LOGIN
Rimba menggebrak pintu kamarnya dengan tidak sabar. Orang-orang yang dilewatinya seolah menjadi tak kasatmata. Arah fokus kedua netranya tertumpu pada sebuah pintu di ujung lorong lantai dua. Suara sepatu yang dikenakannya seolah menggema ke seluruh ruangan di dalam rumah terbesar pada kompleks perumahan Pearlove Luxury House.“Ma! Lihat cincin Rimba enggak?” tanyanya dengan suara yang menggaung di dalam sebuah ruangan yang luasnya dua kali lipat dari kamar Rimba sendiri.Tiga orang perempuan di dalam ruangan itu seraya menoleh. Melemparkan tatapan penuh keheranan dengan kompak. Perempuan yang sedang duduk di depan sebuah meja rias menyahut, “Cincin apa?”Rimba memutar kedua bola matanya. Mengurut dada dengan sabar untuk menghadapi pertanyaan dari perempuan yang tidak lain adalah nyonya besar keluarga Hiresha alias ibunya sendiri.“Cincin pernikahan Rimba, Ma. Cincin itu hilang,” jawab Rimba setengah panik. Sepatu