LOGINAku abu sekarang, yang siap dihembuskan kemana pun oleh angin. Aku marah kepada Sang Maha Kuasa, doa setiap malam aku elukan, doa setiap hembusan napas. Dia tidak mau mendengarku ... Kenangan dan harapan egois semacam itu terus menyiksa dan membalut hati dalam satu waktu. Barangkali aku memang kurang menerima kenyataan, barangkali aku belum cukup menerima takdir. Yang aku cintai pada akhirnya akan hanya bisa mengenang. Kenangan dengan harapan semu, kenangan yang berusaha aku gapai dan aku sentuh. Bagaimana mungkin aku bisa bertahan dengan perasaan pilu dibaluti duka? Pada akhirnya bintang yang aku genggaman sudah mati. Meredup. Lenyap. Jika Allah memberi satu kesempatan, aku akan merengkuh tubuhmu dan memaafkanmu.
View More“Jawab, Gavin! Apa itu semua benar?!” desak Mama Sarah, menuntut penjelasan dari Gavin. Wanita itu sama sekali tidak percaya dengan kelakuan putra semata wayangnya. “Kamu punya mulut, Vin. Cepat katakan!”Gavin tidak berani melihat wajah Mamanya yang kini sedang marah kepadanya. “Aku tidak tau, Ma,” jawab Gavin sangat pelan dan lirih.“Ayo katakan Mas. Anak di rahimku adalah darah dagingmu,” ucap Malya mulai mengompori dan mendesak Gavin supaya mengatakan, anak di rahimnya yakni hasil hubungan Gavin dengan Malya.
Setelah dua minggu lebih lamanya merawat Gavin yang beberapa hari baru berjuang mendapatkan dirinya kembali sampai kejadian kecelakaan Gavin. Liat, bagaimana keadaan fisik Calisa sekarang. Begitu menyedihkan, pipi terlihat tampak tirus, kantung mata lebar, sorotan mata lelah, wajahnya pucat dan tidak secerah seperti sediakala.Namun, Calisa tidak mempermasalahkan itu. Dia tidak pernah mengeluh, dia tidak pernah menyesal jika harus merawat Gavin. Hatinya selalu mengatakan bahwa ada cinta yang besar untuk Gavin. Hebatnya, senyum tanpa cela masih tergambar di wajah Calisa sepanjang waktu. Seperti tidak ada rasa lelah sedikit pun. Calisa tau, merawat suaminya adalah kewajiban seorang istri.
Tadi pagi dia mendapatkan kabar dari Mama Sarah bahwa Gavin telah sadar dari tidur panjangnya, walaupun keadaan masih lemah. Antara senang dan terharu mendengar berita baik itu. Calisa tidak mau menyiakan waktu, dia segera berangkat ke rumah sakit. Dengan tangan gemetaran, Calisa membuka handel pintu. Matanya langsung tertuju pada Gavin yang masih berbaring di ranjang pesakitan.“Anda keluarganya Pak Gavin?” tanya seorang Dokter muda yang baru saja mengecek keadaan Gavin, ditemani perawat. Dokter itu menggunakan kemeja putih panjang dan stetoskop menggantung di leher membuat tampang dokter benar-benar profesional. Stetoskop sebuahalatmedis akustik untuk memeriksa suara dalam tubuh, banyakdigunakanuntuk mend
Calisa sudah berada di ruang ICU, setelah Gavin dioperasi hampir enam jam. Semalam Calisa tidak bisa tidur, dia kalut luar biasa mengetahui Gavin tertabrak mobil dan keadaan parah sampai harus dioperasi segala. Mata Calisa entah sejak kapan sudah basah karena air mata, wanita itu mengigit bibir menahan luka saat melihat Gavin terbujur tak berdaya di atas tempat tidur rumah sakit.Kondisi Gavin menggenaskan, kepalanya dan tangannya harus diperban karena luka akibat benturan badan mobil depan dan benturan aspal waktu kecelakaannya. Kabel elektroda terpasang di dada Gavin yang menghubungkan langsung ke layar monitor di samping tempat tidur.