LOGINAnya menarik napas dalam-dalam. Lalu mengembuskannya lamat-lamat. Ia mengulanginya sekali lagi. Dan beberapa kali lagi. Sesekali ia mengintip ke dalam ruangan, dari kaca kecil di bagian tengah pintu. Aneh sekali rasanya, padahal beberapa waktu yang lalu, ia berlari kencang menuju ruangan ini. Sekarang ia terdiam saja di depan pintunya selama bermenit-menit.Ayo, Nya.It's gonna be okay. Anya mengulang-ngulang kalimat itu di kepalanya. Ia selalu merasa konsep bertemu dengan orang baru itu menyenangkan, namun pada realisasinya, ia seringkali menemukan dirinya berpikir terlalu lama terlebih dahulu. Apalagi menyadari fakta bahwa pertemuan kali ini adalah salah satu checkpoint pertama dalam kehidupan SMA-nya; ia percaya, takdir bisa berubah hanya karena satu keputusan. Mungkin hidupnya akan berubah setelah pertemuan ini. Ya... siapa tahu.Anya masih berpikir akan melakukan apa saat pintu terbuka nanti ketika tiba-tiba, sebuah tangan muncul dari balik
“Hari ini kenapa rasanya berat banget, ya…” Anya mengeluh. Ia mengemasi spidol satu persatu ke dalam kotak plastik. Koridor sudah mulai terdengar sepi, hanya ada suara bola disepak-sepak dan teriakan dari kejauhan. Piket bulanan sepulang sekolah kadang terasa menenangkan, meskipun sebenarnya, Anya bukan orang yang senang beres-beres.“Gara-gara bahasan nikah-nikahan ye, jadi pusing lu,” seloroh Ais santai. Pemuda itu sibuk menakar satu tutup botol karbol untuk dituangkannya ke dalam ember berisi air.“Sembarangan.” Anya tidak dapat menutupi bahwa ia sedikit pusing mendengarnya. Mereka memulai jam dengan bimbingan karier bersama guru BK, namun entah mengapa tiba-tiba kelas diakhiri dengan pembicaraan mengenai persiapan pranikah dan kiat memilih pasangan.“Nya, lu udah kepikiran mau nikah umur berapa?”Anya mengang