Mag-log inOm Dani menatap Vega keheranan. "Kamu sepertinya terkejut. Apakah... ibumu tidak menceritakan perjanjian di antara kami?"Vega mengigit bibirnya mendengar pertanyaan Om Dani. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Karena pria itu terus menatapnya dengan wajah bertanya, akhirnya Vega mendeham."Uhm... Mama pernah menceritakannya, Om. Tapi Mama sendiri kan tidak tahu apakah Om punya anak laki-laki atau tidak. Jadi Mama tidak pernah menganggapnya serius," kata Vega memberi alasan.Ia merasa tidak enak jika Om Dani membahas tentang perjodohan itu dan kemudian... memaksa Altair untuk menikahi dirinya?Bisa dibayangkan, nanti pemuda itu akan bersikap semakin judes kepada Vega.Tidak. Terima kasih.Om Dani tersenyum. "Ah.. ya, tapi kenyataannya anak Om memang laki-laki, dan usianya juga pas untuk kamu. Altair sudah pernah berjanji kepada Om untuk mencari kamu dan nanti kalau kalian bertemu, dia akan menikahi kamu. Jadi, kalau di sisi kami, sama sekali t
Vega sedang sibuk mengetik beberapa laporan yang diminta Rune di laptopnya sehingga ia tidak memperhatikan seorang pelanggan masuk ke dalam toko dan berdiri di depannya, menatap gadis itu dengan penuh perhatian."Ehh... selamat sore, Pak. Ada perlu apa, ya?" Ketika terdengar suara Tante Rosa dari arah pintu, barulah Vega mengangkat wajahnya dari laptop. Ia ingin tahu siapa gerangan orang yang ditegur oleh sang pemilik toko."Eh..?" Gadis itu tersentak kaget ketika menyadari siapa laki-laki yang berdiri di depannya. Tanpa sadar ia menutup laptopnya dan menekap bibir.
Vega tidak ingat telah berapa lama sejak ia merasa selega ini. Selama bertahun-tahun pkirannya selalu dipusingkan oleh masalah uang. Setiap bulan ia pasti harus memikirkan bagaimana ia bisa mendapatkan cukup uang untuk membayar biaya hidup sehari-hari, membeli pakaian seragam, buku-buku, ikut kegiatan praktik, dan masih banyak lagi.Jangankan bersenang-senang atau memanjakan diri, bahkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja ia harus memeras otak. Kalau ia tidak memiliki banyak teman yang begitu baik kepadanya, bisa dibilang mungkin sekarang ia tidak akan ada.Vega sudah biasa berhemat. Segala sesuatunya akan dipakai hingga tetes terakhir. Ia juga tidak pernah membeli sesuatu yang tidak sangat ia butuhkan. Kini, saat ia melihat saldo tabungannya masih cukup banyak setelah ia membayar biaya kos dan membeli bahan-bahan makanan selama seminggu ke depan, Vega menjadi terpaku.Ia masih memiliki sisa uang... Ia merasa sangat terharu.Tanpa terasa air mata m
Ekspresi Altair tampak benar-benar kesal dan akhirnya ayahnya mengangguk. Ia berjalan menghampiri anaknya dan mereka pun keluar lewat pintu. Vega hanya bisa memandang mereka dengan mata berkaca-kaca.Ia tak tahu mengapa Altair sangat membencinya. Ia juga tidak sempat menyapa ayah Altair. Ah.. sekarang ia bisa mengerti kenapa ibunya dulu sangat mencintai lelaki itu.Ibunya dan ayah Altair tumbuh bersama. Mereka memang memiliki hubungan yang sangat dekat. Dari penampilannya, Vega dapat melihat tentu pria itu dulu sangat tampan. Wajahnya sangat mirip dengan Altair sekarang. Ia juga terlihat sabar dan baik hati.Vega berpikir begini bukan karena ia tidak menyayangi ayahnya. Tentu saja kalau ibunya jadi menikah dengan cinta pertamanya, Vega tidak akan terlahir ke dunia ini. Vega menyayangi ayahnya dan bersyukur ia dilahirkan dalam keluarga mereka.Ia tidak dapat mengetahui pasti apakah ibu dan ayahnya saling mencintai setelah menikah bertahun-tahun akibat dijo
Karena Rune sudah memberinya kepercayaan, Vega tak ingin menyia-nyiakan kesempatan itu. Ia segera pulang dari kampus dan bergegas ke toko dengan netbooknya. Netbook ini adalah hadiah patungan dari teman-teman sekelasnya saat ulang tahunnya yang lalu.Mereka tahu Vega tidak memiliki keluarga dan akan berjuang keras untuk bisa meneruskan kuliahnya, karena itulah mereka patungan uang untuk membelikan netbook agar gadis itu dapat mengerjakan tugas-tugas kuliahnya dengan baik untuk memperoleh nilai yang bagus demi memperoleh beasiswa. Saat ia menerima hadiah itu, Vega merasa sangat terharu.Ia beruntung karena toko tempatnya bekerja memiliki fasilitas Wi-Fi gratis. Ia sering mengerjakan tugas kuliahnya di sana. Toko ini sengaja menyediakan Wi-Fi agar para pelanggan yang kebanyakan anak muda mau singgah di sana lebih lama.Mereka juga menyediakan beberapa meja dan kursi di teras toko agar mereka dapat nongkrong dan mengobrol bersama teman-temannya sambil menikmati kop
Vega sangat bahagia ketika menerima uang tunai 1,5 juta rupiah sebagai upah pekerjaannya selama 10 hari keliling dengan agensi Jaya. Bu Dina juga mengatakan bahwa mereka menyukai pekerjaannya dan akan memanggil Vega untuk proyek-proyek lainnya kalau mereka membutuhkan SPG.Dengan hati lapang dan langkah kaki ringan, Vega segera naik angkot ke ATM terdekat untuk memasukkan uangnya ke dalam rekening. Karena sangat gembira, tanpa sadar ia bersenandung.Besok hari senin, ia sudah bisa kembali berangkat kuliah karena ia sudah punya ongkos. Vega gembira sekali.Ia juga sudah meminta daftar tugas dari Rara dan menghabiskan sepanjang hari di toko sambil mengerjakan tugas-tugas dari dosen selama ia bolos. Ada dua mata kuliahnya yang benar-benar kritis dan tidak bisa bolos lagi karena ia sudah menghabiskan jatah absen tiga kali. Vega berharap tidak akan ada proyek di hari mata kuliah tersebut. Ia tidak tahu apakah nanti ia akan terpaksa memilih mencari uang atau sekolah.