LOGIN"Nasib itu tidak lebih dari sepenggal kekusutan yang menghambat langkah menuju kebahagiaan. Jika aku tahu segila ini, mungkin aku tidak akan membiarkan riuh-riuh itu merajalela dalam ceritaku.” – Sean Varza—Sean menatap fokus pada layar laptop di mana menampilkan foto seorang lelaki tampan berperawakan tinggi serta memiliki wajah blasteran, sedikit berbeda dengan dirinya yang lebih ke Asia karena memang sang papa asli Indonesia tepatnya dari Medan, sedang sang mama memiliki garis keturunan Tionghoa walau berasal dari kota yang sama. Namun, ketampanan Sean tidak bisa dipandang sebelah mata, jika pernah melihat Kim Seokjin maka bayangkan saja, mereka tidak jauh berbeda. You know? Bahu lebar, bibir tebal yang menggoda, hidung mancung dan ditambah mata onix yang tajam.Yang melihatnya akan meleleh seketika.Lupakan!“Sepertinya,” Sean menggigit bibir bawahnya, “permai
Sean menggeram tertahan lantaran menyaksikan adik satu-satunya mengenakan rok seragam sekolah sebatas paha, menampilkan kulit mulus tanpa cacat sedikit pun. Sean ingin sekali mengomeli Joana pagi ini, menyuruh mengganti ke seragam yang lebih sopan, tetapi ia urungkan lantaran melihat binar bahagia di mata sang adik. Sean tidak ingin menghancurkan mood si bungsu dan juga tidak ingin memulai hari dengan buruk.Untuk hari ini, ia akan memberi kelonggaran, tetapi tidak lain kali! Adiknya bukan barang pajangan yang bebas dilihat dan disentuh oleh siapa saja.“Pagi, Abang.” Joana mengecup pipi Sean dengan lembut sembari tersenyum. Lantas duduk di kursi kosong.Joana menghela napas pelan saat Mbok Rahma memberikan roti berisi selai stroberi dan susu hangat. Joana tidak suka aroma dan rasa stroberi, tetapi ia tidak punya pilihan lain selain menikmati. Kata Sean, itu adalah buah kesukaan Joana, tetapi Joana merasa itu adalah buah yang paling ia
“Aku hamil!”Sean terbangun dari tidurnya dengan napas memburu bersamaan dengan kristal bening yang mengalir dari sudut mata. Mimpi yang sama dengan kalimat yang sama selalu datang tiap ia terlelap. Mimpi yang menghantuinya sejak setahun lalu!Wajah gadis cantik di mimpinya itu tidak berubah sama sekali, pucat! Rambut berantakan, daster warna biru langit yang bercampur dengan bercak merah menandakan jika si bidadari berada dalam kekelaman dunia. Tangan memegang pisau sembari terduduk di lantai bersandar pada lemari kayu.“Argh!” Sean mengusap wajah frustrasi. Di sudut hati banyak hal yang ia rasakan. Amarah, kebencian, kekecewaan dan rasa bersalah bercampur menjadi satu, menghantam tanpa ampun, hingga untuk bergerak dari poros hidup yang sudah ia bentuk sejak dulu terlalu sulit.Sean telah terluka sedalam samudera!“Tuan.” Sean mengatur ekspresi saat Mbok Rahma masuk ke dalam kamarnya yang ti