LOGIN
Chandani tengah berdiri didekat sebuah kamar pas didalam sebuah butik. Meski tirainya hanya terbuka sedikit, tapi ia dapat melihat dengan jelas ke dalam. Mata menyala, tangan mengepal kuat, airmata kekecewaan luruh membasahi pipinya yang merah merona. Dadanya terasa sesak, terasa ada beban berat menekan di dada. Kasedihan mendalam tengah dirasakan, ia membekap mulut agar tak mengeluarkan suara tangis pilu."Astagfirullah, ma," ucapnya lirih sembari menggeretakan gigi. Ia mengelus dada lalu menghela nafas teratur beberapa kali mencoba mengendalikan amarah. Ia mengumpat kedua orang gila itu dalam hati dengan tubuh yang mulai bergetar.Hatinya terasa dicabik dan ditarik paksa dari uluhati, kala melihat sang ibu yang selama ini ia banggakan tengah bercumbu mesra dengan sorang pria muda."Kenapa mama tega ngelakuin ini ke papa?" tanyanya pelan. Suaranya tak dapat terdengar oleh siapa pun.