dalam mobil, di tepi jalan yang sepi. Eka menceritakan pada Abraham mengenai surat ancaman dan teror yang terus berlanjut, Eka juga menceritakan bagaimana Ivy gelisah saat datang ke rumahnya waktu itu.Abraham mendengarkan semua cerita yang mengalir dari mulut Eka, ia menggeram marah dan mencengkeram stir kemudi sampai jari-jarinya memutih."Kenapa kalian tidak bilang sedari awal padaku?" tanya Abraham marah karena Ivy dan Eka bungkam mengenai teror itu."Aku awalnya ingin memberi tau om, tapi Ivy mencegahku karena peneror itu tau gerak-gerik Ivy dan aku." "Jadi karena itu kalian tetap bungkam?" Eka mengangguk.Abraham memijit pelipis dan kepalanya yang terasa berdenyut, ia tak habis pikir dengan s
Pria itu kembali dari dapur dengan membawa nampan berisi makanan, dan meletakkannya ke meja makan."Makanan sudah siap, ayo kita makan!" panggilnya mengajak Ivy untuk makan malam.Ivy menatap makanan yang tersaji di meja, cukup membuat air liurnya menetes karena rasa lapar yang teramat sangat."Apakah itu semua kau yang memasak?" tanya Ivy pada pemuda itu.Pemuda itu menggangguk tersenyum. "Aku hanya bisa masak air, telur, dan mie instan saja." jawabnya terkekeh.Tanpa menunggu lama dan bertanya ini itu lagi, Ivy langsung saja duduk dan mulai mengambil nasi beserta telur dan mie instannya."Apakah enak?" tanyanya saat melihat Ivy mulai menyuapkan makanannya."Ini enak sekali!" jawab Ivy dengan mulut penuh. "tapi lebih enak lagi jika kau memasak mie goreng." ucapnya kembali memberitahu bahwa ia lebih menyukai mie goreng."Ah iya, besok-besok aku ak
"Apa yang sebenarnya terjadi padamu nona?" tanya pria tersebut."Entahlah, ceritanya sangat panjang." ucap Ivy.Pria itu tampak mengangguk dan mempersilahkan Ivy untuk masuk ke dalam mobilnya, ragu-ragu Ivy untuk percaya pada pria yang baru di kenalnya."Kau sungguh bukan orang jahat kan?" tanya Ivy memastikan sebelum masuk ke dalam mobil."Tentu saja nona—""Ivy, namaku Ivy." "Ah iya, nona Ivy.""Panggil saja Ivy!" pinta Ivy yang merasa risih jika di panggil nona."Ok baiklah Ivy." Pria itu mengendarai mobilnya bersama Ivy yang ikut dengannya, Ivy teringat saat dirinya di giring keluar oleh para penjahat dari ruangan pengantin wanita. Lihatlah! bahkan Ivy masih memakai gaun pengantinnya.Pria itu tampak fokus menyetir, sesekali ia melirik Ivy dan melemparkan senyuman terbaiknya.Ivy ikut balas ter