LOGINRia itu memang rese, susah diatur. Keras kepala, semacam itulah dia. Tapi, di balik itu semua anaknya humble kok. Cuman kadang-kadang kalau lagi kumat bobroknya suka akut. Sama kayak sekarang dia bikin perut Erlan kram karena ketawa."Lan, tau gak? Kenapa Ana sama Elsa asalnya dari Norwegia.""Asalnya emang dari sana.""Salah.""Terus?""Kalau asalnya dari Arab namanya bukan Ana dan Elsa. Tapi, Ana dan Ente."Bom, Erlan ketawa terpingkal-pingkal mendengar jawaban Ria. Anak itu sudah mirip pelawak, kenapa gak jadi pelawak aja?"Ih ketawa, padahal aku gak ngelawak. Receh kamu!""Lah ngatur, purut!""Tau, ah! Aku badmood.""Oke pemirsa, Ria si rese dari planet mars badmood. Gak tau saya cara bujuknya.""Bujuk dicinta ular pun sampe.""Dih, gak gitu konsepnya."Ria diam saja, debat sama makhluk yang hobinya bikin kesel itu gak bisa buat mood balik, cuman
Hal paling meresahkan adalah mencoba melupakan perasaan terhadap seseorang yang hadirnya sudah cukup lama mengisi hari-hari yang hampa. Begitulah yang dirasakan Erlan saat ini, seberapa kuat pun dia melupakan gadisnya. Bukan, tapi sahabatnya itu justru membuat perasaannya semakin kuat terhadap Ria. Gadis manis yang memiliki tempat khusus di hatinya.Memang benar di antara persahabatan wanita dan laki-laki. Mustahil jika salah satu di antaranya tidak melibatkan perasaan.Membenarkan posisi duduknya Erlan menatap Ria. Gadis itu bengong saja, mungkin karena faktor lamanya tak bertemu alasan jarak membentang di antara mereka berdua."Ehem, ehem, Ri, pita suaramu gak hilang kan?" Entah keberanian dari mana, Erlan mulai membuka percakapan. Ala-ala orang batuk cool seperti iklan obat di tv yang dia lihat dikala waktu senggang."Bercanda kamu!" Pipi Ria sudah merah seperti tomat. Pipinya y