Se connecter"Sin,... Mmm,... kita ambil sesi fotonya kapan ya?" tanya Rania saat aku mengepas beberapa baju yang akan dipakai Rania untuk pemotretan."Kita mau launching tanggal 15 bulan depan. Pemotretan dua pekan lagi lah kira-kira," jawabku sambil menaikkan resleting gaun Rania yang sangat fit di badannya. Yah, memakai Rania dan Ardi sebagai model adalah pilihan yang tepat saat mendadak seperti ini. Bukan hanya karena gratis, tapi juga karena kami masih mempunyai ukuran badan mereka untuk pembuatan wedding gown."Syukurlah kalau begitu. Soalnya...," tiba-tiba Rania berhenti. Mukanya yang putih berubah menjadi merah seperti kepiting rebus.Sedetik...Tiga detik...Sepuluh detik..."Soalnya apa, Ra? Jangan setengah-setengah dong kalau ngomong," protesku agak sebal karena merasa diberi harapan kosong. Bukan masalah besar sih. Tapi, memang enak ya dibuat penasaran?"Itu, Sin. Ka
Tempat yang biasa kami kunjungi tutup, jadi Rama membawaku ke restoran lain yang agak jauh dari markas. Pemandangannya indah sekali karena suasananya tepi laut. Beruntung sekali kami masih mendapatkan tempat duduk di tempat yang strategis mengingat pengunjungnya cukup padat saat ini. Pemandangan yang super romantis dipadukan dengan live music memang sangat pas menemani pengunjung yang ingin bersantai selepas bekerja seharian.Aku memang tidak jadi makan Lasagna, tapi makan seafood segar dan sampai puas di tempat sebagus ini sambil menikmati sunset sungguh ampuh untuk menghilangkan penat. Melupakan sejenak bebanku seharian tadi, baik tentang video Sinta-Rahwana maupun tentang mama."Gimana? Kamu suka tempatnya?" tanya Rama padaku, walaupun sebenarnya dia sudah sangat yakin aku akan menyukai tempat ini."Iya banget, dong," jawabku lengkap dengan senyuman puas. "Sayangnya, banyak orang pacaran di sini. Yang jomblo jadi baper."
Inilah hal yang aku paling tidak sukai dari duniaku. Dimana privasiku menjadi konsumsi publik. Sejak kecil orang akan meliput apapun tentang kehidupanku dan keluargaku hanya karena orang tuaku adalah publik figur. Pesta ulang tahunku, percakapanku dengan pengasuhku, mainan yang aku beli, nama kucing-kucingku, judul novel dan komik yang kubaca, atau bahkan koleksi sandal dan sepatuku.Hal ini mulai mereda setelah mama mengurangi aktivitasnya di dunia hiburan karena memilih untuk merawatku dan berusaha menjadi istri yang baik untuk papa. Maklum, papaku adalah lelaki pencemburu sekalipun tahu mama hanya bermesraan dengan artis lain hanya untuk keperluan akting.Beranjak ke usia remaja, saat aku mulai menekuni dunia modelling, lagi-lagi publik mulai menyoroti kehidupan sehari-hariku. Hal ini mengimbas pada kehidupan orang-orang di sekitarku, termasuk Rama. Kehidupan Rama yang tadinya tenang, jadi sering diburu wartawan karena dikira pacarku. Rama
"Masih sakit?" tanyaku merasa bersalah, sambil mengelus luka bekas gigitanku di tangan kiri Rama. Lukanya sudah mengering, tapi masih ada bekasnya. Aku pun teringat obat penghilang bekas luka yang aku beli di apotek beberapa hari lalu, saat pulang dari rumahnya. Kuambil obat itu dari dalam tas dan menyodorkannya ke arah Rama. "Ini, aku beli dua hari lalu. Dioles aja, takutnya berbekas.""Hmm? Emang kenapa kalau berbekas? Biasa aja tuh. Aku malah berharap jangan sampai hilang bekasnya seumur hidup," kata Rama."Kok gitu?" tanyaku heran. Apanya yang nggak apa-apa? Bukankah bekas luka baik bagi perempuan maupun lelaki adalah cacat? Apalagi di tempat yang terlihat begitu."Biar pas lihat ini, kamu selalu inget kelakuanmu yang barbar," kata Rama sambil tertawa lebar. "Trus kalau ada apa-apa, aku bisa blackmail kamu pakai luka ini. Hahaha..."Aku hanya memanyunkan bibir, pura-pura ngambek. Dalam hati, entah kenapa aku mal
"Eh, ada Sinta disini. Maaf tadi Tante nggak dengar kamu masuk. Kirain Rama sendirian," kata Tante Ratih saat memasuki kamar Rama. Aku yang masih belum sepenuhnya sadar karena kejadian tadi, hanya memandangi Tante Ratih dengan senyuman yang aku paksakan. Nafasku masih memburu. Mukaku masih terasa panas dan agak gatal karena kumis dan jenggot Rama yang baru saja menyapu kulit wajahku."Kenapa kamu nggak bangunkan Rama?" tanya Tante Ratih lagi hendak membangunkan Rama yang masih tertidur."Jangan!! Nggak usah, Tan. Biar Rama istirahat aja. Lagian Sinta juga udah mau pulang, kok," tolakku sambil memperhatikan muka Rama yang tertidur bagai bayi. Iya, anak ini tertidur pulas, setelah apa yang dia lakukan barusan tadi? Sulit dipercaya. Apa dia mengira tadi itu mimpi? Kalau benar begitu, jangan sampai dia tahu aku ada disini. Tidak ada saksi yang melihat kejadian tadi... Kalau begitu, tinggal menghilangkan jejak saja."Oh ya, Tante.
Sudah tiga hari aku tidak ke butik. Rasa marahku sudah mereda. Kulihat notifikasi di ponselku. Kulihat Rama sudah tidak menghubungiku lagi. Sejujurnya, aku sedikit kecewa."Huh, baru tiga hari sudah menyerah...," kataku sebal, manyun-manyun sendiri seolah Rama bisa melihatnya. Kalau dipikir-pikir, hypocrite banget sih aku. Diuber-uber sebal, nggak diuber-uber nyariin.Tiba-tiba ponselku berdering. Kulihat nomor telepon "markas R&S" di layar. Senyumku mengembang. Nah, kan, dia nyariin aku lagi sekarang."Pakai nomor markas lagi. Memangnya aku nggak tahu kalau itu kamu?" kataku pada diri sendiri sambil tersenyum-senyum sinis. Kusiapkan emosiku agar tak terlihat terlalu senang karena merindukan Rama. Aku angkat telpon dengan muka bete, sekalipun nggak akan kelihatan sama dia."Ngapain telepon pakai telpon markas? Ini kan urusan pribadi!!!" bentakku. "Asal kamu tahu ya, aku ngangkat telepon bukan berarti aku m