LOGINLumatannya terasa manis. Pelukannya seakan melindungi. Laura bergidik dalam pelukan laki-laki yang bahkan baru dikenalnya dalam hitungan bulan. Seakan ia telah terjebak dalam permainannya sendiri. "Kenapa kamu menciumku?" tanya laki-laki itu. "Entahlah," jawab Laura lirih. "Dan kenapa kamu malah membalas ciumanku itu?” Laki-laki itu berpikir sejenak sembari menatap manik mata di depannya. "Aku hanya mengikuti naluri, La. Dan naluriku menginginkannya lebih.” Tidak ada yang tahu skenario apa yang sebenarnya Laura dan Abraham persiapkan. Awalnya mereka menolak dijodohkan, tapi endingnya mereka berdua malah menyepakatinya. Mereka akhirnya menikah. Tanpa debat. Juga tanpa paksaan. Tapi bagaimana jika perbedaan mencolok keduanya malah membuat mereka tanpa sadar saling bergantung satu sama lain? Ketika masa lalu Abraham hadir kembali dan membutuhkan sebuah pertanggungjawaban, Laura dihadapkan pada suatu pilihan yang sulit. Mempertahankan atau melepaskan?
View MoreKesepakatan yang terjadi di antara Laura dan Abraham akhirnya terlaksana siang ini di hari Minggu setelah sehari sebelumnya Abraham mengabarinya via Whatsapp. Laura berulang kali membetulkan letak pakaian yang melekat di tubuh semampainya, dan berharap ia tidak salah memilih pakaian. Salahkan Abraham yang tidak memberinya masukan tentang busana apa yang pantas ia kenakan saat bertemu dengan Bundanya nanti—membuat Laura harus putar otak memilah pakaian yang ada di lemarinya saat ini.“Mau pakai pakaian apa saja terserah. Asalkan nggak telanjang.” Begitu balas Abraham tadi. Di
Laura melenggang masuk ke dalam sebuah resto tempat di mana ia membuat janji. Seseorang melambaikan tangan ke arah Laura seolah memberitahunya ke mana meja yang harus ia tuju. Abraham meneliti Laura dengan sebelah alisnya yang terangkat.“Telat tiga puluh menit,” kata laki-laki itu ketika Laura meletakkan bokongnya di kursi. “Aku paling nggak suka menunggu orang tukang ngaret begini,” tambahnya lagi.
Abraham memaki dirinya. Ia tidak menyangka jika keputusannya membatalkan perjodohan waktu itu berimbas negatif pada keluarganya. Suasana seisi rumah tidaklah sama lagi seperti sebelumnya. Begitu banyak perubahan yang terjadi, termasuk pada Bundanya. Bunda masih mogok bicara padanya sampai sekarang. Mau sekeras apapun Abraham berusaha meminta pengertian, Sang Bunda tetap tidak bergeming sama sekali. Bunda bahkan seolah-olah tidak menganggap Abraham ada di rumah. Mau ia pulang atau tidak, Bunda tidak peduli. Benar-benar hebat daya pikat dari perempuan bernama Laura Wilona untuk Bunda.
Freya tidak kuasa menahan tawanya. Ia sama sekali tidak menyangka jika sahabatnya yang cantik itu diberikan julukan ‘Perempuan Alien’ oleh mantan calon suaminya. Laura tertegun memandang Freya yang masih tergolek lemas memegangi perutnya yang mendadak kram akibat terlalu banyak tertawa. Pertemuan Laura dengan Abraham waktu lalu meninggalkan kesan mendalam untuknya. Laura benar-benar tidak menyangka jika dokter tampan itu ada di tempat kejadian. Entah disengaja atau tidak.“Sumpah deh, La. Aku jadi penasaran seperti apa sosok Dokter Abraham itu. Kocak banget Dokter satu itu.