เข้าสู่ระบบ
New York turun salju hari ini, debu tipisnya berterbangan di udara. Steve berjalan cepat memasuki gedung kepolisian lima lantai. Hampir saja ia terpeleset karena kecerobohannya. Dengan langkah cepat ia masuk ke dalam lift lantai dua dan masuk ke dalam ke dalam ruangannya dengan tergesa-gesa."Steve. Sudah ada perkembangan kasus sebelumnya. Ini pembunuhan berencana, berantai dan pelakunya sudah pasti psikopat," Jane membawakan kopi hangat dan menaruhnya tepat di meja kerja Steve.Layar komputer Steve menyala. Ia memasukkan password dan mencari data tentang pelaku. Sampai saat ini ia belum menemukan titik temu. Sama sekali.Steve menggosok-gosok telapak tangannya pada dagunya yang klimis. Sesekali ia mengerucutkan bibirnya lalu berdecak aneh. Jane, tetap setia duduk di kursi di hadapannya."Jane, kau sudah cek stasiun radionya? Aku ingin tahu, siaran langsungnya yang terakhir."Jane
If you see me you have to screamYou will know that you will endToday...Suara lirih itu, Steve mendengarnya. Di luar jendelanya yang temaram, ia menatap sesosok anak yang duduk di bawah pohon ek kecil. Sosoknya yang mungil mengingatkan Steve pada Lassy, anjing kecilnya dulu.Steve bangun dari ranjangnya dan menguap lebar. Diliriknya jam meja di nakasnya. Tepat pukul dua pagi. Dan anak itu, masih ada di sana? Apa yang dia kerjakan? Hei, ini sudah masuk musim dingin. Apakah dia tak ingin merasakan hangatnya perapian atau selimut tebal di ranjang?."Masuk, kau!!" satu teriakan lolos dari bibir seorang wanita yang selalu anak itu panggil, Ibu. Steve menoleh ke arah jendela. Ia melihat dengan mata kepalanya sendiri, anak itu menjerit ketakutan saat sang Ibu memaki dirinya."Maaf, Ibu...." rintihnya.Steve turun ke lantai bawah. Ia menuju dapur dan menyalakan lampunya. Ia melapisi daha
"Steve, ada peretasan lagi. Kali ini ada dua stasiun radio." Jane berteriak kencang seakan-akan tak ada siapapun di ruangan itu. Steve mendengus keras. Ia mengusak kasar rambutnya, dua tiga helai berdiri diantaranya.Sudah hampir satu bulan, stasiun radio di kota New York diretas. Alasannya, tidak ada. Tidak satupun orang yang bertanggung jawab akan hal ini. Entah apa motifnya. Namun yang pasti, setelah peretasan terjadi pasti ada korban berjatuhan.MurderSteve menggoyang-goyangkan ujung penanya. Matanya terarah pada jendela ruangannya di lantai dua yang pandangannya berpusat pada gedung mewah di depannya. Steve seorang jenius. Ia berambisi menjadi seorang detektif kelas atas yang sempurna dalam memecahkan berbagai kasus.Ia pernah di rekrut oleh agen detektif kelas 1 di Amerika, namun diberhentikan secara tidak hormat karena satu kesalahan. Wanita.Ya, ia bermain mata dengan salah satu wanit