LOGINDi sebuah ruangan yang terlihat seperti aula sebuah kantor besar. sedang berlangsung rapat, namun ada yang ganjil. di salah satu bangku yang ada di ruangan itu di isi seseorang yang baru saja tadi pagi tertangkap kasus prostitusi."bagai mana kau bisa sebodoh itu! apa di otak mu hanya ada selangkangan?"."sudah. tenang lah sedikit" lerai seorang laki-laki yang berprofesi sebagai ketua partai pendukung. "yang harus kalian pikirkan adalah bagai mana kita menghapus berita ini dan menjadikan nya berita baik".perdebatan terus terjadi namun salah satu dari mereka merasa seperti mereka sedang di permainkan. mana mungkin razia terjadi tanpa pemberitahuan dan siapa yang memanggil pers untuk meliput. seperti ada seseorang yang tau pergerakan yang mereka susun."perdebatan bodoh kalian sudah selesai?. sepertinya jika kalian terus seperti
Selamat membaca :Menarik napas panjang. Raya meletakan pipinya keatas meja kecil di kamarnya, ia mengerjap kan mata pikiran nya berkelana ke beberapa hari belakangan. Bayangan itu semakin banyak dan semakin dekat tidak seperti biasanya."Apa yang membuat mereka terus mengikuti ku?" Gumamnya dengan lirih. Jari-jarinya sibuk memutar-mutar sebuah koin kuno pemberian ayahnya.Tanpa mengetahui seseorang mengintai rumahnya dari dalam sebuah mobil mewah. Semirk tipis tersungging di bibir orang itu."Sudah banyak ternyata". Matanya menatap tajam ke arah seseorang yang berdiri tak jauh dari mobil miliknya.Dengan sengaja ia nyalah kan lampu mobil mewahnya yang mengakibatkan cahaya menyorot langsung kearah orang misterius tersebut. Selanjutnya dia keluar dari mobil mewah tersebut
SMA Praja. salah satu sekolah berskala internasional di ibukota . rata-rata muridnya berasal dari kalangan menengah atas. beruntung Raya bisa mendapatkan beasiswa di sana berkat nilainya yang tergolong tinggi. walaupun disana Raya hanya penerima beasiswa namun tak ada yang membuly nya.kehidupannya sebagai pelajar sangat normal seperti remaja kebanyakan, berbincang dikala istirahat bersama sahabatnya seperti saat ini adalah salahsatu kegiatan rutinya."Ra kamu yakin mau lanjut kerja di tempat itu?" tanya Ica dengan wajah yang dibuat lebih dekat kearah telinga Raya.Raya yang tidak tahan akhirnya tertawa akibat rasa geli yang di timbulkan hembusan napas Ica di telinganya."ihh kamu ditanya serius jugak.. malah ketawa"Raya mencoba menahan tawanya untuk menjawab pertanyaan Ica. "Habi
langit telah berganti warna, bulan telah menggantikan matahari. seorang gadis berjalan di terotoar ibukota dengan tas sekolah masih bertengger di punggungnya.suara hembusan napas kasar terdengar saat tak sengaja matanya melihat seorang gadis muda seusianya keluar dari toko pakaian ternama."enak ya jadi orang kaya gak usah mikirin nyari duit udah bisa makan" keluhnya dengan mencebikan bibirnya.namanya Raya hidup sebatang kara di ibu kota yang kejam ini, ayahnya menjadi korban tabrak lari yang kasusnya tidak di usut sampai saat ini. saat ini Raya masih sekolah berkat beasiswa yang diterimanya, bermodal ijazah SMP ia melamar kerja di sebuah bar. uang yang dihasilkan nya dari bekerja digunakannya untuk kebutuhannya sehari-hari."hai Raya.. kamu mau pulang? ayo masuk biar om antar sampai rumah". ini yang paling ia benci dari peke