LOGINDia, wanita yang seharusnya kuhormati layaknya Ibu sendiri ... justru menjadi penggoda imanku. Aku lelaki normal, lelaki biasa yang tak lepas dari khilaf. Aku telah berusaha menjaga kesetiaanku, namun wanita dengan kerling mata nakal itu mengikis keteguhanku. Entah bagaimana aku akan keluar dari jerat asmaranya. Inilah kisahku, Adarga Handanu ....
View MorePanggilanku mengejutkan Arini dan Martin. Tapi aneh, kenapa hanya terkejut saja? Harusnya ada rasa takut yang tersirat di wajah mereka."Eh, Mas Danu. Sejak kapan di sini? Terus ... kenapa pakai baju ojol?" Arini memicingkan mata, seolah meminta penjelasan."Kapan aku di sini itu tidak penting, yang terpenting adalah ....""Oh iya, Mas. Ini kenalin, dia Bobby suami ke empat Ibu." Dengan tenang dan menunjukkan sikap ramah, ia memperkenalkan aku pada pria yang lebih tampan dariku itu.Apa? Bobby? Dia suami ke empat ibu mertuaku, itu artinya dia ayah mertuaku. Tidak mungkin, kenapa ayah mertuaku masih muda dan ketampanannya mengalahkan aku meski hanya selisih setingkat, sih.Aku menjabat tangan Bobby dan berusaha untuk bersikap wajar. Beruntung aku tidak langsung main gampar, jika tidak pasti hanya malu yang aku dapat.Arini mengajakku duduk, tepat di hadapan Bobby. Sedangkan Arini tep
Napasku kini teramat lega. Pasalnya, nenek lampir namun semlohai itu telah kehilangan muka di hadapan Arini. Aku bisa melenggang bebas tanpa harus takut dengan rayuan setan berwujud makhluk cantik nan menggoda.Setelah kejadian itu, ibu mertua lebih banyak diam dan mengurung diri di kamar. Dia keluar hanya untuk makan atau ketika butuh sesuatu. Tak ada lagi belahan dada rendah, tak ada lagi kerling nakal, apalagi desah manja.Kerling nakal itu justru telah berubah menjadi mata sendu yang menyiratkan kesedihan. Aku yang melihatnya sedikit tersentuh di sisi lain hatiku, meski aku laki-laki tapi hatiku tetaplah selembut salju yang mudah meleleh jika melihat orang bersedih."Dek, kasihan Ibu," ujarku ketika usai makan malam melihat ibu mertua langsung masuk kamar tanpa pamit."Semua hal ada resikonya. Biarkan dia merenungi setiap kesalahannya." Arini masih saja bersikeras dengan pendiriaannya, membiarkan ibunya dalam ke
Setelah berhasil menjebak Bu Hera dengan pertanyaan yang mampu menggiring pengakuan wanita licik itu, Arini langsung menghapus video rekaman yang dijadikan senjata wanita haus belaian tersebut.Sungguh lega hati ini melihat begitu cerdasnya Arini mengurai benang kusut akibat ulah ibu mertuaku yang kelakuannya sudah abnormal. Tak bisa kubayangkan jika Arini lebih percaya pada ibunya, aku tak akan pernah siap kehilangan wanita yang telah mengalihkan duniaku.Kini, perhatianku kembali tertuju pada sosok wanita yang membuatku berdecak kagum. Baru kali ini aku menyaksikan kecerdasan istriku, layaknya detektif Conan yang sedang membuka tabir misteri penuh alibi.Baru saja aku dibuat terperanjat oleh aksinya, sekarang aku dibuat penasaran oleh sebuah video yang ia kirim ke ibunya. Banyak tanda tanya besar yang berputar di otak memenuhi ruang rasa ingin tahu.Arini menyerahkan kembali gawai Bu Hera dan memintanya untuk memb
"Dek, tolong jangan percaya. Itu hanya jebakan yang sengaja dibuat oleh Ibu." Aku mencoba meminta Arini untuk mengerti, berharap ia mampu memilah siapa yang benar dan siapa yang salah.Tak pernah aku sangka kalau ibu akan menggunakan video rekaman itu di saat-saat Arini sedang begitu romantisnya denganku. Sepertinya ini adalah cara wanita licik itu untuk merusak hubunganku dengan Arini. Mungkin ia cemburu.Arini masih tak mempedulikan ucapanku, ia masih saja fokus dengan video dalam gawai itu. Sungguh ini membuatku ingin menghabisi wanita itu. Apalagi saat kulihat lengkungan bibir menghias wajah wanita barbar yang seolah menyiratkan ia sedang mengejekku."Arini, sekarang kamu lihat sendiri bagaimana suami memperlakukan aku. Aku ini hanya wanita tua yang lemah, dia pukul pun aku tak kuasa membalas." Wanita iblis itu kembali mengompori peri baik hati yang masih saja bersikap tenang dengan posisi duduk manisnya.Ah, Ar