Home / All / SINGLE DADDY / Chapter 1

Share

SINGLE DADDY
SINGLE DADDY
Author: Pupe Maelani

Chapter 1

Author: Pupe Maelani
last update publish date: 2020-09-07 10:47:19

'Oek oek oek'

Terdengar sayup-sayup suara tangisan bayi dan membuat langkah lebar seorang pria terhenti. Kepalanya menoleh kiri kanan mencari dari mana asal suara tersebut. Keadaan sekitar terlihat sepi dan mencekam, terlebih udara malam terasa dingin karena angin berhembus membawa awan hujan yang menyelimuti langit kota. Sejenak telinganya menangkap jika suara tangisan tadi telah hilang dan dia pun bernafas lega sambil mengelus dada.

"Aman … aman. Jangan sampai orang ganteng kayak gue ketemu setan. Bisa turun derajat gue jadi orang ganteng. Setan mah hepi lihat muka ganteng gue. Lah, gue apes kalau sampai lihat dia, bisa mandi junub tujuh kali pakai lumpur!" oceh pria tersebut seperti orang gila.

Kakinya kembali melangkah menuju mobilnya yang terparkir di sebuah taman kota dan nampak sudah sepi karena jam sudah menunjukkan pukul 11 malam. Terlalu asik mengobrol dengan penjual jamu langganannya di taman itu,dia lupa waktu hingga berakhirlah dia sendiri dengan suasana taman yang berubah mencekam. Seketika bulu kuduknya meremang ketika melewati sebuah pohon besar dan beredar kabar jika pohon tersebut ada penunggunya.

"Sompret, gue merinding," gerutunya pelan saat di depannya pohon besar terlihat di mana dahannya melambai tertiup angin seolah menggoda.

"Gue yakin, penunggu itu pohon pasti lagi lihatin gue," gumamnya lagi.

Dia mempercepat langkahnya. Sesekali mobil berlalu lalang dan tentu tak ada niat berhenti. Pria itu berjalan sambil mengelus tengkuknya yang meremang dengan degup jantung seperti habis marathon.

"Permisi, anak bagong mau lewaaaaat …," ocehnya ketika tepat melewati pohon besar tersebut yang terdengar menjawab ucapannya.

'Wes wes wes'

Bukan, itu bukan suara jawaban penunggu pohon, melainkan hanya nyanyian dahan pohon yang bersentuhan karena tertiup angin. Dia pun bergerak cepat mendekati mobilbyang terparkir tak jauh darinya kini. Namun, dalam langkahnya yang tergesa, dia melihat sebuah kardus berlogo minuman tergeletak di depan pintu mobilnya. Setiba dia di depan pintu mobil, dia terhenyak melihat apa yang ada dalam kardus tersebut. Sepasang mata bulat menatap lembut padanya. Senyumnya terukir dan begitu menggemaskan. Ternganga dia melihatnya dan menelan saliva berkali-kali sambil mengucek mata. Kepalanya menoleh kiri kanan dan hanya dia seorang yang ada di situ serta mobil yang sesekali lewat.

"Ini anak kucing atau anak bagong, ya?" gumamnya pelan.

Perlahan dia menurunkan tubuhnya menjadi berjongkok agar menatap lebih dekat kardus beserta isinya tersebut. Terlihat makhluk kecil menendang-nendangkan kakinya sambil menatapnya seolah minta diangkat.

"Tuhan, yang bilang anak bagong itu saya. Sekarang langsung dikasih anak bagong beneran!" ocehnya sambil mencolek pipi lembek itu yang justru tertawa.

Pria itu mengangkatnya dari dalam kardus. Matanya terlihat segar dan tak kantuk. Mulutnya mengulum ibu jarinya seperti kehausan. Pakaiannya berwarna pink dengan bando dan sepatu yang senada.

"Bagong asal mana kamu, Nak?" tanya pria itu mengangkatnya tinggi-tinggi.

Terdengar suara gumaman tak jelas dari mulutnya yang kecil seolah menjawab. Terukir senyum bahagia di wajah pria itu dan memalingkan tatapannya pada pohon besar tak jauh dari posisinya.

"Apa bayi lucu ini anak kamu, wahai pohon besar? Apa aku boleh membawanya pulang? Jika boleh, jawab cepat dan beri tanda kalau kausetuju!" ucap pria itu santai.

Tanpa menunggu lama, kilat tiba-tiba saja menyambar pohon tersebut dan menjatuhkan ranting yang cukup besar. Matanya terbelalak dan tubuhnya terjungkal ke belakang jarena kaget sambil mendekap erat bayi tersebut yang justru tertawa.

"Astagaaaa!" serunya karena kaget. Secepat kilat dia bangkit dan membuka pintu mobil untuk menyelamatkan diri karena hujan mulai turun. Namun, sebelum masuk ke mobil, pria itu bergumam.

"Bayi dugongmu kuambil. Kapan-kapan aku datang lagi membawanya ke sini untuk main-main di akhir pekan. Jaga diri dan jangan main petir sembarangan. Permisi!" pamit pria itu dan menutup pintu mobil.

Mobil yang dikemudikannya melaju menembus jalan yang semakin sepi bersama hujan yang turun semakin lebat. Tanpa dia ketahui, ada sosok yang berdiri tak jauh dari pohon tengah berdiri memegang sebuah botol susu dan menatap kepergian pria itu yang telah membawa bayi itu entah ke mana. Tangannya perlahan meraih benda pipih yang dia tempelkan ke telinga kirinya dan berujar.

"Semua beres!"

****
Sepanjang jalan, hujan terus saja mengguyur bumi dengan lebatnya. Setengah jam berkendaraan, pria itu akhirnya tiba di rumah dan pintu gerbang terbuka. Mobilnya melaju pelan dan membuka kaca untuk menyapa penjaga rumah yang nampak sedang berbincang.

"Malam, Den!" sapa penjaga tersebut menebar senyum sambil membenarkan kain sarung yang melilit di pinggangnya.

"Malam, Mang. Hati-hati sarung mlorot bisa kabur itu burung cap grandong!" sahutnya pelan dan dibalas kekehan olehnya serta seorang remaja pria yang kepalanya muncul dari jendela pos. Dia menutup kembali kaca mobil dan masuk ke parkiran di mana halaman luas terlihat dihiasi aneka pohon serta lampu yang meneranginya.

"Kak Edu makin klimis saja, ya, Pak!" seru putra penjaga rumah tersebut yang ngefans berat pada majikan ayahnya, Yogi Prayoga.

"Maklumlah, tiap hari jidatnya pakai minyak urang aring, makanya klimis!" sahut Mang Kasman asal.

"Ish, Bapak. Kak Edu mana iya pakai begituan. Itu mah Bapak yang suka pakai minyak jelantah bekas goreng jengkol buat ketek!" oceh Yogi membuka aib orang tuanya.

Kasman hanya terkekeh mendengar ocehan Yogi. Apa pun kejelekan Edu yang coba diutarakan Kasman, Yogi selalu menampiknya karena sudah menjadi fans Edu sejak pertama kali bertemu ketika usianya 10 tahun, dan masih awet hingga usianya 17 tahun kini. Bagaimana tidak, Yogi selalu mendapat jatah uang bulanan dari Edu dan sudah memenuhi rekeningnya.

Setelah memarkirkan mobilnya, pria yang tak lain adalah Eduro langsung mengangkat bayi perempuan yang dibaringkan di kursi sebelahnya dan telah tertidur. Dia terdiam sejenak dan menatap wajahnya yang begitu cantik serta tak terusik sedikit pun ketika Edu mengecup pipi tembemnya.

"Cantiknya anak Papa!" gumam Edu tersenyum dan memeluk erat bayi itu.

Edu membuka pintu mobil dan beruntung hujan mulai reda, lalu berjalam cepat menuju pintu. Tangannya memeluk erat dan melindungi tubuh bayi mungil itu dari tetesan hujan. Edu membuka pintu dan melihat lampu rumah yang masih menyala. Biasanya, jika lampu masih menyala artinya ada seseorang yang masih terjaga. Kakinya perlahan menuju tangga hingga sebuah suara menghentikan langkahnya.

"Dari mana jam segini baru pulang?" tanya seorang wanita dari arah ruang keluarga dan berjalan mendekat.

Mengenali suara yang memanggilnya, Edu memutar tubuh dan menatap seorang wanita paruh baya terhenyak menatapnya dengan kedua mata membulat. Edu menatap datar wanita yang tak lain adalah ibunya. Ibu yang melahirkannya 30 tahun lalu dan baru saja datang dari Jepang kemarin karena merindukannya. Thalia, itulah nama ibunya yang kini berjalan pelan mendekati Eduro yang bergeming dengan muka datarnya. Setibanya di hadapan Eduro, Thalia menatap sesuatu yang berada dalam gendongannya. Matanya menelisik tajam dari atas hingga bawah dengan kerlingan mata begitu cepat seolah meyakinkan pandangan matanya adalah nyata.

"Nyolong anak siapa kamu?"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status