LOGINPerjalanan waktu sang jenderal ke masa depan mempertemukan dia gadis yang menjadi cinta sejatinya. Namun rentang waktu malah memisahkan mereka. Sang gadis kini ke masa lalu untuk menegaskan lagi kisah cinta mereka
View MoreShenling tetap diam dalam perjalanan pulang dari rumah sakit. Berbagai pikiran bercabang dalam benak gadis itu. Dia tidak menyangka Leewan berencana untuk melamar. Bukannya dia tidak suka, hanya saja dirinya tidak tahu bagaimana nanti jika Leewan menghilang. Bagaimana dia harus mengatasi rasa kehilangan tersebut? Begitu banyak keraguan yang menghantui diri. Namun, di sisi lain, dia juga senang, perasaan Leewan ternyata tulus padanya. Pemuda itu bersungguh-sungguh dengan hubungan mereka, bahkan berniat melamarnya. "Kenapa wajahmu muram seperti itu setelah aku melamarmu?" tanya Leewan. Suasana sore itu tampak indah dengan bunga-bunga sakura yang menjatuhkan kelopaknya di sepanjang jalan. Mereka tampak seperti rintik salju yang tengah bertaburan mewarnai hari. "Kenapa kau tidak terlihat bahagia? Apa kau tidak benar-benar mencintaiku?" tanya pemuda itu lagi saat melihat gadis tersebut hanya diam men
Shenling diam terpaku. Suasana di sekeliling yang semula ramai seolah berubah sunyi. Orang-orang menghilang dan waktu seperti terhenti. Di tengah keramaian, mereka seolah hanya berdua. Larut dalam bius rasa yang membuat jantung berdetak keras oleh gairah. Leewan tersenyum saat mengakhiri ciuman. Dia lalu meraih tangan gadis dan mengajak pergi. Shenling hanya menurut dalam diam. Mereka tiba di sebuah danau buatan yang dihiasi oleh lampu-lampu mungil sebagai penerangan. Sebuah jembatan yang telah dihias dengan meriah juga terdapat di sana. Perahu-perahu mungil beraneka warna tampak melintas tidak jauh dari tempat Shenling dan Leewan berdiri. "Aku tidak menyangka tempat seperti ini juga masih ada di jaman sekarang. Suasana tempat ini benar-benar membuatku teringat pada masa lalu. Dulu festival seperti ini selalu diadakan setiap malam tahun baru. Kami, para prajurit kerajaan, bahkan hampir tidak pernah bisa m
"Chenyang, kau sedang apa?" tanya Shenling sambil bergegas menghampiri sahabatnya itu. Dua gadis berkulit kuning langsat tersebut tampak manis dengan seragam sekolah mereka. "Diamlah di situ!" perintah Chenyang. "Kenapa? Aku mencarimu dari tadi. Jam pelajaran akan segera dimulai." "Ih, kau ini. Kusuruh diam juga masih aja nyerocos. Nih, rasain," ujar Chenyang sambil mengoles krim kue ke pipi sahabatnya itu. "Kamu tuh apaan sih. Jadi kotor 'kan?" gerutu Shenling sambil membersihkan wajahnya. "Kamu lupa lagi. Setiap tahun kamu selalu lupa," balas Chenyang. Shenling mengerutkan kening sambil menatap sahabatnya. "Sia-sia sudah aku membeli kue tar untukmu, sedang kau sendiri malah tidak ingat." "Apa maksudmu?" "Sahabatku, kau lupa hari ini hari apa?" "Hari Rabu. Tunggu sebentar, apa
Shenling mendesah pelan seraya menatap langit di luar rumah yang tampak gelap karena mendung tebal. Lagi-lagi di malam hari, purnama dan bintang masih saja bersembunyi di peraduannya. Shenling berdiri diam sambil bersidekap. Ingatannya selalu melayang pada sosok Leewan. Entah mengapa begitu susah menghapus bayangan pada sosok itu? Padahal dulu dengan begitu mudah, dia menghapus kenangan akan Yanche meski hatinya juga tetap merasa sakit. Hanya saja perasaan yang dia miliki kepada Leewan memang lebih dalam. 'Mungkin karena aku tidak pernah benar-benar mencintai Yanche,' ujarnya dalam hati. Shenling masih mengingat jelas betapa dulu Yanche terus saja berusaha mengejar-ngejar dirinya. Setumpuk hadiah dan karangan bunga mawar merah muda selalu saja tidak pernah terlambat datang. Akan tetapi, yang membuat Shenling mau menerima cinta Yanche adalah perhatian pemuda itu kepada sang ayah. Selama beliau


![PERFECT HUSBAND [INDONESIA]](/pcdist/src/assets/images/book/43949cad-default_cover.png)


