LOGINDarren Criss Light, pria tampan dan sexy berdarah Amerika, seorang single parent. Di usianya yang sudah menginjak kepala tiga, Darren memiliki seorang putra tampan seperti dirinya. Tak hanya tampan bocah cilik berusia 8 tahun itu juga dianugerahi otak jenius. Cleo Eileen Light, di usianya yang masih bocah memiliki pemikiran dan tingkah seperti orang dewasa. Darren tidak pernah tunduk pada dunia, tapi tidak dengan Cleo. Dia akan menuruti apa saja kemauan putra semata wayangnya termasuk membuat seorang Aurora Borealis Queen jatuh ke pelukannya. Darren terpaksa harus berjuang mendapatkan Aurora demi memenuhi keinginan Cleo. Aurora Borealis Queen wanita cantik bak Barbie, keras kepala, urak-urakan dan yang paling penting sangat tidak menyukai anak kecil. Tiba-tiba Darren Criss Light, seorang duda taman dan pengusaha kaya raya menawarkan sesuatu hal yang tidak pernah terbayangkan oleh Aurora sepanjang hidupnya, yaitu pernikahan kontrak. Kisah perjuangan Darren untuk mendapatkan Aurora demi putranya Cleo. "Dad, I want Aurora to be my mom. Marry with her!" "What?!"
View MoreAurora menatap nanar gedung putih yang dulu pernah tempatnya bernaung. Tidak ada lagi bangunan kecil dan sempit itu disana, semua telah hancur meninggalkan kepingan-kepingan yang menyakitkan. Satu per satu air mata lolos tak lagi bisa tertahan, rumah kecil yang dulu penuh tawa dan kebahagian saat ini telah menjadi abu, hancur bersama kenangan."Ibu sebenarnya apa yang terjadi? Katakan padaku, siapa yang melakukan ini semua." nada getir bercampur emosi terlontar dari bibir Aurora. Ingin rasanya dia membunuh manusia yang dengan tega membakar panti asuhan itu."Ibu juga tidak tahu Aurora, tadi malam ada rombongan pria berjas menemui ibu. Seorang pria bernama Daniel mengatakan pada ibu bahwa lahan ini sudah menjadi milik tuan Light, jadi terpaksa ibu dan anak-anak harus meninggalkan panti ini pagi tadi." tangis ibu Amira si pemilik panti pecah, tak pernah terbayang
"Apa maksudmu?" Aurora meremas kuat jemarinya menahan sekuat tenaga emosi yang mulai terusik."Aku rasa kau bukan wanita bodoh yang sulit mencerna perkataan ku." Darren tersenyum miring melihat reaksi yang diberikan Aurora."Daddy! What are you talking about?!" Cleo langsung berdiri di hadapan Aurora seperti tameng yang melindungi miliknya dari bahaya."Diam little boy, ini urusan orang dewasa." Darren menatap benci Aurora yang dengan mudahnya mendapatkan pembelaan dari putra kesayangannya."Menyingkir dariku, aku tidak butuh pembelaan mu." ujar Aurora menunduk membuat pandangan mereka bertemu ketika Cleo juga mengangkat wajahnya."Mommy... apa kau marah padaku?" suara Cleo
Terlihat mobil mewah berwarna silver berhenti di tempat parkir minimalis. Darren melangkah memasuki sebuah kafe sederhana diikuti para bodyguardnya. Tak lupa, tangannya menggenggam sebuah tangan mungil sebesar kepalan, yang juga turut serta menemani kunjungan Darren malam ini.Daddy, smile please." Cleo memberi protes melihat raut wajah Darren yang menakutkan."No need to smile little boy. Let's go." Darren berujar santai, membawa Cleo dalam gendongannya. Dia tidak memiliki sabar menunggu Cleo berjalan yang seperti bebek."I hate you!" Cleo menggigit pelan bahu Darren ketika keinginannya tidak dipenuhi."But I love you." Darren terkekeh pelan melihat aksi pembelaan Cleo. Dia sama sekali tidak merasakan sakit dipundaknya.Cleo memberenggut marah, dia langsung menenggel
Cleo berlari memasuki rumah tanpa menghiraukan sapaan hormat para pelayan yang sudah berdiri di ambang pintu. Perdebatan Cleo dengan Darren sama sekali tidak menemui titik tengah, Darren tetap mempertahankan egonya untuk tidak menikahi wanita manapun sementara Cleo juga masih kukuh dengan keinginannya. Kedua ayah dan anak itu tak hanya serupa akan rupa tapi juga sifat."Little boy, tunggu Daddy dulu." Darren berlari kecil berusaha menyamai langkah Cleo yang sudah berada di gundukan tangga."No Daddy! Don't talk to me. I am mad at you." seru Cleo tetap melanjutkan langkahnya.Darren menghela nafas putus asa, kebiasaan Cleo jika keinginannya tidak dipenuhi maka bocah kecil itu akan terus merajuk. Tangan Darren bergerak menyugar rambutnya kebelakang, entah angin apa yang membuat Cleo menginginkan hal mustahil it