ANMELDENAyah Altair dan ibu Vega saling mencintai di masa muda, namun mereka tak dapat menikah karena takdir berkata lain, sama seperti sepasang bintang Alturus dan Vega yang terpisah di angkasa. Karenanya mereka membuat perjanjian bila anak masing-masing lelaki dan perempuan akan diberi nama demikian dan kelak akan dijodohkan untuk mewujudkan mimpi mereka. Sejak kecil Altair dan Vega tahu akan hal ini. Mereka tak pernah bertemu dan semakin mereka dewasa mereka yakin perjodohan itu tak akan terjadi. Namun apa hendak dikata, saat kuliah Vega bertemu dengan Altair di kampus, sebagai seniornya yang menyebalkan dan telah memiliki pacar.
Mehr anzeigenOm Dani menatap Vega keheranan. "Kamu sepertinya terkejut. Apakah... ibumu tidak menceritakan perjanjian di antara kami?"Vega mengigit bibirnya mendengar pertanyaan Om Dani. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Karena pria itu terus menatapnya dengan wajah bertanya, akhirnya Vega mendeham."Uhm... Mama pernah menceritakannya, Om. Tapi Mama sendiri kan tidak tahu apakah Om punya anak laki-laki atau tidak. Jadi Mama tidak pernah menganggapnya serius," kata Vega memberi alasan.Ia merasa tidak enak jika Om Dani membahas tentang perjodohan itu dan kemudian... memaksa Altair untuk menikahi dirinya?Bisa dibayangkan, nanti pemuda itu akan bersikap semakin judes kepada Vega.Tidak. Terima kasih.Om Dani tersenyum. "Ah.. ya, tapi kenyataannya anak Om memang laki-laki, dan usianya juga pas untuk kamu. Altair sudah pernah berjanji kepada Om untuk mencari kamu dan nanti kalau kalian bertemu, dia akan menikahi kamu. Jadi, kalau di sisi kami, sama sekali t
Vega sedang sibuk mengetik beberapa laporan yang diminta Rune di laptopnya sehingga ia tidak memperhatikan seorang pelanggan masuk ke dalam toko dan berdiri di depannya, menatap gadis itu dengan penuh perhatian."Ehh... selamat sore, Pak. Ada perlu apa, ya?" Ketika terdengar suara Tante Rosa dari arah pintu, barulah Vega mengangkat wajahnya dari laptop. Ia ingin tahu siapa gerangan orang yang ditegur oleh sang pemilik toko."Eh..?" Gadis itu tersentak kaget ketika menyadari siapa laki-laki yang berdiri di depannya. Tanpa sadar ia menutup laptopnya dan menekap bibir.
Vega tidak ingat telah berapa lama sejak ia merasa selega ini. Selama bertahun-tahun pkirannya selalu dipusingkan oleh masalah uang. Setiap bulan ia pasti harus memikirkan bagaimana ia bisa mendapatkan cukup uang untuk membayar biaya hidup sehari-hari, membeli pakaian seragam, buku-buku, ikut kegiatan praktik, dan masih banyak lagi.Jangankan bersenang-senang atau memanjakan diri, bahkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja ia harus memeras otak. Kalau ia tidak memiliki banyak teman yang begitu baik kepadanya, bisa dibilang mungkin sekarang ia tidak akan ada.Vega sudah biasa berhemat. Segala sesuatunya akan dipakai hingga tetes terakhir. Ia juga tidak pernah membeli sesuatu yang tidak sangat ia butuhkan. Kini, saat ia melihat saldo tabungannya masih cukup banyak setelah ia membayar biaya kos dan membeli bahan-bahan makanan selama seminggu ke depan, Vega menjadi terpaku.Ia masih memiliki sisa uang... Ia merasa sangat terharu.Tanpa terasa air mata m
Ekspresi Altair tampak benar-benar kesal dan akhirnya ayahnya mengangguk. Ia berjalan menghampiri anaknya dan mereka pun keluar lewat pintu. Vega hanya bisa memandang mereka dengan mata berkaca-kaca.Ia tak tahu mengapa Altair sangat membencinya. Ia juga tidak sempat menyapa ayah Altair. Ah.. sekarang ia bisa mengerti kenapa ibunya dulu sangat mencintai lelaki itu.Ibunya dan ayah Altair tumbuh bersama. Mereka memang memiliki hubungan yang sangat dekat. Dari penampilannya, Vega dapat melihat tentu pria itu dulu sangat tampan. Wajahnya sangat mirip dengan Altair sekarang. Ia juga terlihat sabar dan baik hati.Vega berpikir begini bukan karena ia tidak menyayangi ayahnya. Tentu saja kalau ibunya jadi menikah dengan cinta pertamanya, Vega tidak akan terlahir ke dunia ini. Vega menyayangi ayahnya dan bersyukur ia dilahirkan dalam keluarga mereka.Ia tidak dapat mengetahui pasti apakah ibu dan ayahnya saling mencintai setelah menikah bertahun-tahun akibat dijo